logo

Tidak Berhenti Di Satu Kasus, Satgas Mafia Bola Didesak Terus Kawal Sepakbola Indonesia

Tidak Berhenti Di Satu Kasus, Satgas Mafia Bola Didesak Terus Kawal Sepakbola Indonesia

Diskusi pojok Semanggi Libas Habis Mafia Bola"
15 Maret 2019 19:32 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - JAKARTA - Satgas Anti Mafia Bola mengatakan tidak menutup kemungkinan ada  tersangka baru dalam kasus pengaturan skor.

 Wakil Kepala Anev Satgas Anti Mafia Bola, Kombes Pol Edy Ciptianto, mengatakan kemungkinan bisa ditetapkan tersangka baru. "Namun kewenangan penyampaian nanti Kepala Satgas Anti Mafia Bola," kata Edy, dalam diskusi "Libas Habis Mafia Bola", Jumat (15/3/2019).

Hadir dalam kegiatan yang diadakan Forum Wartawan Polri ini Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali, Ketua Forum Diskusi Suporter Indonesia Helmi Atmadja dan wartawan olahraga Kesit B Handoyo.

Dia mengungkapkan saat ini penyidik masih bekerja keras mendalami beberapa kasus yang telah naik ke tingkat penyidikan

Dia mencontohkan pemeriksaan Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, yang memakan waktu cukup lama.

"Untuk melakukan penyidikan kasus ini tidak mudah. Kerja keras ekstra. Pak Joko Driyono saja diperiksa marathon begitu. Apabila dimungkinkan ada tersangka baru, dimungkinkan," 
katanya.

Sementara Koordinator Save Our Soccer Akmal Marhali mengatakan jaringan mafia sepak bola yang melakukan match fixing atau pengaturan skor telah menggurita. Pelakunya di segala lini dan tingkatan. 

"Bukan hanya di Liga 2 atau 3, bahkan sampai Piala Suratin U-19, artinya merupakan gurita yang sangat luar biasa. Match fixing itu kayak narkoba," ujarnya.

Salah satu pihak yang berperan dalam pengaturan skor ialah bandar judi. Akmal mengaku pernah melakukan penyadapan bersama aparat berwenang terhadap aksi pengaturan skor yang hasilnya benar-benar sesuai dengan permintaan bandar judi. Atas itu, ia berharap Satgas bisa konsisten dan komitmen menjalankan tugasnya, karena dengan cara itu persoalan mafia sepak bola diyakini bisa teratasi.

"Kita serahkan Kapolri penuntasannya semua, saya sependapat sama dengan teman-teman ini harus dibongkar, mafia bola harus ditangkap. Kita bantu Spanyol pemberantasan mafia bola, Spanyol bisa masa Indonesia enggak bisa?" tuturnya. 

Sementara Helmi mengatakan, kelompok suporter juga mendukung upaya Satgas memberangus mafia sepak bola.

"Beberapa minggu ke depan kelompok suporter ke Mabes Polri menyatakan dukungan langsung. Suporter siap untuk mendukung, kalau masalah mafia bola kita percaya kinerja kepolisian. Karena menangkapi teroris saja bisa, apalagi ini mafia bola," kata dia. 

Hanya, imbuh Helmi, tantangan terbesar menuntaskan perkara ini ialah opini publik. Menurut dia, ada pihak-pihak yang menggiring opini publik jika pengusutan kasus pengaturan skor membahayakan penyelenggaraan sepak bola Indonesia. Ia khawatir pihak tersebut "membisiki" Satgas.

"Saya takutnya ada pihak-pihak yang seperti menakuti-nakuti, karena terus terang sekarang sudah jadi tersangka yang dipenjara atau belum aktor-aktor mereka itu. Ya kekhawatiran digiring ke situ, 'Masyarakat jangan-jangan jadi enggak ada hiburan (kalau mafia sepak bola diungkap)'. Saya lebih memilih bersihkan semua, ini momentum, kapan lagi seperti ini," tuturnya 

Sementara, Kesit meminta Satgas tak ragu membereskan permasalahan persepakbolaan Indonesia ini. Penegak hukum diharapkan tak takut 

Pengalamannya, dahulu dunia sepak bola Indonesia pernah juga diguncang kasus serupa yang melibatkan hampir seluruh komponen wasit. Kasus ini pun sempat ditangani kepolisian, namun ia menilai penuntasannya tak jelas. Karenanya pengurus pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini, menginginkan kepolisian lebih komitmen dan konsisten dalam menjalankan tugasnya kali ini.

"Kepolisian jangan takut menuntaskan persoalan ini. Jika dibilang 'Upaya pemberantasan mafia sepak bola ini menganggu sepak bola Indonesia atau akan ada sanksi dari FIFA' saya jamin tidak ada," tegasnya. 

Edi menambahkan, sejauh ini ada lima laporan terkait mafia sepak bola yang ditindaklanjuti pihaknya. Dari kasus tersebut, 16 orang telah dijadikan tersangka, 6 di antaranya ditahan