logo

Survei PolMark: Parpol Pemberi Solusi Masalah Paling Banyak Dipilih

Survei PolMark: Parpol Pemberi Solusi Masalah Paling Banyak Dipilih

Foto ilustrasi: Partai Golkar. (Istimewa)
13 Maret 2019 11:18 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ada yang menarik, mencermati hasil survei PolMark Indonesia terkait kesiapan partai politik (parpol) dalam menghadapi Pemilu 2019 yang  tinggal sebulan lagi. Intinya, masih ada kesempatan bagi parpol-parpol untuk meningkatkan elektabilitasnya dengan memberikan solusi terbaik bagi konstituen yang tertimpa masalah,

CEO sekaligus Pendiri PolMark Indonesia Eep Saefulloh Fatah, melalui keterangan tertulisnya, Selasa (12/3/2019), memaparkan sejumlah dasar pertimbangan responden dalam memilih partai. Yang terbanyak, parpol yang  memiliki jalan keluar atas masalah  warga (masyarakat) menjadi  dasar pertimbangan utama responden dalam memilih partai di pemilu mendatang.

Tercatat sebanyak 76,6 persen responden menggunakan dasar pertimbangan tersebut (memiliki jalan keluar atas masalah warga) dalam memilih parpol. Pertimbangan ini paling banyak dipilih oleh responden dari Sumatera (82,19 persen), dan disusul oleh yang berasal dari Jawa (76,1 persen) serta wilayah lainnya (71,6 persen).

Secara implisit, dari hasil  survei PolMark tersebut, para kader parpol diingatkan untuk melakukan introspeksi dan menyadari kekurangannya bila masih punya masalah  dengan warga masyarakat. Penyelesaian  masalah secepatnya sebelum  hari 'H' pencoblosan pemilu sangat ditekankan demi citra diri  dan citra baik partainya hingga mampu meraih suara sebanyak-banyaknya di perhelatan pemilu nanti.

Yang jelas, tentu  dibutuhkan political will dari para pimpinan  dan kader  partai mana pun untuk secepatnya segera menyelesaikan masalah sekaligus memberikan solusi terbaik kepada warganya terkait permasalahan yang dimaksud.

Lebih jauh hasil survei Polmark Indonesia  menyebutkan, pertimbangan kedua terbanyak dalam memilih parpol adalah faktor memihak dan membela kemajemukan (75,3 persen), yang masih lebih dipilih ketimbang yang dianggap berpihak kepada atau membela umat.  Rinciannya, pemilih di wilayah Sumatera menyumbang 81,3 persen untuk kategori ini, pemilih di Jawa 74,7 persen,  dan wilayah lainnya 69,8 persen.

Pertimbangan ketiga terbanyak adalah faktor memihak dan membela umat agama pemilih dengan angka 70,1 persen. Faktor ini dipertimbangkan oleh 76,5 persen pemilih di Sumatera; 74,7 persen pemilih di Jawa; dan 69,8 persen pemilih di wilayah lainnya.
Rinciannya, pemilih di wilayah Sumatera menyumbang 81,3 persen untuk kategori ini, pemilih di Jawa 74,7 persen, dan wilayah lainnya 69,8 persen.

Sementara  itu survei juga menyebut tiga masalah yang dianggap responden paling mendesak. Yakni, perbaikan ekonomi (18,5 persen), lapangan kerja (15,8 persen), dan perbaikan jalan (13,9 persen).

Survei ini berlangsung pada 7 Oktober 2018 hingga 12 Februari 2019 di 73 daerah pemilihan dan melibatkan 32.560 responden. Survei ini merupakan hasil kerja sama dengan Partai Amanat Nasional (PAN).

Secara keseluruhan, survei PolMark Indonesia menyebut sejumlah parpol yang berpotensi lolos ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen.

Yakni, PDIP (Jawa 32,9 persen, Sumatera 20,2 persen, dan wilayah lainnya 22 persen), Partai Gerindra (13,7 persen, 16,7 persen, 13 persen), Partai Golkar (10,3 persen, 17,5 persen, 19,6 persen), PKB (15,7 persen, 4,5 persen, dan 4 persen).

Kemudian, Partai Demokrat (6,1 persen, 9,2 persen, dan 7,7 persen), PAN (4,3 persen, 9,2 persen, dan 8 persen), Partai NasDem (3,7 persen, 7,9 persen, 9,3 persen), PKS (4,3 persen, 6,2 persen, 4,6 persen), dan PPP (4,9 persen, 3,4 persen, 4,7 persen).

Sisanya, kemungkinan gagal melampaui ambang batas parlemen. ***

Editor : Pudja Rukmana