logo

Warga Di Perbatasan Maluku Diimbau Mewaspadai Hujan Dan Angin Kencang

Warga Di Perbatasan Maluku Diimbau Mewaspadai Hujan Dan Angin Kencang

04 Maret 2019 19:12 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - AMBON: Masyarakat di wilayah perbatasan Maluku diimbau mewaspadai hujan dengan itensitas sedang sampai angin sulit kencang hingga beberapa hari ke depan.

Kepala Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, Ot Oral Sem Wilar saat membahas, Minggu (3/3/2019), mengatakan, kondisi cuaca seperti itu terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru, Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya ( MBD).

Kabupaten dan Kota di wilayah perbatasan ini dengan Australia dan Timor Leste.

Adanya awan hitam (Cumulonimbus) di lokasi tersebut dapat menimbulkan angin kencang dan menambah gelombang tinggi.

Kondisi ini berarti adanya TC "HALEH" 995 hPA MAX 35kt di Samudera Hindia sebelah Barat Sumatra.

Daerah dengan potensi pertumbuhan awan akibat dari pertemuan dan belokan angin di wilayah Maluku Bagian Barat hingga Barat Daya yang dapat meningkatkan kecepatan angin dan gelombang sesaat, kata Ot.

Sementara, kondisi sinoptik angin umumnya dari arah Barat Daya - Barat Laut dengan kecepatan terbesar 20 Knot (40 KM / jam).

Tinggi gelombang mencapai 2,5 meter berpeluang terjadi Laut Maluku bagian Utara. Suhu 18 - 21 derejat Celcius dan kelembaban 80 - 90 persen.

Dia mengatakan, para nelayan telah diimbau mewaspadai gelombang yang tinggi ini dan mendesaknya jangan memaksakan diri melaut dengan armada tradisional.

Armada tradisional tidak kuat menahan kondisi tersebut, terjadi pada saat terjadi perubahan kecepatan sehingga mempengaruhi gelombang tinggi.

Atau mengimbau, imbauan kondisi cuaca juga disampaikan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sembilan kabupaten dan dua kota, termasuk para Bupati dan Wali Kota.

Jika terjadi kondisi terburuk, maka Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas 1 Ambon tidak memerlukan izin berlayar, bahkan sekiranya dianggap memerlukan aktivitas pelayaran untuk sementara dibuka sambil menunggu guna memperbaiki cuaca.

"Para pengguna jasa transportasi juga berusaha memaklumi ketika terjadi penundaan dan penundaan jadwal pembuatan kapal karena faktor perlunya memprioritaskan keselamatan," kata Ot seperti dilansir Antara. ***    

Editor : Markon Piliang