logo

Angka Buta Katarak Terus Naik, SidoMuncul Makin Agresif Operasi Gratis

Angka Buta Katarak Terus Naik, SidoMuncul Makin Agresif Operasi Gratis

Direktur SidoMuncul Irwan Hidayat bersama Perdami Yogyakarta dan RS Puri Husada melakukan operasi katarak gratis ketiga kalinya untuk warga tidak mampu di Provinsi DI Yogyakarta
11 April 2019 02:16 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - SLEMAN: Kegiatan sosial dalam bentuk operasi katarak gratis, telah banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Tujuannya untuk mengurangi tingginya kasus katarak. Namun masih saja didapatkan angka penderita katarak di tanah air tetap cukup tinggi.

Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Yogyakarta, Suhardjo mengatakan angka penderita katarak bervariasi mulai 1-2% di antara kelompok usia 40 tahun ke atas dari data hasil survei tahun 2014. Misalnya di Jawa Timur cukup tinggi. Sedangkan di DKI Jakarta hampir sama dengan Yogyakarta, yakni 0,9% dari kelompok 40 tahun ke atas menjadi penderita katarak.

Pendapat Ketua Perdami Yogyakarta, itu terungkap saat digelar operasi katarak gratis SidoMuncul di Yogyakarta, Minggu (7/4/2019)

Suhardjo mengingatkan katarak cenderung dialami oleh orang yang sudah tua atau lanjut usia, sehingga menjadi kasus yang cukup wajar dialami oleh penderita seusia itu. Walaupun begitu, ia juga tak menampik beberapa kasus katarak terjadi pada anak-anak yang disebabkan karena turunan.

Menurutnya ada banyak faktor yang menambah risiko terkena katarak, diantaranya pola hidup yang tidak sehat seperti sering terpapar sinar matahari (ultra violet) secara langsung, merokok, darah tinggi, dan menderita diabetes. Untuk diabetes ini, ia menyebut sebelum operasi katarak, maka harus disembuhkan dulu diabetesnya.

Katarak ini, bisa dirasakan dengan beberapa tanda, misalnya mulai sering melihat kabut. Gejala juga dapat dilihat jika mulai sering merasa silau atau terganggu dengan cahaya matahari pada siang hari. Sedangkan pada sore hari pandangan yang remang-remang justru lebih jelas.

"Itu yang katarak awal. Kalau yang lanjut ya siang maupun saat malam gelap," ujarnya.

Suhardjo mengungkapkan baik mata kanan maupun kiri memiliki kecenderungan yang sama mengalami katarak. Yang mengenaskan lagi, katarak seringkali dialami di masyarakat pedesaan, karena pengetahuan mengenai gaya hidup sehat yang rendah, akibat dari tingkat pendidikan yang rendah.

Direktur Rumah Sakit Puri Husada, dr JB Soebroto juga mengungkapkan katarak adalah proses alami yang wajar dialami seseorang di usia lanjut. Menurutnya seiring meningkatnya angka harapan hidup, kemungkinan terjadinya kasus katarak pun semakin tinggi.

"Risiko untuk katarak memang tinggi. Jadi akan terus antre pasiennya. Dengan bertambahnya populasi, akan terus (bertambah). Saya kira tidak akan habis, karena itu (katarak) memang proses alamiah atau tegasnya alami," jelas Soebroto.

Menurutnya, penderitaan orang dengan katarak tidak bisa dianggap enteng.

"Bisa dibayangkan rasanya orang tidak bisa melihat. Hal tersebut jelas mengganggu aktivitas mereka," ungkapnya.

Setiap bulan, RS Puri Husada memiliki kuota untuk 20 orang menjalani operasi katarak dengan BPJS. Namun, ia tidak menampik jika prosedur menggunakan BPJS tidak bisa instan.

"Kalau tidak ditanggung BPJS, biaya operasi katarak bisa mencapai Rp 6 juta per mata," kata Subroto.

Namun operasi katarak yang sekarang lebih canggih, pasien tidak perlu berlama-lama menjalani proses itu. Cukup satu jam, operasi katarak selesai, dan pasien segera bisa melihat kembali.

dr JB Soebroto mengungkapkan, jika di RS Puri Husada sendiri sudah ada satu orang dokter spesialis mata, sedangkan dalam kegiatan operasi katarak gratis ini melibatkan delapan orang dokter dari Perdami.

"Kita sudah tiga kali ini berkerjasama dengan Sido Muncul. Kebetulan ini juga pas momen ulang tahun RS Puri Husada. Nanti kita harapkan dengan operasi ini, maka penderita bisa melihat dengan jelas kembali dan akan seger. Untuk saat ini kalau menggunakan BPJS ada kuota l, jadi terbatas," katanya.

Nurani Kemanusiaan Terpanggil

Kesulitan, kegelisahan dan kegetiran penderita katarak ini yang terus mengusik nurani kemanusiaan Irwan Hidayat selaku salah satu owner dan Direktur SidoMuncul tak lelah untuk berkeliling ke rumah sakit seantero nusantara menyambangi dengan bekerja sama dengan Perdami yang diketuai oleh Prof Dr Nila Moeloek, jauh sebelum menjadi Menkes. Niat baiknya untuk membantu pelaksanaan operasi katarak gratis.

Irwan Hidayat berinteraksi memberi semangat kepada Mbah Sarmiyem, pasien katarak di Sleman untuk selalu percaya dan yakin kepada Tuhan bahwa ada hikmah baik dari penyakit yang dideritamya

Irwan Hidayat mengatakan operasi katarak gratis yang dihelat oleh produk unggulan Kuku Bima Energi di wilayah Yogyakarta bukanlah kali pertama. Kali ini, SidoMuncul berkolaborasi dengan Widjanarko Center, Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang Yogyakarta dan RS Puri Husada.

Sampai Maret 2019, ia menyebut bantuan sosial ini sudah dilaksanakan di 27 provinsi, 211 kota dan kabupaten, 238 rumah sakit dan klinik, dan telah dioperasi 52 ribu mata.

"Saya pernah melakukan di Indonesia timur, di Kupang, kemudian di Medan, Makassar. Di luar pulau kami juga pernah lakukan. Tapi memang penduduknya paling banyak di Pulau Jawa yang menjadi prioritas terlebih dulu," ungkap Irwan yang dikenal sebagai filantropi ini.

Untuk tahun ini, ditargetkan operasi katarak bisa dilakukan untuk 100 penderita katarak di satu tempat. Dalam melakukan operasi katarak gratis, yang menjadi kendala bagi Tim SidoMuncul adalah ketika mencari pasien yang mau dioperasi. Kemudian terkendala rumah sakit yang mau bekerjasama untuk melakukan operasi katarak gratis, padahal pihaknya ingin melakukan operasi sebanyak mungkin.

"Di sini yang discreening 200 orang, yang lolos 51. Ya, semoga nanti tahap kedua, kami bisa kembali operasi sebanyak mungkin, cuma kalau tidak memenuhi syarat untuk dioperasi ya tidak bisa. Kemarin banyak yang tidak lolos karena gula darah tinggi, tekanan darah tinggi. Kalau kendala selama ini, kita sulit cari pasien, kami ingin masyarakat menghilangkan persepsi bahwa operasi katarak adalah sesuatu yang menakutkan,"ungkap Irwan.

Cucu pendiri SidoMuncul, Ny. Rahmat Sulistyo ini berusaha mengedukasi kepada calon pasien katarak untuk tidak perlu takut ketika melakukan operasi. Ini karena saat ini teknologi yang ada sudah semakin canggih, hanya butuh waktu delapan menit untuk melakukan operasi tanpa dijahit.

Salah satu pasien, RR Suprabawati (57) warga Sleman mengaku sudah dari Juli 2018 menderita katarak. Wati mengaku sebelum menderita katarak, dirinya sangat aktif beraktivitas, baik bekerja maupun ikut kegiatan-kegiatan.

"Sejak Juli 2018, sangat menghambat, karena tidak bisa beraktivitas maksimal. Padahal sebelumnya aktivitas saya biasanya selain bekerja, ikut nembang mocopat, senam dan yang lainnya. Namun dengan operasi ini mudah-mudahan bisa cepat sembuh. Saya sangat berterimakasih bantuan niat baik SidoMuncul membantu beban kami ini," ucap Wati***

Editor : Gungde Ariwangsa SH