logo

Oknum Polisi Yang Tangkap Charles Lubis Lebay

Oknum Polisi Yang Tangkap Charles Lubis Lebay

Mohamad Taufik saat beri penjeladan kepada wartawan di Kantor Seknas, Selasa (16/4/2019).
16 April 2019 15:18 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ketua Seketariat Nasional (Seknas) pemenangan capres -cawapres Prabowo Subianuo-Sandiaga Salahudin Uno, Mohamad Taufik menegaskan oknum aparat kepolisian yang mengamankan Charles Lubis berlebihan alias lebay.

Sebab, uang yang dibagikan Charles Lubis  kepada  80 orang koordinator saksi itu bukan untuk money politic atau politik uang jelang pemilu serentar, Rabu (17/4/2019).

"Uang yang dibagikan pak Charles Lubis  di depan posko   saya di Tanjungpriok itu  sebagai ongkos politik. Uang transport para koordinator saksi di tingkat RW," kata M Taufik kepada wartawan.

"Bukan Bawaslu, maksud saya bukan bawaslu yang menangkap, melainkan itu polisi (yang OTT)," ujar Taufik di Seknas, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (16/4/2019).

Taufik mengungkapkan, perihal kejadian tersebut adalah kesalah pahaman. Dirinya mengakui bahwa pria yang ditangkap merupakan bagian dari timnya yang bertugas mengumpulkan saksi yang akan berjaga di TPS.

"Begini ceritanya, dia itu (orang yang ditangkap) bertugas ngumpulin koordinator saksi, koordinator  tingkat RW namanya, untuk bagiin mandat saksi. Itu kan ongkos politiknya, memang saksi kita kasih duit teansport, koordinator memang kita kasih ongkos, terus apa yang salah?" tuturTaufik.

"Masalah ini sudah selesai. Saya udah telepon Ketua Bawaslu, saya ceritakan semuanya, dan Ketua Bawaslu mengakui ada kesalahan dan dikatakan pihaknya salah," tutur Taufik.

Untuk diketahui sebelumnya, seorang pria terjaring operasi tangkap tangan (OTT) di depan rumah pemenangan Mohamad Taufik. Saat OTT, petugas mengamankan amplop yang diduga digunakan untuk politik uang.

"Ya dugaannya gitu karena di sana mau ada rencana kegiatan, barang buktinya sudah ada berupa amplop. Amplop warna putih. Tapi isinya berapa kita belum tahu," ucap Ketua Bawaslu DKI Jakarta Utara M Dimyati di kantornya.

Editor : Yon Parjiyono