logo

Indonesia Juara

Indonesia Juara

04 Maret 2019 09:09 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Tinta emas persepakbolaan nasional tertoreh ketika Timnas U-22 menjuarai piala AFF U-22 di Phnom Penh, Kamboja setelah mengalahkan Thailand 2-1. Hebatnya lagi hal ini terjadi bersamaan dengan kisruh PSSI terkait persepakbolaan yang dihantui problem mafia dalam pengaturan skor.

Di satu sisi, prestasi ini menjadi headline sejumlah media yang bertuliskan ‘Indonesia Juara’ sementara di sisi lain Timnas U-22 kebanjiran bonus, termasuk dari Presiden Jokowi sebesar Rp.200 juta per orang. Yang menarik dicermati bukan hanya torehan prestasi juara yang diraih bukan di dalam negeri, tapi justru di laga luar negeri sehingga ini menjadikan strategis dengan menyebutkan Indonesia bukan jago kandang, setidaknya dalam kancah persepakbolaan dalam lingkup Asia Tenggara.

Hal lain yang juga menarik dicermati adalah politisasi dibalik kemenangan itu sendiri dan tentu hanya petahana yang bisa memanfaatkannya. Paling tidak, jamuan di istana yang kemudian ditambah dengan kucuran dana itu adalah salah satu politisasi yang tentunya bisa memicu sentimen lawan politiknya yang akan bertarung di pilpres 2019.

Selama ini, persepakbolaan di Asia Tenggara didominasi oleh Thailand, Vietnam dan Malaysia, sementara Indonesia hanya menjadi pesaing yang belum terlalu bertaring. Hal ini tentu menjadi tantangan dan persoalan tersendiri, apalagi dikaitkan dengan kumulatif jumlah penduduk dengan sebaran demografis dan geografisnya sehingga kondisi yang demikian seharusnya memberikan peluang untuk merekrut bibit-bibit pemain terbaik dari berbagai daerah. Apa yang dilakukan pelatih Indra Sjafri menjanjikan sesuatu yang menarik dan sejumlah prestasi telah berhasil ditorehkan. Argumen yang mendasari yaitu pencapaian minimal di semi final dalam berbagai pertandingan yang diasuh oleh Indra Sjafri memberikan gambaran bahwa penemuan bibit-bibit unggul persepakbolaan tidak sulit selama dilakukan dengan seksama dan Indra Sjafri telah membuktikannya.

Pencapaian itu menegaskan bahwa bibit unggul bukan diraih dengan naturalisasi tetapi justru polesan tangan dingin dan naluri pelatih dalam menatap skill setiap calon bintang di lapangan. Meskipun tidak mengabaikan pentingnya sejumlah liga dalam aturan main PSSI, namun fakta membuktikan bahwa sejumlah liga itu sendiri tidak bisa terlepas dari mafia persepakbolaan. Selain itu, kisruh di sejumlah pertandingan juga menyiratkan sisi pentingnya pengembangan mental dan psikologis pemain agar tidak mudah terpancing dan terprovokasi dalam setiap pertandingan. Bagaimanapun juga sepak bola bukanlah arena tinju atau smackdown, apalagi UFC yang penuh aksi kekerasan. Sepak bola tentu sebuah ritme permainan cantik yang dibangun sedari awal di mulut gawang untuk terus bisa memasukan bola ke gawang lawan tanpa harus dibumbui dengan aksi kekerasan di lapangan sepanjang pertandingan.

Terlepas dari capaian prestasi yang terus ditorehkan oleh Timnas dibawah asuhan sang pelatih Indra Sjafri, pastinya ke depan persepakbolaan nasional harus bisa lebih bangkit dari keterpurukan dan kisruh mafia pengaturan skor yang sejatinya mematikan spirit pertandingan dan sekaligus mematikan karier pemain sepak bola nasional. Prestasi ini adalah tindaklanjut dari sejumlah prestasi yang dicapai dalam Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta dan Palembang tahun 2018 kemarin. Indonesia Bisa, Indonesia Juara. Selamat.. Siapa Kita? Indonesia ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo