logo

Pilpres 2019: Jangan Curang!

Pilpres 2019: Jangan Curang!

16 April 2019 03:44 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa

Pemilihan Presiden 2019 merupakan ajang pertarungan untuk mempertahankan dan merebut kekuasaan. Joko Widodo sebagai petahana berjuang untuk mempertahankan kekuasaannya yang diraih bersama Wakil Presiden M Jusuf Kalla. Kini Jokowi berusaha mempertahankan kekuasaannya untuk periode yang kedua bersama duet barunya Ma’ruf Amin. Di pihak lain Prabowo Subianto kembali tampil sebagai penantang untuk merebut kekuasaan. Setelah lima tahun lalu gagal bersama Hatta Rajasa maka kini dia berjuang bersama tokoh muda enerjik Sandiaga Salahuddin Uno. Bagaimana hasilnya?

Dalam dunia olahraga ada kata-kata bijak buat sang juara bertahan. Mempertahankan lebih berat dari merebut. Namun bukan berarti jalan akan mudah bagi sang penantang. Selagi para petarung sama-sama siap dan tangguh maka pertarungan akan berlangsung ketat dan menegangkan.

Suasana inilah yang kini terjadi dalam Pilpres 2019. Baik kubu Jokowi maupun Prabowo sama-sama mengklaim memiliki kekuatan yang besar dan solid. Suasana persaingan ketat ini tercermin dari unjuk kekuatan massa dan juga pendukung lainnya dalam masa kampanye selama delapan bulan ini. Masing-masing kubu menyatakan mampu meraih jutaan pendukung yang siap memilih. Kedua kubu juga menambah perang urat syaraf dengan mengaku sebagai pemenang dalam setiap debat capres/cawapres. Klaim mereka juga diperkuat dengan berpatokan pada hasil survei beberapa lembaga survei yang muncul bak jamur di musim hujan setiap pesta demokrasi digelar.

Panasnya persaingan antara mempertahankan dan merebut kursi RI 1 juga bertambah seru dengan antusiasnya rakyat Indonesia berperan serta dalam rangkaian acara perhelatan akbar nasional lima tahunan ini sebelum sampai ke hari puncak pencoblosan, Rabu, 17 April 2019. Gairah masyarakat muncul di seluruh Tanah Air untuk menghadiri kampanye yang dilakukan kubu Jokowi dengan barisan Tim Kampanye Nasional (TKN) 01 maupun pihak Prabowo dengan pasukan Badan Pemenasan Nasional (BPN) 02. Kemudian di media massa maupun media sosial berita dan komentar tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing jagoan terus mengalir. Saking panasnya persaingan, ahli penyebar hoax juga ikut bermain mengail di air keruh.

Setelah kampenye berakhir, prediksi ketatnya persaingan untuk meraih kemenangan juga tercermin dari tahapan awal pemilu yang sudah dilaksanakan di luar negeri. Masyarakat Indonesia di manca negara yang mempunyai hak pilih berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) yang ada di negeri orang. Massa membludak pada saat hari pemilihan.

Sungguh menggembirakan, meskipun persaingan berlangsung ketat dan suasana sempat memanas namun tidak sampai menimbulkan gejolak yang mengganggu keamanan. Hampir tidak ada kejadan besar yang sampai mengguncang dan menghambat pelaksanaan kampanye. Sebuah tanda yang membuktikan rakyat Indonesia sudah makin dewasa dalam melaksanakan pesta demokrasi. Pilihan boleh beda dan dukungan boleh keras namun hati masing-masing tetap terjaga untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan serta kedamaian.

Kondisi kondusif masyarakat ini tentu harus bisa dipertahankan saat dan sesudah hari pemilihan. Aparat Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Republik Indonesia perlu terus waspada menjaga keamanan dengan sikap netral. Tidak memihak salah kubu dalam mengamankan dan menindak. Kepentingan bangsa dan negara harus menjadi patokan dan tujuan utama sehingga Pilpres 2019 tidak mengoyak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sikap netral senetralnya juga perlu ditunjukkan dan dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat maupun jajarannya di seluruh Indonesia. KPU harus menjaga proses pemilihan dan penghitungan suara serta pengumuman pemenang bebas dari kecurangan. Ini untuk mendapatkan pemenang yang benar-benar sesuai dengan keinginan rakyat. KPU perlu mengawal kekuasaan rakyat ini dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.

Mengingat ketatnya persaingan dan besarnya gairah masyarakat pada Pilpres 2019 ini maka jangan dibiarkan ada pihak yang menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Termasuk menerapkan kecurangan yang dilakukan secara sistematis. Peringatan jangan curang ini perlu terus digaungkan mengingat klaim adanya kecurangan ini sudah menggema jauh-jauh hari termasuk juga dengan munculnya geger kartu suara yang sudah tercoblos sebelum pemilihan di Malaysia.

Antusiasme rakyat untuk berpartisipasi dalam Pilpres kali ini dan keinginan rakyat untuk mendapatkan pemimpin yang mampu membawa Indonesia kepada kondisi lebih baik lagi di segala bidang kehidupan jangan sampai terpatahkan apalagi ternoda oleh kecurangan. Hak bahkan kekuasaa rakyat jangan sampai dikebiri dan dipermainkan oleh nafsu segelintir orang yang haus kekuasaan. Juara bertahan tetap bisa mempertahankan singgasananya ataukan sang penantang mampu merebut singgasana nanti itu harus draih melalui perjuang yang fair play.Bersih dari kecurangan.

Era reformasi yang bergulir sejak tahun 1998 akan semakin indah bila mampu melahirkan pemimpin yang taat pada rule of the game sesuai dengan jiwa demokrasi Pancasila. Bukan pemimpin yang mempertahankan atau merebut kekuasaan dengan cara-cara seperti yang digariskan ahli sejarah dan negarawan Italia, Nicolo Machiavelli. Indonesia jangan sampai dipimpin oleh pemimpin yang  mengahalkan segala cara dengan mengabaikan moral.

Rakyat Indonesia tentu tidak ingin memiliki pemimpin seperti yang dilukiskan Niccolo Maciavelli dalam bukunya II Principe. Pemimpin  haruslah mempunyai sifat-sifat seperti kancil dan singa. Dia harus menjadi kancil untuk mencari lubang jaring dan menjadi singa untuk mengejutkan serigala. Pemimpin negara harus memiliki sifat-sifat cerdik pandai dan licin seibarat seekor kancil, akan tetapi harus pula memiliki sifat-sifat yang kejam dan tangan besi seibarat singa. ***

* Gungde Ariwangsa – wartawan suarakarya.id, pemegang Kartu UKW Utama

Editor : Gungde Ariwangsa SH