logo

Cerita Saut Terkena Limbah B3 Saat Pengurugan Jalan Perumahan Milik PT RCP

Cerita Saut Terkena Limbah B3 Saat Pengurugan Jalan Perumahan Milik PT RCP

Korban pengurugan jalan perumahan, Saut (35), kaki dibagian betis kirinya melepuh akibat tertempel batu hitam panas. (Foto: Dharma/suarakarya.id).
14 Maret 2019 23:42 WIB
Penulis : Dharma

SuaraKarya.id - CIKARANG: Saut (35), satu diantara warga Kapling Kalijaya Permai, RT 05/RW 06, Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat, yang menjadi korban pengurgan jalan perumahan milik PT Refaro Central Propertindo.

Kaki dibagian betis kirinya melepuh akibat tertempel bongkahan batu panas berwarna hitam yang diduga hasil olahan limbah B3 PT Garuda Gunung Paksi (GRP), di Kampung Cikarang Jati, Jalan Kiasnawi, RT 03/RW 06, Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.

Kamis (14/3/2019) sore, suarakarya.id berhasil menemui Saut di rumah kontraknnya. Saat ini, kondisi pekerja serabutan itu lukanya sudah membaik.

"Sudah mendingan, bang," tuturnya didampingi sang Istri.

Dalam kronologis itu, Saut menceritakan kejadiannya sudah berlangsung sejak dua bulan terakhir. Saat itu, ia berencana menjemput anak perempuannya yang sedang menjual besi tua di salah satu lapak. Ketika ingin melewati lokasi pengurugan jalan, tiba-tiba ia mendengar teriakan, awas panas, jangan injak batu itu. Lantaran kaget, Saut pun langsung menghindar.

"Saya replek, jatuh ke saluran air. Tau nya ada batu, batunya panas lagi. Betis saya nempel ke batu itu," tutur dia.

Tanpa ada pertolongan dari warga sekitar maupun pekerja di lokasi pengurugan, Saut berusaha melepaskan batu yang menempel di betisnya dengan alat garpu sampah

"Saya congkel batunya dengan garpu, setelah ke lepas, betis saya berdarah," tuturnya sambil mempraktikan cara melepaskan batu hitam itu dengan garpu.

Saut dibawa istrinya ke Rumah Sakit Karya Merdika, Cikarang Barat. Namum disana, ia sempat ditolak. Karena pihak rumah sakit tidak sanggup.

"Akhirnya, saya ke Klinik Sumber Sehat nggak jauh dari kontrakan saya. Di Klinik diberikan cairan, biayanya hampir Rp800 ribu," tuturnya.

Menurut Saut, urugan jalan itu bercampur bongkahan besi padat atau limbah tahi besi.

"Kalau ditimbang beratnya 1 kilogram," ungkap Saut.

Ia juga melihat, batu hitam itu mengeluarkan asap putih seperti uapan air mendidih.

"Pantesan batu itu panas, disiram air mengeluarkan asap putih," katanya.

Pihak PT RCP maupun PT GRP yang bergerak dibidang besni baja belum dapat dikonfirmasi lebih lanjut. ***

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto