logo

Wayang Golek Betawi Atraktif, Pepadi DKI Dukung Kelestariannya

Wayang Golek Betawi Atraktif, Pepadi DKI Dukung Kelestariannya

16 April 2019 05:06 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA:   Wayang Golek Lenong Betawi yang dibawakan dalang Reza Purbaya cukup atraktif dengan teknik yang disuguhkan. Karena itu Pepadi DKI Jakarta terus  mendorong untuk kelestariannya.

Demikian dikatakan Ketua II Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) DKI Jakarta Sumardi S.Sos di Jakarta , Senin (15/4/2019).

"Saya memberikan dukungan kepada Bang Reza Purbaya sebagai generasi penerus dalang wayang golek Lenong Betawi. Karena Pepadi DKI Jakarta juga termasuk pembina kesenian Wayang Golek Lenong Betawi ini. Semoga tetap eksis dan berkembang maju," kata Sumardi.

Selanjutnya  Sumardi yang juga  Kepala Satuan Pelayanan Museum Wayang ini menjelaskan, banyak cerita  legenda maupun cerita nyata terkait toponimi atau asal  usul nama tempat yang diangkat sebagai cerita wayang golek Betawi.

"Contohnya Si Manis Jembatan Ancol, Si Mirah Singa Betina dari Marunda, Pangeran Codet atau Geger Polong, Tong Gendut, Pangeran Astawana yang konon ada sejarah Rumah Adat Betawi di Balekambang dan Batu Ampar, dan  banyak cerita yang  lainnya," ujarnya.

Diharapkan dengan begitu  Wayang Golek  Betawi semakin digemari masyarakat.

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Esti Utami juga mengakui pihaknya mendorong dalang dalang muda untuk inovatif.  "Hampir semua dalang muda yang mengikuti festival selalu menampilkan inovasi teknik baru. Kalau tidak akan kehilangan penontonnya yang diharapkan generasi muda," kata Esti.

Dalang Reza Purbaya hari Minggu (14/4/2019) menggelar wayang golek Betawi di auditorium Museum Wayang  dengan cerita Pembalasan Si Jampang.  Ketika di akhir cerita Jampang membakar rumah judi , terlihat asap tebal keluar dari rumah tersebut dengan efek kobaran api yang merah. 

Penonton antara lain Umi Kinanthi dari Duren Sawit Jakarta Timur dan tamunya Esti Utami Purnomo dari Surabaya mengakui teknisnya bagus.

Asmadi warga Tamansari, Jakarta Barat yang menonton dari awal menyatakan senang cerita Si Jampang tersebut. 

Reza Purbaya mengakui teknik kebakaran rumah  judi itu berkat bantuan crew dan asistennya. 

"Saya memang mendapat dorongan dari Pak Mardi untuk tampil mendalang. Saya diberi waktu setahun setelah ayah meninggal 23 April 2015 yang silam," tutur Reza teringat ayah yang juga gurunya dalam mendalang yaitu almarhum Tizar Purbaya.

Menurut Reza, ayahmya mempersiapkan wayang golek Lenong Betawi sejak tahun 1999. Tahun 2000 mulai dipergelarkan dengan cerita cerita dan dialog bahasa Betawi. Iringan musiknyapun gambang kromong , bukan gamelan Sunda ataupun Jawa. 

"Pertama digelar wayang golek Betawi oleh ayah didepan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso tahun 2001 di Galangan VOC Jakarta Utara. Waktu itu saya masih sekolah SMA dan menjadi asisten ayah," kenang Reza Purbaya.

Dengan dukungan Pepadi DKI Jakarta dan Disparbud DKI melalui Museum Wayang , Reza bertekad meneruskan wayang goleknya dengan inovasi dan teknik baru agar digemari generasi muda. 

"Crew dan asisten kami hampir  semua anak muda. Ada juga yang sudah tua dan berpengalaman," ujar putra bungsu Tizar Purbaya Almarhum ini.

Sejak tahun 2016  Reza Purbaya mendalang pertama kali di Museum Wayang. Setelah itu ia dan crew serta asistennya berkali kali menggelar wayang golek Betawi di Jabodetabek. Sekali main di Surabaya tahun lalu. 

"Waktu musim kampanye  juga pernah ditanggap main oleh simpatisan Paslon 02 maupun 01 dengan cerita sesuai permintaan pemesan. Tempatnya dua duanya di Jakarta Pusat, selisih waktunya sekitar 10 hari, " katanya.  ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto