logo

Terdakwa Eddy Sindoro Lupa Ke Negara Mana Saja Selama Buron

Terdakwa Eddy Sindoro Lupa Ke Negara Mana Saja Selama Buron

terdakwa Eddy Sindoro
22 Februari 2019 21:51 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id -  

JAKARTA: Bos PT Paramount Enterprise Internasional Eddy Sindoro membantah menyuap panitera Pengadilan Negeri (PN)  Jakarta Pusat Edy Nasution untuk mengurus perkara dua perusahaan yang sempat dipimpin Eddy di PN Jakarta Pusat

"Saya tidak punya kapasitas untuk memberikan uang," ujar Eddy Sindoro dalam sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (22/2/2019).

Eddy disebut menyuap Edy untuk mengurus dua perkara perdata di PN Jakpus. Namun Eddy Sindoro membantah mengenal Edy Nasution. Ia mengaku baru mengetahui sosok Edy Nasution setelah perkara suap ini muncul dan diperiksa di KPK.  "Saya enggak kenal. Mungkin pernah (kenalan), tapi saya enggak kenal," katanya.

 Eddy juga membantah meminta pegawainya, Wresti Kristian Hesti untuk membantu mengurus dua perkara tersebut di pengadilan. Ia mengklaim tak pernah merespons pesan apapun yang dikirimkan Wresti. Eddy menduga Wresti hanya mencatut namanya untuk kepentingan perkara saat itu.  "Saya enggak pernah terima dan enggak pernah tahu. Bukan urusan saya. Lagian saya bukan dari perusahaan itu, ngurus juga enggak," tuturnya.

Suap diberikan agar Edy Nasution menunda surat peringatan atau aanmaning perkara niaga antara PT MTP melawan PT Kymco. Kedua, suap diberikan dengan tujuan agar Edy Nasution menerima pengajuan PK perkara niaga oleh PT AAL.

Edy Nasution sendiri telah divonis delapan tahun penjara di tingkat kasasi. Hukumannya diperberat dari hukuman di tingkat pertama yakni 5,5 tahun penjara.

Terdakwa Eddy Sindoro mengaku menghabiskan waktu ke banyak negara saat berstatus sebagai tersangka dan tengah dicari KPK atau buron. "Banyak ke negara, jalan-jalan," ujar Eddy Sindoro saat menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa.

Ketika jaksa menanyakan ada berapa negara yang dikunjungi Eddy Sindoro. Namun dia mengaku lupa. "Saya nggak ingat. Saya banyak jalan-jalan," kata Eddy Sindoro.

Eddy Sindoro mengaku tidak segera pulang ke Indonesia saat dicari KPK lantaran masih menjalani pengobatan. Dia mengaku menjalani pengobatan di Singapura, yang tidak terlalu jauh dari Indonesia. "Semula rencana saya 21 April ke Amerika. Tapi karena ada urusan ini, saya pikir jangan jauh-jauhlah. Pengobatan saya yang belum selesai. Kalau saya pulang, kemungkinan menjadi tersangka, akan sulit berobat," ujarnya..

Eddy Sindoro juga diketahui sempat dideportasi dari Malaysia karena ketahuan memakai paspor palsu Republik Dominika. Dia mengaku tidak tahu karena hanya mendapat saran dari kawan untuk menggunakan paspor itu. "Saya nggak ada hubungan dengan itu. Tapi kawan saya yang menyarankan karena saya kasih tahu dia saya kepengin sekali ke Eropa Timur ke Amerika Latin. Saya yakin itu nggak palsu, tapi lawyer saya yang ingin supaya cepat," ucapnya.

Eddy Sindoro merupakan terdakwa yang didakwa memberikan suap kepada mantan panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) Edy Nasution. Jaksa menyebut Eddy Sindoro memberikan suap ke Edy Nasution untuk membantu mengurus sejumlah perkara terkait korporasi, yaitu PT Metropolitan Tirta Perdana (MTP) dan PT Across Asia Limited (AAL). Dalam surat dakwaan Edy Nasution saat itu, Eddy Sindoro disebut sebagai mantan Presiden Komisaris Lippo Group.

Kedua perusahaan itu diyakini jaksa KPK berafiliasi dengan Lippo Group. Namun Eddy Sindoro membantah telah memerintahkan sejumlah orang untuk melakukan suap demi mulusnya pengurusan perkara dua korporasi itu.

 

Editor : B Sadono Priyo