logo

Komunitas Kota Tua Dituntut Berbasis Sejarah Dan Berkontribusi Nyata

Komunitas Kota Tua Dituntut Berbasis Sejarah Dan Berkontribusi Nyata

19 Maret 2019 13:19 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Komunitas yang mencari penghidupan di Taman Fatahillah, Kota Tua Jakarta dituntut untuk berbasis sejarah dan berkontribusi nyata untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan cagar budaya.   Sementara Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua dituntut  memberikan fasilitas dan regulasi yang membuat harmonis hubungan semua pemangku kepentingan.

Demikian rangkuman paparan para narasumber          dalam pembinaan karakter komunitas Kota Tua Jakarta di Hotel Jayakarta, Jakarta Barat , Senin (18/3/2019). Bertindak sebagai moderator Dody Riyadi dari Kememterian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 

Pembinaan tersebut diselenggarakan UPK Kota Tua yang dibuka Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta Asiantoro yang diikuti 150 anggota komunitas Kota Tua dan 25 tamu undangan di antaranya Kepala Museum Seni Esti Utami, Pimpinan Museum Kesejarahan Jakarta,  Kepala TU Pusat Konservasi Cagar Budaya   Erlinda, Camat Tamansari  dan Tripida Kecamatan ini.

Sedangkan para narasumbernya Prof  Dr H Agus Suradika dari Badan Penjamin Mutu Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Candrian Attahiyat Arkeolog alumnus UI dan Tenaga Ahli  Cagar Budaya PKCB dan G Yoga Mandira selaku pemerhati budaya. 

Yang unik para peserta dari komunitas mengenakan 

kostum kesehariannya masing masing. Ada yang mirip patung perunggu, emas, berbusana noni Belanda, Gatutkaca dan lainnya.

"Potensi sejarah harus mengilhami komunitas di sini dan berkontribusi melestarikannya," kata Candrian.

Sambil menayangkan foto tukang jual obat gatal di Pasar Ikan jaman dulu, Candrian minta hadirin memperhatikan pakaian warga  Batavia yang mengerubungi penjual obat tersebut.

"Seperti itulah busana warga di sini zaman dulu," katanya.

Dengan maksud yang sama Candrian menayangkan gambar suasana dalam tram Batavia yang ditarik kuda.  Terlihat disitu bercampur penduduk multi ras,  Belanda, Cina, Arab,  Jawa,  Melayu maupun Betawi. Karena itu diharapkan komunitas dapat belajar sejarah busana zaman dulu untuk ditiru dalam tampilannya di Kota Tua 

"Nah kalau Gatutkaca itu dari mana? Terserah kalau mau ganti karakter," ujar Candrian. 

Namun   menurut pemerhati budaya Abu Galih kalau Gatutkaca Kota Tua itu  mengambil posisinya di dekat Museum Wayang masih relevan untuk tontonan wisatawan. 

Meneruskan hasil survai mahasiswa S2 dari ITB, Candrian mengharapkan suasana suara di Kota Tua juga harus dijaga kekunoannya. "Misalnya jenis musiknya keroncong dan tidak menggunakan pengeras suara," katanya.

Sementara Agus Suradika yang juga pimpinan komunitas pecinta lagu lagu Koes Plus ini mengharapkan semua komunitas sadar dan yakin untuk bersama sama melestarikan dan mengembangkan lingkungan bersejarah. Juga mengharapkan kontribusi komunitas untuk kebersihan dan ketertiban Kota Tua terutama sekitar Plaza Taman Fatahillah. Sementara perlu diatur alur wisatawan pengunjung Kota Tua.

Menanggapi usul Sanen dari komunitas sepeda onthel , Agus Suradika menyarankan agar aspirasi itu ditampung untuk dapat direalisasikan. Sanen mengusulkan ada jalur khusus untuk sepeda di Kota Tua. 

Yoga  Mandira sebagai pemerhati budaya menyitir falsafah Jawa agar anggota komunitas Kota Tua merasa memiliki, memelihara dan   mawas diri apa yang telah dilakukan untuk kelestarian dan kemajuan Kota Tua bukan hanya untuk mereka sendiri, tetapi juga untuk masyarakat. 

Kepala UPK Kota Tua Norviadi Setio Husodo menjelaskan Pembinaan Katakter Komunitas Kota Tua ini dimaksudkan untuk meningkatkan kwualitas, wawasan dan pengetahuan  para komunitas dan penggiat yg ada di Taman Fatahillah Kawasan Kota Tua.

Dengan skill, pengetahuan dan perangai yang didapat dari para narasumber,  diharapkan dapat menjadikan tata kelola komunitas lebih baik.

"Dengan demikian akan membawa Kawasan  Kota Tua menjadi destinasi kebanggaan warga Jakarta," kata Norviadi.

Kasatpel Informasi UPK Kota Tua Ahmad Fauzi menambahkan acara pembinaan komunitas tersebut berlangsung sampai sore.  Saat  isoma (istirahat, solat dan makan) para komunitas boleh menanggalkan "pakaian kebesaran" mereka masing masing  dan diberkan pakaian seragam untuk foto besama. Usai "isoma" acara masih diteruskan dengan pentas dan musik dalam kerangka pembinaan. ***