logo

Bedah Buku KTNA: Cara Efisien Tingkatkan Produktivitas dan Untungkan Petani

Bedah Buku KTNA: Cara Efisien Tingkatkan Produktivitas dan Untungkan Petani

Bedah buku KTNA "Pertanian Presisi Untuk Mensejahterakan Petani", di Jakarta, Senin (15/4/2019)
15 April 2019 16:46 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Pertanian presisi dapat meningkatkan hasil berkali lipat. Dengan penguasaan lahan yang sempit sekalipun melalui teknologi presisi, petani bisa meraup untung lebih banyak dari usaha taninya. 

Pertanian presisi (precision farming) dapat meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus meningkatkan produktivitasnya.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir saat peluncuran bukunya yang berjudul "Pertanian Presisi Untuk Mensejahterakan Petani", di Jakarta, Senin (15/4/2019). Buku setebal 424 ini mendapatkan kata pengantar dari Mentan Amran Sulaiman.

Winarni menyebutkan, negara yang sudah berhasil menerapkan teknologi pertanian presisi adalah Belanda, Singapura dan Israel.

"Belanda yang lahan pertaniannya jauh lebih sempit dibanding AS, dengan menerapkan teknologi pertanian presisi bisa menjadi pengekspor pangan kedua di dunia," ujarnya.

Winarno menjelaskan spirit pertanian presisi adalah meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan ramah lingkungan.

Meningkatnya efisiensi dan produktivitas, diharapkan dapat meningkatkan keuntungan petani. Dengan ramah lingkungan maka keuntungan itu berlanjut terus-menerus selama masa bertani. "Jadi, dengan menerapkan pertanian presisi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani," kata dia.

Pengamat ekonomi pertanian, Bayu Krisnamurthi menyebut buku ini tidak hanya memaparkan usaha tani presisi (precision farming) yang meliputi penyemaian sampai dengan pemanenan padi, tetapi juga memaparkan pascapanen berupa pengeringan, penyimpanan, dan penggilingan gabah, serta penyimpanan beras. "Inti buku ini ada di halaman 12," ujarnya.

Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih juga memberikan komentar tentang buku yang dia sebut sangat bagus ini. "Precision agriculture merupakan sinergi usaha tani presisi dan pascapanen presisi. Inilah disebut dengan pertanian presisi," katanya.

Winarno menyebutkan, dalam pertanian presisi, setiap keputusan proses pertanian harus berdasarkan informasi yang akurat. Di sini diperlukan peran teknologi informasi dan komunikasi untuk mengumpulkan, memroses, dan menganalisis informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan. 

Data dan informasi yang dikumpulkan antara lain lahan pertanian, bibit, kandungan hara tanah, saluran irigasi, prediksi cuaca, data banjir, kebutuhan air tanaman, serta serangan hama dan penyakit.

Dengan teknologi Global Positioning System (GPS) dan Geographic Information System (GIS), kita bisa menentukan karakteristik spesifik lokasi. Data GPS menekankan pada ketepatan posisi suatu lahan sementara GIS pada geografi atau karakteristik tanah dan lain-lain. Dari data GPS dan GIS ini dapat diketahui karakteristik lahan di suatu lokasi dengan lokasi lainnya. "Meski satu hamparan belum tentu karakteristik lahan itu sama, di sinilah pentingnya pertanian presisi," tambahnya.

Dengan teknologi sensor dan Internet of Things (IoT), kita bisa mendapatkan informasi ketersediaan hara tanah, pH tanah, kelembapan tanah, kandungan air tanah, data suhu dan curah hujan, cuaca dan iklim, kebutuhan air tanaman, kebutuhan hara tanaman, dan sebagainya. 

Dengan drone, kita bisa mendapatkan informasi tanaman yang terkena hama dan penyakit. Dengan bantuan teknologi microcontroler yang dipasang pada alat sensor, semua data lapangan yang diperoleh dapat dikirim ke server penyimpanan dan pengolahan data melalui internet. 

Data lapangan ini diolah dengan perangkat lunak tertentu agar menjadi informasi yang bisa digunakan kapan dan di mana saja untuk mengambil keputusan dalam aktivitas pertanian.

Tetapi pertanian presisi saja belum cukup untuk mensejahterakan petani. Untuk itu diperlukan juga laporan tanaman prospektif yang menginformasikan prospek komoditas setiap awal tahun seperti yang dilakukan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Data ini dapat memberikan gambaran seberapa jauh peningkatan harga komoditas  pada tahun berjalan.

Berdasarkan prospek harga dan dikombinasi dengan penerapan pertanian presisi, petani dapat menghitung secara simulasi, berapa keuntungan yang bakal diperoleh sebelum menanam suatu komoditas. Tanaman jenis apa yang sebaiknya ditanam sesuai dengan kebutuhan pasar sehingga harga jualnya relatif tinggi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Winarno mengingatkan pertanian presisi jangan dikesankan sebagai pertanian yang selalu menggunakan teknologi canggih yang menelan investasi besar, baik investasi publik maupun investasi swasta. Dalam mendapatkan informasi untuk mengambil keputusan dalam usaha tani dan pascapanen, dapat menggunakan teknologi yang tersedia pada saat ini. Tidak harus dengan teknologi yang piawai.

Misalnya untuk menentukan kapan mulai tanam, petani dapat berpedoman pada Kalender Tanam (Katam). Untuk mengetahui keadaan cuaca dan iklim, petani bisa mengakses informasi yang disajikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Bahkan melalui Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan, BMKG sudah melaksanakan Sekolah Lapangan Iklim (SLI).

Pembajakan dan penggaruan tanah bisa dilakukan dengan traktor dan bajak yang tersedia pada saat ini. Begitu juga dengan takaran pemberian biodekomposer, pupuk organik, ataupun pupuk hayati. Jarak tanam bisa mengadopsi sistem jajar legowo.

Sedangkan, manajemen air menggunakan metode macak-macak seperti dilakukan pada System of Rice Intensification (SRI). 

Dalam penggunaan benih untuk spesifik lokasi, petani dapat mengandalkan benih hasil rakitan Balai Besar Tanaman Padi (BB Padi), Kementerian Pertanian.

Untuk padi sawah irigasi ada varietas Inpari, padi rawa tersedia Inpara, dan padi gogo menggunakan Inpago. Selain itu, tersedia juga padi hibrida Hipa. Padi yang mampu tumbuh di lahan kering ataupun lahan basah dapat menggunakan varietas unggul padi amfibi seperti Limboto, Batutegi, dan Inpari 10 Laeya.

Untuk menentukan apakah tanaman padi sudah mencukupi atau belum kebutuhan hara Nitrogen (N) dapat menggunakan alat Bagan Warna Daun (BWD). "Di Jepang lebih sederhana lagi. Datanglah ke sawah pagi hari sebelum matahari terbit. Jika ada daun padi yang mengerepyek ke bawah berarti tanaman padi itu kelebihan urea. Jika matahari sudah terbit, daun yang mengerepyek ini normal kembali, sama dengan tanaman padi yang tidak kelebihan urea," katanya.

Dalam menentukan takaran pupuk P dan K, misalnya, dapat menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) yang tersedia. Perangkat ini dapat mengukur ketersediaan hara P dan K di tanah dengan metoda kalometeri (pewarnaan). Dari hasil pengukuran ini, petani dapat menentukan takaran pupuk P dan K yang harus diberikan ke tanaman padi pada spesifik lokasi.

Saat pemanenan padi, petani dapat mengoperasikan combine harvester. Pengeringan gabah memakai fasilitas mesin pengering baik tipe bak maupun tipe sirkulasi. Selanjutnya, penggilingan padi menggunakan rice milling unit atau rice milling plant. Agar petani memperoleh nilai tambah yang tinggi, dapat mendirikan Badan Usaha Milik Petani (BUMP).

Masalah pendanaan pertanian dapat diatasi dengan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR). Selain pembiayaan melalui KUR, petani dapat juga memanfaatkan fasilitas Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk menekan risiko kebanjiran, kekeringan, atau serangan hama dan penyakit.

"Yang lebih penting lagi, peran penyuluhan pertanian untuk mendidik para petani agar mampu menerapkan pertanian presisi dengan mengombinasikan penggunaan pelbagai teknologi yang sudah tersedia," katanya.

"Dengan teknologi yang sudah tersedia, petani sudah dapat menerapkan Pertanian Presisi Ala Indonesia. Bukan pertanian 4.0 yang butuh investasi sangat besar," kata Winarno. ***