logo

Demokrasi: Optimis Vs Pesimis

Demokrasi: Optimis Vs Pesimis

13 April 2019 19:59 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Kampenye terakhir telah selesai dan tahapan pesta demokrasi memasuki hari tenang. Hal ini menegaskan bahwa semua atribut pesta politik harus bersih dan dibersihkan aparat demi menjaga kesucian hari tenang. Meski demikian, prakteknya justru berbalikan sebab di masa tenang ini justru banyak caleg yang bertarung di pilpres semakin intensif untuk melakukan gerilya termasuk juga fenomena serangan fajar menjelang hari H coblosan di tanggal 17 April mendatang. Argumen yang mendasari adalah terjadinya OTT salah satu kader yang bertarung untuk menuju ke Senayan beberapa waktu lalu. Bahkan, pecahan nominalnya mencapai Rp.8 miliar dalam besaran Rp.100.000 dan Rp.50.000.

Memang jika dicermati tidak mudah untuk bisa bertarung di pesta demokrasi karena ini harus bertarung sedari awal. Paling tidak bertarung untuk mendapatkan nomer urut di pucuk angka dan juga pemilihan dapil yang tidak neraka agar bisa lebih mudah agar bisa lolos ke senayan menyandang predikat Wakil Rakyat yang terhormat. Oleh karenanya semua cara dilakukan, termasuk juga dihalalkan demi menang dan menang. Tidak ada lagi kata kalah apalagi harus mengalah. Artinya, prinsip harus menang menjadi tuntutan mutlak dan karenanya beralasan jika kemudian muncul berbagai intrik dan trik untuk menjadi wakil rakyat, apapun partainya dan apapun tingkat keterwakilannya, entah di kabupaten/kota atau di propinsi atau di senayan.

Yang justru menjadi pertanyaan adalah siapakah yang bisa menjamin itu semua? Harus juga diakui bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa menjamin seseorang untuk dapat lolos menjadi wakil rakyat yang katanya terhormat. Para petarung dengan modal yang sangat banyak tidak ada jaminan mampu menang, apalagi yang bermodal kecil dan pas-pasan. Ibaratnya, para pesaing yang juga petarung dengan modal spanduk di pinggiran jalan yang hanya minta doa restu dipastikan tidak akan tercoblos oleh pemilih, apalagi era demokrasi sekarang bukan hanya tendensius tapi juga penuh dengan sebaran uang di amplop. Jadi, beralasan jika kemudian muncul wacana terima amplopnya dan jangan coblos calegnya.

Separah inikah wajah demokrasi di republik ini? Entahlah tentu pembaca juga mampu menganalisanya sesuai dengan persepsian masing-masing. Oleh karenanya, wajar jika di pesta demokrasi kali ini muncul dua kelompok yaitu pertama mereka yang optimis dan kedua mereka yang pesimis. Bahkan, para petarung yang familiar karena sering muncul di layar tv juga tidak ada jaminan untuk bisa menang lagi, apalagi situasi stabilitas saat ini cenderung berfluktuatif. Sejatinya menang kalah adalah hal yang biasa dalam aspek kompetisi, namun dalam pesta demokrasi filosofisnya adalah harus menang dan tidak ada kamus kalah dalam benak para petarung di pesta demokrasi. Menang itupun juga harus diraih dengan segala cara, termasuk praktek politik uang dan serangan fajar. Jadi, yang optimis dan pesimis sedang harap-harap cemas menuju hari H pencoblosan besok 17 April 2019. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo