logo

Akselerasi Industri Keramik, Pemerintah Jamin Bahan Baku dan Gas Kompetitif

Akselerasi Industri Keramik, Pemerintah Jamin Bahan Baku dan Gas Kompetitif

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Dirjen Industri, Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Achmad Sigit Dwiwahjono dan Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto memberikan keterangan kepada wartawan usai Pembukaan Pameran Keramika 2019 dan Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing Industri Keramik Nasional di Jakarta, Kamis (14/3/2019).
14 Maret 2019 19:31 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kementarian Perindustrian terus memacu daya saing industri keramik nasional. Sebab, komoditas ini merupakan salah satu sektor yang diprioritaskan pengembangannya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun ekspor.

“Ada empat poin penting guna mencapai sasaran tersebut, yakni ketersediaan gas industri dengan harga yang kompetitif, kemudian inovasi, adanya sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, serta pengembangan bagi industri keramik dalam negeri,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Pembukaan Pameran Keramika 2019 dan Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing Industri Keramik Nasional di Jakarta, Kamis (14/3/2019).

"Terkait gas bumi sebagai bahan bakar untuk industri keramik, pemerintah terus mengupayakan adanya jaminan pasokan dan harga yang ideal dan kompetitif," katanya.

Selanjutnya, dalam mendorong terciptanya inovasi produk dan SDM terampil di sektor industri, pemerintah akan memfasilitasi melalui pemberian insentif fiskal berupa super deductible tax.

“Selain insentif fiskal, Kemenperin juga menyediakan insentif nonfiskal berupa penyediaan tenaga kerja kompeten melalui program link and match dengan SMK dan industri, Diklat sistem 3 in 1 dan Program Diploma I Industri,” tuturnya.

Guna meningkatkan daya saing industri keramik dan memproteksi pasar dalam negeri, pemerintah telah menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) impor komoditas keramik menjadi sebesar 7,5 persen. Pemerintah juga mendorong kebijakan pengembangan sektor industri pengolahan yang difokuskan pada penguatan rantai pasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku dan energi yang berkesinambungan dan terjangkau.

Pasokan bahan baku untuk industri keramik utamanya dari dalam negeri sebagai competitive advantage, seperti tanah liat (clay), feldspar, pasir silika, dolomite, dan limestone,” imbuhnya.

Airlangga optimistis, jika langkah strategis tersebut berjalan dengan baik, Indonesia berpotensi mampu menduduki peringkat ke-4 dunia sebagai produsen keramik. 

“Saat ini, kapasitas terpasang keramik nasional sebesar 560 juta meter persegi. Tentunya, setelah pemerintah memberikan keberpihakan kepada industri dalam negeri, utilitas produksi harus bisa meningkat,” tegasnya.

Di era digitalisasi saat ini, beberapa industri keramik nasional sudah menerapkan teknologi terbaru, seperti digital printing dan digital glazing yang mampu memroduksi keramik dengan ukuran besar.

“Kami juga mendorong diversifikasi produk dengan memroduksi jenis ubin terkini seperti ubin 3D (tiga dimensi), porcelain slab, dan ubin vitrifikasi, serta inovasi desain ubin keramik sesuai tren terkini yang memiliki ciri khas dan original. Jadi perlu didorong pemanfaatan teknologi 3D printing, otomatisasi, artificial intelligence dan big data,” sebut Airlangga.

Apalagi ketersediaan bahan baku sangat besar, sehingga industri keramik diproyeksi bisa menunjukkan kinerja yang positif. Pada tahun 2018, pertumbuhannya sebesar 2,75 persen dan mampu menyerap tenaga kerja hingga 150 ribu orang.

“Mengingat adanya program pemerintah yang gencar dalam pembangunan infrastruktur saat ini, serta meningkatnya kebutuhan perumahan atau tempat tinggal oleh pekerja usia produktif, menjadi peluang bagi industri keramik nasional untuk meningkatkan konsumsi keramik nasional dan memperluas pangsa pasar dalam negeri,” paparnya.

Airlangga menuturkan, pemerintah juga berharap pelaku industri keramik dalam negeri agar terus berkontribusi sebagai salah satu motor penggerak akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. “Jadi, selain dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik, kami juga mendorong agar mereka bisa memperluas pasar ekspor terutama di tingkat regional,” tandasnya.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menargetkan produksi keramik nasional akan mencapai 420-430 juta meter persegi sepanjang tahun 2019, atau tumbuh 7- 9 persen dibanding jumlah produksi di tahun 2018. 

Menurutnya, sejumlah produsen keramik di dalam negeri mulai berani melakukan ekspansi dan penambahan kapasitas produksi. “Karena itu dengan adanya safeguard, kami optimistis produksi keramik Indonesia akan kembali menjadi nomor empat terbesar di dunia, dari posisi saat ini di posisi sembilan dunia,” ujarnya. ***