logo

Pembunuh Anaknya Dituntut Hukuman Seumur Hidup, Sho Hwi Kecewa

Pembunuh Anaknya Dituntut Hukuman Seumur Hidup, Sho Hwi Kecewa

terdakwa pembunuh berencana konsultasi dengan pembela
18 Maret 2019 21:30 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Tuntutan terhadap dua terdakwa pelaku pembunuhan berencana yang sempat tertunda-tunda akhirnya dibacakan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Senin (18/3/2019). Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nugraha SH MH dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta menuntut kedua terdakwa masuk penjara seumur hidup.

“Kedua terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu. Atas perbuatan sadis itu, kedua terdakwa dituntut hukuman penjara seumur hidup,” kata JPU Nugraha dalam sidang pimpinan majelis hakim Dodong SH MH.  

“Terdakwa Handoko alias Alex dan Abdullah Sunandar  telah melakukan pembunuhan berencana terhadap korban Herdi Sibolga alias Acuan terkait persaingan bisnis,” tutur JPU dalam requisitornya. Korban Herdi Sibolga alias Acuan ditembak terdakwa Abdulah Sunandar sesaat setelah keluar dari mobilnya hendak pulang ke rumahnya di Jelambar Aladin, RT 03/06, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, pada Jumat, 27 Juli 2018 silam.

Jaksa juga mengungkapkan bahwa tidak seberapa jauh dari lokasi penembakan, terdakwa Handoko alias Alek mengawasi pelaksanaan eksekusi yang mengenaskan itu. Dalam persidangan terungkap Alex telah membayar Sunandar untuk melakukan pembunuhan yang direncanakan matang tersebut.

Atas tuntutan itu, orang tua korban Herdi Sibolga alias Acuan, Sho Hwi, menyatakan  kekecewaannya.  “Jaksa seharusnya menjatuhkan tuntutan  maksimal (pasal 340 ancaman maksimalnya pidana mati). Kami kecewa, jaksa  tidak bisa  mewakili kesedihan kami kerabat korban. Coba rasakan jika jatuh kepada keluarganya pasti sangat menyedihkan dan pengen nyawa dibayar nyawa. Apalagi, anak saya tulang punggung keluarga,” ujarnya kecewa.

Adik korban Herdi Sibolga alias Acuan, Tika, juga melontarkan rasa kekecewaannya. “Handoko alias Alex dan Abdullah Sunandar yang telah menghabisi nyawa kakak saya secara kejam. Mereka  merencanakan pembunuhan berbulan-bulan hingga tiba hari nahas itu. Abang saya harus meregang nyawa dengan cara ditembak mereka secara kejam. Kenapa abang saya harus dibunuh hanya karena bersaing bisnis,” ujar Tika.

Kedua terdakwa tampak tenang-tenang saja menyikapi tuntutan jaksa tersebut. Bahkan salah seorang di antaranya malah menyebar senyum saat meninggalkan ruang sidang. Meski demikian, baik kedua terdakwa maupun penasihat hukumnya menyatakan  akan mengajukan pembelaan pada persidangan, Kamis (21/3/2019). Tadinya pembela sempat menawarkan agar sidang berikutnya Kamis pekan depan. Namun majelis hakim menolak dengan alasan masa tahanan kedua terdakwa sudah mepet.

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH