logo

Dampak TPA Burangkeng Ditutup, Sampah Di Pasar Cikarang Menumpuk

Dampak TPA Burangkeng Ditutup, Sampah Di Pasar Cikarang Menumpuk

Tumpukan sampah di Pasar Cikarang masih terlihat, menyusul ditutupnya TPA Burangkeng Setu oleh warga sekitar. (Foto: Dharma/suarakarya.id).
15 Maret 2019 00:42 WIB
Penulis : Dharma

SuaraKarya.id - CIKARANG: Pembahasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng di Setu, Kabupaten Bekasi, masih buntu menyusul penutupan oleh sekelompok warga sekitar.

Akibat itu, sampah di sejumlah wilayah menumpuk tak terkecuali di Pasar Cikarang.

Pantauan suarakarya.id, Kamis (14/3/2019), terlihat tumpukan sampah seperti gunung. Basah dan bau tak sedap sangat mengganggu sejumlah warga yang melintasi Pasar tersebut.

Surya, salah satu warga Kalijaya mengaku, acap kali melintasi Pasar tercium bau tak sedap. Ia meminta, pengelola Pasar Cikarang harus membersihkan tumpukan sampah.

"Setiap saya lewat, sampah masih saja ada di depan jalan," tuturnya.

Pegawai swasta ini berharap, polemik penutupan TPA Burangkeng Setu, tak berkepanjangan.

"Masa sih sampah harus dibiarkan saja menumpuk di Pasar. Ya, bau dong," ujar dia.

Kasubag TU Pasar Cikarang, Egan mengatakan, pihaknya tak bisa berbuat banyak untuk mengurai tumpukan sampah dilingkungan Pasar. Namun, ia selalu mengantisipasi apabila terjadi penumpukan sampah.

"Petugas langsung mengambil sampah dan disimpan di bak sampah," katanya.

Hal itu dilakukan, menurut dia, sebagai langkah sementara hingga penyelesaian polemik TPA Burangkeng bisa teratasi.

"Ini sementara saja, sampai normal kembali sampah bisa dibuang ke TPA Burangkeng," katanya.

Egan berharap, agar Pemkab Bekasi bisa membuka kembali lahan pembuangan sampah.

"Sebenarnya, sejak tahun 2007 sudah ada usulan pembangunan TPA berada di wilayah Cibarusah," katanya.

Sebelumnya, masyarakat Burangkeng telah menutup akses TPA di wilayah itu. Penutupan tersebut terkait kompensasi yang dituntut warga kepada Pemkab Bekasi.

"(Warga minta) Rp 270 per bulan per KK," ujar Sekretaris Desa Burangkeng Ali Gunawan, di Kantor Desa Burangkeng, Setu, Kabupaten Bekasi, Kamis (14/3/2019), seperti dikutip detik.com.

"Kemarin aja Taman Rahayu dapat kajian dari Bappeda kan Rp 270 ribu. Mereka menentukan nilai segitu kan ada kajiannya," sambung Ali.

Warga Desa Burangkeng dan Pemkab Bekasi telah mengadakan rapat terkait keberlanjutan TPA Burangkeng di Pemkab Bekasi, Desa Sukamahi, Cikarang, Rabu (13/3/2019). Tetapi rapat berakhir buntu.***

Editor : B Sadono Priyo