logo

TAGANA Masuk Ke Sekolah Menjadi Gerakan Nasional

TAGANA Masuk Ke Sekolah Menjadi Gerakan Nasional

TAGANA Masuk Sekolah disambut antusias para siswa. (foto, ist)
03 Maret 2019 19:49 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Usai diresmikannya Taruna Siaga Bencana (TAGANA) masuk ke sekolah oleh Presiden Joko Widodo, di Pandeglang, Banten, pada 18 Februari 2019 lalu. Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, TAGANA Masuk Sekolah (TMS) siap menjadi gerakan nasional.

TMS berlanggung sangat masif di berbagai sekolah di Indonesia. "Kami siapkan pedoman orperasional, jaringan kerja sama dengan Kemendikbud dan BNPB, serta melibatkan organisasi kemanusian peduli bencana," ujarnya, di Jakarta, Minggu (3/3/2019).

Ini, imbuhnya, sesuai arahan Bapak Presiden, agar gerakan ini betul-betul menciptakan masyarakat yang tanggap bencana. Presiden, lanjut Mensos, tegas menyampaikan bahwa masyarakat harus siap dalam menghadapi bencana.

Pasalnya, Indonesia dilewati oleh jalur cincin api sehingga ada daerah-daerah yang rawan terhadap gempa, rawan banjir, rawan longsor, ada juga daerah yang rawan terhadap tsunami, serta bencana-bencana yang lainnya.

"Tidak ada yang tahu kapan bencana datang, namun dengan pengetahuan mitigasi bencana diharapkan dapat membangun masyarakat tanggap bencana. Salah satu edukasinya melalui TSM ni," tuturnya.

Mensos mengatakan, belum genap satu bulan sejak program ini diluncurkan, TMS telah bergulir kencang di berbagai provinsi, kabupaten dan kota. Di antaranya Belitung Timur, Bangka Belitung, Sumedang dan Tasikmalaya Jawa Barat, Ponorogo dan Tuban Jawa Timur, Banjarmasin Kalimantan Selatan, Kepulauan Talaud Sulawesi Utara, Kabupaten Bantul DIY, serta sejumlah daerah lainnya.

"Kepada rekan-rekan Tagana di seluruh pelosok Nusantara, pemerintah menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan pengabdian dalam mendorong kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana. Juga kepada pemprov, kota maupun kabupaten yang membantu memfasilitasi kegiatan ini," papar Mensos.

TMS berlangsung di sekolah-sekolah di berbagai wilayah di Indonesia. Pesertanya bervariasi di setiap sekolah antara 100 hingga 400 orang per titik. Materi yang diberikan beragam dengan materi dasar upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Di Kabupaten Sleman, DIY, TAGANA melakukan sosialisasi PRB, Logistik, serta Shelter. Acara yang berlangsung di Bumi Perkemahan Agro Merapi Kabupaten Sleman ini disambut antusiasi peserta.

Di Sumedang, TMS diikuti pelajar SMP dengan materi Pengenalan Bencana dan potensinya di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Peserta juga diajarkan tentang evakuasi sederhana dan mandiri yang bisa dilakukan peserta bila terjadi bencana, baik perorangan maupun kelompok.

Di Tasikmalaya, Jawa Barat, selain memberikan materi dasar pertolongan kepada peserta, TMS juga menyusun peta jalan dan rambu evakuasi, serta rencana pembentukan tim kebencanaan di sekolah.

Sementara di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, TAGANA mengajarkan tentang potensi kebencanaan di wilayah Kalimantan, Pengurangan Risiko Bencana Gempa Bumi dan Angin Puting Beliung, serta simulasi jika terjadi bencana. "Targetnya adalah peserta mempunyai pengetahuan tentang bencana, potensi dan upaya pengurangan risiko bencana pada tingkatan yang paling sederhana, " kata Mensos.

Sehingga, mereka mampu menyelamatkan diri sendiri dan evakuasi sederhana bila terjadi bencana.

Editor : Gungde Ariwangsa SH