logo

Mengintip Cara Berpikir Ala Haryono Suyono

Mengintip Cara Berpikir Ala Haryono Suyono

27 Februari 2019 19:20 WIB

SuaraKarya.id - Oleh : Dr Mulyono D Prawiro

Berpikir oleh sebagian orang diartikan sebagai memberikan peranan kepada akal agar menemukan jalan ke luar terbaik dari suatu permasalahan yang dihadapi. Banyak orang berpikir secara instan dalam memecahkan suatu masalah, dan kadang-kadang terkesan mudah dan dengan hasil yang diharapkan juga bisa tepat. Lain hal dengan Prof Dr Haryono Suyono, sebagai seorang Doktor keluaran University of Chicago, Amerika Serikat ini dan juga pernah menjabat Menko Kesra dan Taskin/Kepala BKKBN yang sudah sangat terkenal di negeri ini, mempunyai cara unik untuk membantu menyelesaikan pengentasan kemiskinan di negeri ini, dan dikaitkan dengan upaya pencapaian sasaran Pembangunan Sustainable Development Goal’s atau SDG’s.

Sebagai seorang yang sangat banyak makan asam garam dan selalu malang-melintang, baik itu di luar negeri maupun berkunjung ke desa-desa dan melihat langsung keberadaan rakyat, ternyata mereka ini masih jauh dari harapan untuk dapat hidup sejahtera. Sudah banyak program yang digelontorkan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan, namun belum sesuai dengan yang diharapkan.

Pemerintah saat ini memiliki dana yang cukup melimpah dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, dan untuk mengatasi kemiskinan, pemerintah beberapa tahun terakhir telah menggulirkan program Dana Desa untuk pembangunan infrastruktur desa dan juga upaya membantu pemberdayaan rakyat miskin di desa. Pada pemerintahan sebelumnya, dalam upaya pengentasan kemiskinan dan membantu rakyat miskin, pemerintah RI menyelenggarakan program Bantuan Langsung Tunai atau BLT. Program ini oleh berbagai kalangan mulai banyak mendapat kecaman, karena menganggap program yang tidak mendidik rakyat dan membuat rakyat semakin malas untuk bekerja dan mematikan sifat kegotong-royongan yang ada di tengah masyarakat.

Program BLT dinilai merupakan cara pemerintah untuk mempermudah penyelesaian masalah, orang miskin supaya tidak miskin ya diberi bantuan uang. Itu cara berpikir yang linier dan mudah, tetapi bukan penyelesaian masalah jangka panjang. Dengan adanya BLT, kemiskinan bukan malah berkurang, melainkan justru sebaliknya. Orang yang tadinya tidak miskin mendadak mengaku dirinya miskin karena ada bantuan dari pemerintah.

Berpikir mengentaskan kemiskinan bukan dengan cara memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT), tetapi mengajak rakyat untuk bekerja keras dan cerdas, bukan menjadikan mereka peminta-minta dan mengorbankan harga dirinya, tetapi rakyat harus didorong, diberdayakan, didampingi dan dibimbing agar mampu hidup mandiri dan harga dirinya dijunjung tinggi. Program BLT oleh sebagian kalangan dianggap program pembodohan rakyat dan selalu mendapat kritikan tajam, demikian juga Haryono, dengan jelas-jelas tidak sependapat dengan adanya BLT dan anti dengan program-program yang sifatnya gratis untuk rakyat, karena menurunkan wibawa rakyat itu sendiri.

Menurut pemikiran Haryono, melihat kemiskinan bukan dari satu atau dua faktor saja yang mempengaruhi, melainkan banyak faktor, antara lain faktor kesehatan masyarakatnya, faktor pendidikannya, faktor ekonominya dan faktor lingkungannya. Cara berpikir Haryono dalam mengatasi kemiskinan sejalan dengan apa yang menjadi target dunia yang telah menjadi kesepakatan para pemimpin dunia pada saat berkumpul di New York tahun 2000 dan 2005 yang lalu. Pengentasan kemiskinan harus dikaitkan dengan minimal 4 faktor utama di atas. Oleh karena itu, Haryono tidak ingin melihat bangsa ini menjadi bangsa yang terbelakang dan miskin, oleh karena kecintaannya kepada bangsa dan rakyat Indonesia inilah, maka Haryono memunculkan pemikiran-pemikiran yang inovatif dan strategi dalam upaya mengentaskan kemiskinan di negara tercinta ini.

Penulis menyebutnya, Haryono berpikir Non-Linier, artinya proses pengentasan kemiskinan tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua lembaga saja, termasuk pemerintah sendiri, tetapi harus melibatkan seluruh komponen pembangunan. Penulis teringat apa yang dikatakan seorang ahli Matematika Albert Einstein, kita harus berpikir agak berbeda dengan yang lain, perlu berpikir membuat hubungan, walaupun kadang-kadang tampaknya tidak terlihat seperti ada hubungannya, seolah-olah terkesan melompat-lompat kesana-kemari seperti seni dan musik serta selalu membuka pintu bagi siapa saja yang ingin bergabung, bukan menutupnya. Tidak ada istitah memutus pertemanan, tetapi memperbanyak persaudaraan, dengan siapa pun mereka. Teknik ini mungkin yang sebagian dipakai oleh Haryono dalam menyelesaikan masalah kemiskinan. Siapa saja boleh ikut dan prinsip yang dipakai adalah banyaknya orang atau lembaga yang ikut berpartisipasi. Menjaring Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, Perbankan, Organisasi Sosial, tokoh masyarakat dan berbagai komponen bangsa lainnya.

Haryono setiap saat selalu menyapa melalui WhatsApp kepada sahabatnya, meskipun hanya mengucapkan selamat pagi atau apa kabar. Dalam hubungan dengan perguruan tinggi, tidak bosan-bosannya Haryono mengunjungi untuk bersilaturahmi dengan rektor-rektor, baik negeri maupun swasta yang mempunyai program KKN dan mahasiswa yang cukup banyak untuk sowan dan menawarkan konsep kerja sama dalam membangun manusia Indonesia. Haryono penganjurkan kepada para rektor untuk menerjunkan para mahasiswanya ke desa guna melakukan KKN tematik yang dikaitkan dengan penyelesaian target-target SDG’s.

Walaupun secara pribadi Haryono adalah mantan pebajat tinggi negara, bahkan pernah mewakili Presiden BJ Habibie pada pertemuan para kepala negara D8 di Bangladesh, semua itu ditanggalkan. Bukan hanya dengan rektor, dengan para pimpinan daerah pun Haryono sowan dan membantu daerah tersebut untuk segera memulai proses pemberdayaan keluarga di desa-desa. Dengan tidak kenal lelah Haryono hampir setiap minggu berkunjung ke daerah-dearah untuk menemui Bupati/Walikota, rektor dan para pimpinan daerah lainnnya, untuk membangun komitmen, sehingga mereka itu benar-benar peduli terhadap rakyatnya. Gagasan-gagasan yang ditawarkan, sampai saat ini belum pernah ada rektor atau pimpinan daerah yang menolaknya, karena beliau datang bukan untuk meminta-minta proyek, tetapi membawa konsep dan gagasan yang bisa dijalankan bersama. Ukurannya bukan berapa besar proyek, tetapi berapa manusia yang diuntungkan dengan adanya kerja sama ini dan semua orang merasa diuntungkan dan tidak berpikir negatif atau pun saling curiga, melainkan berpikir positif dan inovatif untuk kesejahteraan bersama.

Haryono yang saat ini mendapat kepercayaan untuk menjadi Ketua Tim Advisor Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dan sebelumnya adalah Ketua Yayasan Damandiri telah menjaring tidak kurang dari 450 perguruan tinggi dan 300 Pemerintah daerah untuk menyumbangkan gagasan dan konsep. Konsep yang ditawarkan minimal ada empat pilar yang menjadi prioritas utama bagi mahasiswa dalam rangka KKN tematik Posdaya ini. Pilar-pilar tersebut adalah bidang pendidikan, para mahasiswa diharapkan memberikan dorongan kepada para orang tua di desa-desa agar anak-anak yang usia sekolah, didorong dan diajak untuk masuk sekolah. Bidang kesehatan, para mahasiswa diberi bekal untuk mengembangkan kebun bergizi dan membantu rakyat desa untuk menanam tanam-tanaman bergizi di sekitar rumahnya, sehingga dengan demikian pemenuhan gizi keluarga mereka terjamin dan tetap hidup sehat serta berumur panjang. Bidang ekonomi atau kewirausahaan, dengan adanya mahasiswa terjun ke lapangan, keluarga-keluarga yang selama ini belum memiliki kegiatan usaha, diajak bergabung dalam kelompok usaha di desa, bergabung dalam BUMDes, berbaur dengan keluarga yang lebih mampu, sehingga dapat mengembalikan modal sosial dan hidup saling gotong-royong di antara warga desa, dan akan tercipta suasana damai, aman dan tenteram serta ekonomi di daerah tersebut dapat tumbuh dan berkembang. Bidang lingkungan juga sangat penting, dengan adanya tanaman-tanaman yang ada di sekitar rumah keluarga di desa, maka akan menciptakan rasa aman, nyaman lingkungan yang bersih, kondusif dan yang jelas kehidupan akan lebih baik dan lebih sejahtera.

Itulah kira-kira cara berpikir Non-Linier yang dipergunakan Haryono Suyono dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

(Penulis adalah Dosen Pascasarjana dan Anggota Senat Universitas Satyagama dan Universitas Trilogi, Jakarta)

Editor : Gungde Ariwangsa SH