logo

Pasukan Israel Jarah Rumah Anggota Senior Fatah Di Ramallah

Pasukan Israel Jarah Rumah Anggota Senior Fatah Di Ramallah

Pasukan Israel di Beit Fourik, wilayah pendudukan Tepi Barat, Minggu (17/3/2019). (Antara)
19 Maret 2019 12:07 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - RAMALLAH: Pasukan Israel menjarah rumah keluarga seorang anggota senior Fatah dan seorang pengacara, serta menahan keduanya, di Kota Ramallah, Tepi Barat Sungai Jordan.

Beberapa kendaraan militer Israel menyerbu Permukiman Ramallah At-Tihta di Kota Ramallah, tempat serdadu Yahudi menyerbu rumah Zakaria Zubeidi, anggota Dewan Revolusioner Fatah, dan menginterogasi anggota keluarganya selama beberapa jam.

Tentara Israel juga menyerbu dan dengan kasar menggeledah rumah Tarek Barghout, seorang pengacara yang bekerja untuk Komisi Urusan Tahanan, serta menginterogasi anggota keluarganya, demikian laporan Kantor Berita Palestina, WAFA --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa pagi (19/3/2019).

Zakaria Zubeidi adalah anggota terkemuka Brigade Syuhada Al-Aqsa, sayap bersenjata Fatah, selama intifada (aksi perlawanan) kedua tapi belakangan diberi amnesti oleh Israel, dalam kesepakatan yang dicapai dengan Pemerintah Otonomi Nasional Palestina.

Zakaria Zubeidi dan Tarek Barghout telah dijebloskan ke dalam tahanan Israel sejak 27 Februari, ketika mereka ditangkap oleh pasukan Israel. 

      Tolak Campur Tangan

Sementara itu Menteri luar negeri Palestina dan Jordania dalam dua pernyataan terpisah pada Minggu (17/3) menolak campur-tangan Israel dalam urusan dan status Masjid Al-Aqsha, salah satu tempat suci umat Muslim.

Kedua menteri tersebut mencela putusan pengadilan Israel untuk menutup tempat ibadah Bab Ar-Rahmah (Golden Gate), yang berada di dalam komplek tempat suci umat Muslim tersebut di Kota Tua Al-Quds (Jerusalem), dan menekankan Israel tak memiliki jurisdiksi atas Masjid Al-Aqsha.

Kementerian Luar Negeri Palestina, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita --WAFA-- yang dipantau Antara di Jakarta, Senin pagi, mengatakan di dalam satu pernyataan bahwa putusan pengadilan itu adalah pendahuluan untuk mengambil-alih seluruh tempat suci umat Muslim tersebut, sebagaimana diserukan oleh kelompok pemukim Yahudi fanatik --yang berusaha menghancurkan Masjid Al-Aqsha dan membangun kuil Yahudi di lokasi itu.

Kementerian tersebut dengan tegas menolak campur-tangan Israel dalam urusan Masjid Al-Aqsha.

Satu pernyataan serupa dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Jordania, yang juga menekankan Al-Quds Timur dan Masjid Al-Aqsha adalah wilayah yang diduduki berdasarkan hukum internasional dan kedua tempat itu tak bisa menjadi sasaran sistem hukum Israel.

Bab Ar-Rahmah, katanya, adalah bagian dari Kompleks Masjid Al-Aqsha dan Departemen Waqaf Islam di Al-Quds adalah satu-satunya pihak yang bertugas untuk urusan Masjid Al-Aqsha.

Pernyataan tersebut menyerukan dibatalkan putusan pengadilan itu, dan menganggap Israel bertanggung-jawab atas setiap reaksi dari keputusannya dan keselamatan Masjid Al-Aqsha. ***