logo

Suara Generasi Milenial

Suara Generasi Milenial

08 Maret 2019 21:48 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Pilpres sebenar lagi dan kedua kandidat dituntut untuk menang dengan mendulang suara terbanyak. Meski potensi golput tidak bisa diabaikan, namun kuantitas dan kualitas dari suara generasi milenial tidak kalah pentingnya untuk didulang. Oleh karena itu sangatlah beralasan jika kedua kandidat yang kali ini melaukan rematch berlomba-lomba meraih suara dari kaum milenial. Petahana tentu memanfaatkan kesempatan emas ini dengan mendekati kaum milenial. Setidaknya dengan touring pendek dengan motor chopper nya beberapa waktu lalu menjadi salah satu strategi untuk meraih simpati komunitas motor yang notabene juga mewakili karakteristik kaum milenial. Kubu pesaing memanfaatkan eksistensi Sandi untuk juga meraih suara kaum milenial, selain suara dari emak-emak.

Kalkulasi dari sekitar 193 juta pemilih ternyata kisaran 70-80 juta atau 40 persen adalah generasi milenial. Tentu ini jumlah yang sangat signifikan untuk direbut dan karenanya dari kedua kandidat memanfaatkan betul semua kesempatan untuk bisa mendekati kaum milenial tersebut. Meski dalam beberapa kasus terjadi persoalan misalnya E-ktp tercecer dan juga kepemilikan E-ktp oleh WNA namun secara kumulatif jumlahnya tidak cukup signifikan, meski di sisi lain dugaan politisasi dari kasus tersebut sempat mencuat juga ke permukaan dengan berbagai dalih. Oleh karena itu, beralasan jika kemudian aparat dan Kemendagri serta melibatkan KPU dan Bawaslu menelusuri kasus tersebut sehingga diharapkan bisa cepat tuntas sebelum pilpres.

Tidak bisa dipungkiri bahwa menjelang pilpres bermunculan berbagai kasus yang pada akhirnya dikaitkan dengan kepentingan politis. Paling tidak hal ini bisa terlihat misalnya kasus penyaluran bansos yang dipercepat, alokasi dana desa dan keluarahan, wacana kartu pra kerja yang terkesan tidak masuk akal karena membiayai pengangguran, dan  munculnya berbagai ujaran kebencian. Fakta itu semua tentu menjadi pembelajaran yang sangat penting bagi kaum milenial karena mereka dijejali dengan berbagai kasus yang muncul menjelang pilpres dan karenanya beralasan jika kemudian pemerintah sangat berkepentingan untuk mereduksi kasus-kasus tersebut, setidaknya untuk meminimalisir hoax. Argumen yang mendasari agar kaum milenial bisa berpikir jernih terhadap ragam ujaran kebencian, kampanye hitam, kampanye negatif dan hoax apalagi sentimen SARA

Membidik suara dari kaum milenial memang dibenarkan dan diharuskan agar menang di pilpres, termasuk juga para caleg untuk mendulang suara dari kaum milenial. Meskipun demikian, pesta demokrasi tetap harus menjaga marwah kesucian demokrasi agar tidak menjadi pecundang dibalik kemenangan yang terjadi. Oleh karena itu, pesta demokrasi memang harus dipersepsikan kegembiraan untuk semua, bukan justru sebaliknya yang terjadi adalah ketakutan akibat intimidasi dan sebaran ujaran kebencian. Jika yang ada adalah demikian maka tidak memberikan edukasi kepada kaum muda atau milenial yang nantinya akan menjadi penerus dari kehidupan demokrasi di republik ini. Menanamkan  hal yang buruk akan menuai hasil yang buruk juga sehingga kehidupan demokrasi akan penuh dengan dendam kesumat. Jika ini yang terjadi berarti bukan pesta demokrasi yang muncul, tetapi justru intrik kepentingan politik demi kemenangan sesaat yang semu.

Kedua kandidat tetap berpotensi meraih suara terbanyak dari kaum milenial. Argumen yang mendasari adalah potensi suara dari kaum milenial sehingga keduanya harus dapat menentukan strategi yang jitu agar suara milenial dapat terpengaruh dengan kampanye simpatik, bukan justru sebaliknya menebar kebencian dan ancaman, termasuk juga salah kaprah dalam membalut kampanye dengan sentuhan SARA, apalagi politisasi agama dengan pengerahan umat. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo