logo

MRT, Solusi DKI Menyambut Pagi

MRT, Solusi DKI Menyambut Pagi

27 Februari 2019 13:57 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh : Markon Piliang

Jakarta dipagi hari menjadi kota yang paling sibuk. Kemacetan terjadi dimana-mana, membuat lalu lintas menjadi semrawut. Berbagai cara sudah dilakukan Pemerintah Provinsi DKI dengan menggeluarkan berbagai kebijakan. Tapi bak mengurai benang kusut, akar masalah tak jua ditemukan. Akankah Mass Rapid Transit (MRT) menjadi solusi DKI menyambut pagi?

JARUM jam baru menunjukkan pukul 06.30 WIB pagi. Di langit mendung menggantung seperti menahan hujan yang bakal turun. Di jalanan, lalu lalang penduduk Jakarta saling terburu-buru. Lantaran takut terjebak hujan sebelum sampai di tempat kerja, laju kendaraan dipercepat. Tak peduli apa yang akan terjadi.

Pasalnya, siang sedikit lagi irama klasik kota ini kembali pada pesonanya sendiri, terjebak pada kemacetan. Betapa tidak, penduduk Jakarta yang pada malam hari berjumlah 9, 6 juta jiwa akan membengkak menjadi 12 juta lebih di siang hari. Sekitar 2,4 juta jiwa lebih adalah masyarakat yang tinggal di daerah penyanggah seperti Bekasi, Tangerang, Depok dan Bogor namun mereka mencari nafkah di Jakarta.

Bisa dibayangkan sesaknya jalanan Kota Jakarta pada jam-jam sibuk saat penduduk kota ini menuju tempat bekerja. Belum lagi di area pemukiman yang banyak anak sekolah, semakin membuat suasana menjadi lebih ruwet.

Entah karena sudah terbiasa dengan kemacetan lalu lintas yang semrawut, sumpah serapah para sopir yang disalip sekonyong-konyong oleh pengemudi lain sudah menjadi makanan sehari-hari. Dimana tak ada lagi etika dan sopan santun, sementara ego dinaikkan ke puncak tertinggi.

Berbagai cara sudah dilakukan pemimpin Jakarta untuk mengatasi kemacetan. Entah sudah berapa kali pergantian gubernur, masalah kemacetan tak juga teratasi. Masalahnya, jalanan tidak bertambah tetapi jumlah kendaraan terus bertambah setiap waktu. Berbilang hari hingga berganti tahun.

Moda transportasi Trans Jakarta, sistem tri in one, dan pemberlakuan plat nomor genap ganjil di jalan-jalan tertentu ternyata tak menyelesaikan persoalan. Harapan pemerintah Kota Jakarta agar pemilik kendaraan pribadi beralih ke Trans Jakarta sejak 2004 lalu ternyata tak berhasil.

Moda transportasi terbaru di Ibukota, MRT agaknya akan menjadi solusi terbaik mengurangi kemacetan. Jalur kereta yang dibuat di bawah tanah sepanjang Bundahan HI – Lebak Bulus tersebut diharapkan menarik minat pemilik mobil pribadi beralih ke MRT bagi mereka yang bertempat tinggal di kawasan Jakarta Selatan.

Jalur MRT tahap 1 Utara – Selatan sepanjang 16 kilometer dengan jarak tempuh 30 menit ini secara resmi sudah bisa dicoba 12 Maret mendatang. Rute ini akan melewati 13 stasiun, terdiri dari tujuh stasiun layang (Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja), serta 6 stasiun bawah tanah (Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI).

Pada tahap satu ini, MRT diperkirakan akan melayani 173.400 penumpang setiap hari melalui 16 set kereta, yang terdiri dari 14 set kereta operasi dan 2 kereta cadangan. Perkiraan jumlah penumpang setiap hari tersebut masih akan dipertegas lagi dengan Ridership Survey yang saat ini sedang dilakukan oleh PT MRT Jakarta.

Hebatnya lagi, jarak antarkereta hanya 5 menit sekali. Kereta akan dioperasikan secara otomatis melalui sistem persinyalan Communication-Based Train Control (CBTC) yang merupakan teknologi baru di Indonesia. Selain itu, rel kereta MRT Jakarta akan menggunakan Direct Fixation Tract, Anti Vibration Sleeper, PC Sleeper, dan Ballasted Track.

Pekan lalu Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan sudah mencoba MRT dengan melibatkan banyak wartawan. Dalam test waktu, benar jarak tempuh antara Bundaran HI – Lebak Bulus dan sebaliknya tidak lebih dari 30 menit.

Rencananya, bila tidak ada aral melintang MRT ini akan beroperasi penuh antara tanggal 24 dan 31 Maret. Artinya tidak sampai sebulan lagi warga Jakarta akan menikmati sebuah moda transportasi baru yang bernama MRT. Jika sukses mengurangi kemacetan, pembangunan tahap II Bundaran HI – Kampung Bandan yang disebut jalur Barat – Timur siap dibangun.

Dengan adanya MRT, sepertinya Gubernur Anies Baswedan telah menguak asa. Menepis penilaian bahwa menyelesaikan persoalan kemacetan di Jakarta sama saja menegakkan benang basah. Tidak akan berhasil.

Namun apa pun memang harus dicoba. Kendati mengorbankan pengguna jalan saat jalur tersebut dibangun, MRT diharapkan menjadi solusi DKI menyambut pagi. ***

 

Editor : Markon Piliang