logo

Menunggu 'Sihir' Bondan Prakoso di Malaka

Menunggu 'Sihir' Bondan Prakoso di Malaka

14 Maret 2019 13:56 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - BETUN:  Siapa yang tidak kenal Bondan Prakoso. Namanya bahkan sudah melejit saat dia masih kanak-kanak. Talenta bermusiknya dan produktivitasnya pun berlanjut. Kini inspirasi besar akan diberikan oleh Bondan di episode 1 Konser Musik Malaka (KMM) 2019, 28-29 Maret.
 
Taburan bintang dengan skill mumpuni diberikan KMM 2019 selama 2 hari. Konser musik ini digelar di Lapangan Paroki (MISI), Kota Betun, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain Bondan Prakoso asal Indonesia, edisi ini juga menampilkan penyanyi Timor Leste (Tiles) Maria Vitoria (Marvi). Meski berusia 18 tahun, Marvi sudah sukses menjadi juara The Voice Portugal 2018 pada 30 Desember.
 
“Bondan dan Marvi ini karakter luar biasa. KMM 2019 tetu akan semakin spesial. Dengan kapabilitasnya, Bondan Prakoso juga figur penuh talenta. Dedikasinya untuk musik tidak perlu diragukan lagi. Sebab, dia membangun pondasi dan karir sejak anak-anak,” ungkap Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani, Kamis (7/3).
 
Lahir pada 8 Mei 1984, kemampuan musikalitas Bondan Prakoso sudah terlihat pada 1989. Memiliki usia 5 tahun, album Si Lumba-Lumba sudah di-release-nya. Lagu Si Lumba-Lumba yang jadi single pertama dari album ke-5 Bondan memang meledak di eranya. Dari rentang 1988 hingga 1994, total 7 album sudah dihasilkannya. Dan, sejak itu produktivitas naik seiring bertambahnya usia dan pemahaman musiknya.
 
“Bondan ini sudah mengalami tahapan sebagai musisi besar. Fase-fase pembelajaran sudah dilaluinya dengan sangat baik. Hasilnya pun bisa dilihat saat ini. Kehadiran Bondan di KMM bisa menjadi inspirasi bagi publik perbatasan. Kerja keras dan totalitas dalam bermusik akan membuka jalan hidup luar biasa,” terang Ricky lagi.
 
Bermetamorfosa, Bondan Prakoso pun membentuk band Fungky Kopral pada 1997. Lalu, selang 2 tahun berikutnya album Funchopat di-release. Lagu andalannya adalah Funchopat dan Cassanova. Pada 2000, album kedua Fungky Kopral dengan Funkadelic Rhythm and Distortion lahir. Ada 3 single yang nge-hits seperti, Bagian Yang Hilang, Super Funk, dan Drop Dead Down. Pada lagu Drop Dead Down beberapa musisi tanah air dilibatkan. Ada DJ Kebot, Aryo Wahab (S. O. G), dan Ombat (Tengkorak).
 
Langkah besar dilakukan Bondan bersama Fungky Kopral pada album ke-3. Mereka lalu menggandeng pengusaha dan budayawan Setiawan Djody. Album ini berlabel Misteri Cinta (2002), singlenya Tokek, Misteri Cinta, dan Revolusi Biru. Eksperimen Bondan berlanjut di tahun 2004 dengan kolaborasi bersama Fade2Black. Sinergi ini lalu melahirkan album Respect pada 2015.
 
Menjawab keresahan hati, album Bass Heroes lalu release 2005. Album ini melibatkan 12 musisi, seperti Thomas Ramdhan (Gigi), Rindra Risyanto (Padi), juga Adam (Sheila on 7). “Kreativitas Bondan Prakoso pun terus tumbuh. Dalam bermusik, ada banyak terobosan yang dilakukan oleh Bondan. Inovasi ini menjadi karya yang bagus dan selalu diterima industri musik tanah air,” kata Ricky lagi.
 
Nuansa etnik lalu dihadirkan dalam album Unity (2007). Bondan dan Fade2Black menghadirkan lagu Kroncong Protol. Lagu ini menjadi ‘perkawinan’ antara musik tradisional dan modern. Mereka juga mendedikasikan hymne Rezpector bagi fans. Rezpector ini lalu menjadi sebutan penggemar Bondan dan Fade2Black. Selang 3 tahun berikutnya, album For All dilaunching.
 
Album For All semakin menegaskan kapabilitas Bondan. Tetap berkolaborasi dengan Fade2Black, lagu Ya Sudahlah pun meledak di pasaran. Album ini bahkan dinilai ditandai sebagai puncak kesuksesan mereka dalam bermusik. Selain Ya Sudahlah, ada hits lainnya seperti, Kita Slamanya, Tetap Semangat, Not With Me, dan Sang Juara.
 
“Mereka ini memang fenomenal. Untuk itu, tetap bergabung dalam KMM 2019. Sebab, komposisi dari musik terbaik ada di sini,” ujar Ricky.
 
Selain banyak hits, Bondan Prakoso juga memiliki beberapa penghargaan. Album Funkadelic Rhythm and Distortion (2000) bahkan dinobatkan AMI Sharp Awards 2001 sebagai Group Alternatif Terbaik. Ada juga AMI Awards 2003 sebagai Kolaborasi Rock Terbaik. Award ini sebagai apresiasi atas kolaborasi Fungky Kopral dengan Setiawan Djody pada 2002.
 
“Harus diakui, Bondan Prakoso ini figur luar biasa. Kreativitasnya dalam bermusik terus dialirkannya. Kehadiran Bondan dan Maria Vitoria di KMM 2019 tentu jadi paket terbaik. Yang jelas, selain atraksinya, KMM 2019 juga ditopang aksesibilitas dan amenitas luar biasa. Enjoy Malaka,” tutup Menteri Pariwisata Arif Yahya. 

Editor : Azhari Nasution