logo

Indonesia - Singapura Tandatangani Nota Kesepahaman Bidang Ekonomi Digital

Indonesia - Singapura Tandatangani Nota Kesepahaman Bidang Ekonomi Digital

Kiri ke kanan, MenKominfo Rudiantara, Dubes Indonesia untuk Singapura Ngurah Swajaya, Hade Lee, serta Fiona. (foto, ist)
13 Maret 2019 08:05 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - TANGERANG: Menteri Komunikasi dan Informatika (MenKominfo) Rudiantara, dan Dubes Indonesia untuk Singapura Ngurah Swajaya, menyaksikan sekaligus penandatanganan tiga nota kesepahaman kerja sama Indonesia - Singapura di bidang ekonomi digital.

Penandatanganan nota kesepahaman tersebut berlangsung di tengah-tengah penyelenggaraan Reginal Investment Forum (RIF) di ICE BSD City, Tangerang, Senin (11/3/2019) kemarin.

Ketiga nota kesepahaman tersebut, terdiri dari pendirian WeKode Coding School antara PT RISING Innovation Ventures dan SGFintech Pte Ltd, pendirian co-working space antara PT. WeKode Techno-Preneur Hub dan SGFintech Pte Ltd, serta nota kesepahaman untuk penyediaan talenta digital antara PT RISING Innovation Ventures dan Glexindo.

Pada kesempatan itu, Menkominfo menyatakan, kerja sama tersebut sesuatu yang ditunggu guna mengatasi kurangnya talenta di bidang ekonomi digital di Indonesia. "Kami menyambut baik inisitatif PT RISING Innovation Ventures dan SGFintech Pte Ltd untuk mendirikan coding school di Indonesia," ujarnya.

Dikemukakannya, WeKode akan menjadi sekolah coding Indonesia - Singapura pertama yang rencananya akan didirikan di Indonesia.

Sementara itu, Jocelyn Luhur elaku CEO PT RISING Innovation Ventures menyatakan, minat kaum millennial di bidang coding ini sangat tinggi, begitu juga permintaan pasar bagi coder.

“Kami berusaha menjembatani kebutuhan tersebut, dan kami yakin dengan didukung syllabus dan program yang bagus dari Singapura, WeKode coding school dapat menciptakan talenta-talenta yang handal dan siap pakai bagi pelaku industri digital." tuturnya.

Selain pendirian coding school, WeKode juga bekerja sama dengan SGFintech Pte Ltd, untuk mendirikan co-working space yang di design khusus untuk menjadi inkubator-inkubator technopreurs bagi usaha rintisan (startups) Indonesia.

Di bagian lain, Presiden Direktur SGFintech Pte Ltd sekaligus Ketua Asosiasi Fintech Singapura Hock Lai menyatakan, coding school harus didukung dengan pembangunan co-working space guna terciptanya sebuah ekosistem yang memadai.

“Untuk memaksimalkan pertumbuhan ekonomi digital, kita harus menciptakan talenta yang handal dan ekosistem yang akan mendukung terciptanya unicorn-unicorn baru di Indonesia," ungkapnya.

Kerja sama antara pelaku usaha tersebut difasilitasi oleh KBRI Singapura, yang pada kesempatan sama melakukan misi bisnis ekonomi digital dengan membawa 15 venture capitals asal Singapura ke Indonesia.

Dubes Indonesia untuk Singapura, Ngurah Swajaya menekankan, pentingnya perkembangan fintech dan blockchain, serta tersedianya sumberdaya manusia yang handal. Dalam bidang coding, untuk memanfaatkan potensi ekonomi digital di Indonesia, yang diperkirakan bernilai US$ 130 milyar tahun 2020.

“Sebagai negara yang memiliki valuasi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan valuasi sekitar US$ 130 miliar tahun 2020, yang diikuti Thailand USD 43 miliar. Indoneaia dinilai perlu untuk memanfaatkan peluang ini," tutur dia.

Turut hadir di acara tersebut Direktur Eksekutif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Triyono Gani, Deputi Akses Permodalan, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fadjar Hutomo, Direktur Kebijakan Sistem Pembayaran, Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono, dan Direktur Asia Tenggara, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Denny Abdi.

Seperti diketahui, WeKode merupakan persusahan bersama, yang kepemilikan sahamnya masing-masing dikuasai Effendy Tjoeng, owner dari PT Agrindo Bogatama, atau produsen agar-agar Swallow (Indonesia), dan Fiona Chaw, owner dari AIMCO Global Pte.Ltd, sebuah perusahaan jasa konsultan branding dan marketing.

Yang juga berperan selaku perwakilan Metro TV di Singapura, yang berhasil menyatukan visi pelaku usaha digital Singapura dan Indonesia, untuk mendirikan sekolah coding bagi kaum millennial di Indonesia.

Editor : Pudja Rukmana