logo

Merebut Suara Umat

Merebut Suara Umat

26 Februari 2019 20:04 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto diundang di Tanwir Muhammadiyah yang diselenggarakan pada 15-17 Pebruari 2019 lalu di Bengkulu bertema “Beragama Yang Mencerahkan” sesuai SK PP Muhammadiyah no. 265/KEP/I.0/B/2018. Jika dicermati bahwa tema: Beragama Yang Mencerahkan sejatinya bermakna global dan hal ini selaras dengan 4 agenda besar yang akan dibahas dalam sidang tanwir ke-51 itu.

Pertama: isu organisasi tentang perubahan anggaran Muhammadiyah, kedua: pokok-pokok pikiran Muhammadiyah, ketiga: aspek ceramah yang mewakili tokoh nasional, bukan sebagai capres yaitu Jokowi dan Prabowo dan keempat: perkembangan dinamika persyarikatan Muhammadiyah, baik di tingkat wilayah dan nasional. Pembahasan ke-4 isu tersebut sejatinya selaras dengan dinamika yang muncul dan berkembang di tahun politik. Oleh karena itu, tema ‘Beragama Yang Mencerahkan’ juga tidak bisa mengelak dari fenomena di tahun politik.

Muhammadiyah sebagai salah satu ormas keagamaan dengan basis umat yang terbesar dan tersebar memang menjadi target suara yang sangat menggiurkan dalam pemenangan pilpres, meski ada juga agenda pileg yang gaungnya tidak menguat dibanding pilpres. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dicermati meski sejatinya fakta yang muncul menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak berpolitik praktis. Sayangnya, eksistensi Muhammadiyah ada di lingkup perkembangan kehidupan demokrasi sehingga mau tidak mau harus ikut didalamnya, tanpa terkecuali. Oleh karenanya, apa yang ada dan berkembang saat ini memberikan kesempatan dan sekaligus tantangan kedepannya bagi Muhammadiyah untuk menentukan sikap dan karenanya tema tanwir kali ini yaitu ‘Beragama Yang Mencerahkan’ menjadi sangat relevan dengan perkembangan yang ada.

Tuntutan

Bagaimanapun juga basis umat Muhammadiyah yang terbesar dan tersebar, termasuk juga ketersediaan suara dari anak-anak muda Muhammadiyah menjadi suara penentu bagi kemenangan di pilpres. Oleh karenanya, merebut suara umat saat ini sangat penting bagi kedua kandidat untuk meraih simpatinya. Jadi, beralasan jika kemudian diantara keduanya saling mendekat ke umat, setidaknya mendapatkan restu dari para pemimpin umat sehingga beralasan jika kemudian muncul sejumlah tokoh keagamaan, ustadz dan kiai di sejumlah media yang saling mendukung terhadap kedua kandidat capres. Realitas ini sebenarnya sah saja dalam kehidupan demokrasi karena demokrasi adalah bagian dari kehidupan berkebangsaan. Meski demikian, bukan berarti kemudian saling dukung itu kemudian mengabaikan, apalagi menggadaikan nalar keagamaan dan karenanya hal ini selaras dengan tema tanwir yaitu ‘Beragama Yang Mencerahkan’, bukan sebaliknya memojokan dan saling terpecah belah hanya berdalih pemenangan demokrasi di pilpres.

Muhammadiyah dan NU, termasuk juga sejumlah organisasi keagamaan lainnya saat ini memang menjadi target perebutan suara untuk mendukung perhelatan demokrasi yang sejatinya menjadi bagian dari sinergi ekonomi-politik dan politik-ekonomi. Terkait hal ini, kepentingan ekonomi-politik dan politik-ekonomi memang harus diselaraskan agar tidak terjadi ketimpangan sehingga berdampak negatif terhadap kesejahteraan. Fakta ini menjadi pembenar ketika persatuan dalam balutan NKRI menjadi mutlak karena riak konflik yang muncul di pesta demokrasi memang mengkhawatirkan. Jadi, tema tanwir menjadi penyejuk diantara ancaman konflik dan riak menjelang pilpres sehingga sangat diharapkan agar komitmen ‘Beragama Yang Mencerahkan’ bisa benar-benar memberi kenyataan dalam ritme kehidupan demokrasi saat ini dan mendatang. Padahal, pilpres itu sendiri diharapkan dapat menghasilkan suksesi kepemimpinan terbaik bagi bangsa dan negara sehingga terlahir pemimpin yang amanah.

Mengacu kepentingan besar dengan berlatar tema tanwir 2019 ini yaitu ‘Beragama Yang Mencerahkan’ maka Muhammadiyah harus mengakomodasi semua kepentingan yang ada, yaitu tidak saja kepentingan umat tapi juga kepentingan kemaslahatan. Artinya hal ini menjadikan Muhammadiyah bukan hanya pergerakan yang berkepentingan untuk terus memajukan organisasinya secara internal tapi juga pertimbangan memadukan nilai kepentingan eksternal termasuk juga aspek kepentingan nasional karena Muhammadiyah ada dan hidup di lingkungan kebangsaan dan nasionalisme. Relevan dengan tuntutan ini maka keberagaman yang ada tidak bisa diabaikan karena keberagaman itu sendiri bisa menjadi kekuatan tapi di sisi lain jika tidak terorganisir dengan baik justru akan menjadi ancaman yang merusak persatuan dan kesatuan.

Orientasi

Sekali lagi bahwa keberagaman dan eksistensi Muhammadiyah sebagai salah satu ormas keagamaan terbesar dan tersebar menjadi target perebuatan suara untuk pemenagan di pilpres sehingga perlu ada sikap arif dalam mensikapi realitas ini. Betapa tidak andai hal ini tidak bisa ditolerir maka bisa memicu konflik internal, terutama saling dukung dan saling klaim atas salah satu kandidat. Intinya, bahwa tema tanwir 2019 ‘Beragama Yang Mencerahkan’ memberikan gambaran tentang pentingnya kesadaran bagi umat dan juga organisasi Muhammadiyah agar tetap waspada dalam menghadapi pesta demokrasi yang sangat rentan memicu konflik. Dengan kata lain persepsian tentang ‘Beragama Yang Mencerahkan’ bukan hanya sikap individu sebagai umat Islam tetapi juga kemaslahatan yang mewakili semua masyarakat.

Memang tidak mudah bagi Muhammadiyah dalam mensikapi perkembangan demokrasi di republik ini, terutama agenda 5 tahunan dalam balutan pesta demokrasi yaitu dalam aspek dukung mendukung salah satu kandidat. Artinya, meski sudah jelas dideklarasikan bahwa Muhammadiyah tidak berpolitik praktis namun sejatinya tidak bisa mengelak dari keterlibatannnya, baik itu secara langsung atau tidak langsung, baik itu oleh individunya atau organisasinya. Belajar dari kasus ini maka ke depan Muhammadiyah perlu belajar secara lebih mendalam tentang bagaimana mensikapi semua perubahan dan demokrasi yang berkembang karena hal ini akan menjadikan proses kedewasaan, tidak hanya untuk Muhammadiyah tapi juga organisasi sosial – keagamaan yang lain sehingga diharapkan dapat mereduksi berbagai ancaman yang ada. Jadi, beralasan jika tema tanwir ke-51 kali ini yaitu ‘Beragama Yang Mencerahkan’ karena sejatinya ada juga realitas beragama yang tidak mencerahkan, tapi justru memutarbalikan fakta dan memicu perpecahan umat. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo