logo

Menyoal LRT Sumatera Selatan

Menyoal LRT Sumatera Selatan

21 Februari 2019 08:07 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Djoko Setijowarno

Membangun transportasi umum adalah membangun sistem dan membangun peradaban. 

Membangun sistem transportasi umum berupa penyediaan sarana dan prasarana, kelembagaan dan SDM, pola operasi dan eksternality. 

Keempat hal itu harus bersinergi satu sama lain untuk membangun layanan transportasi umum yang handal,  sehingga dapat melayani kebutuhan mobilitas masyarakat. 

Membangun peradaban, artinya mengajak publik untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Publik menjadi terbiasa menggunakan transportasi umum untuk aktivitas mobilitas kesehariannya. 

Sekarang sedang berkembang isu _urban transport_ dan _safety road_ makin mengemuka. Setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan untuk tersedianya transportasi umum ( _public transport_),  jalur kendaraan tidak bermotor ( _unmotorrized_), seperti jalur pejalan kaki, jalur sepeda dan TDM ( _transport demand management_). Dalam memenuhinya tidak meninggalkan kepentingan sahabat disabilitas. 

LRT adalah salah satu transportasi umum jenisnya kereta yang merupakan bagian prasarana dan sarana dalam sistem transportasi umum. Salah satu keunggulan kereta adalah daya angkutnya massal, tetapi kelemahannya tidak _door to door_ (dari pintu ke pintu).

Setiap pengguna transportasi umum pasti pejalan kaki. Oleh sebab itu, perlu disediakan trotoar dan jalur sepeda. Untuk warga yang mau menggunakan sepeda,  dekat stasiun atau halte dapat tersedia juga parkir sepeda. Beberapa kota di mancanegara sudah menyiapkan program _bike sharing_. Pengguna transportasi umum dapat menyewanya atau disediakan gratis.  Sepeda sudah tersedia dekat stasiun atau halte. 

Jika sudah tersedia transportasi umum yang memadai dengan menjangkau seluruh kawasan perumahan dan pemukiman. Dan juga tersedia jalur non motorized. 

Kemudian target pengguna transportasi umum belum tercapai, maka dapat dilakukan TDM.

TDM dapat berupa ganjil genap, tarif parkir tinggi dan lahan parkir terbatas di pusat kota, ERP, pajak kendaraan bermotor progresif dan sebagainya .

LRT Sumatera Selatan adalah permintaan Pemprov. Sumatera Selatan. Memang pada saat itu momennya sungguh tepat,  menjelang perhelatan Asian Games XVIII memerlukan kelancaran atlet dan _official_. Juga warga Palembang untuk menyaksikan kegiatan olag raga internasional yang terpusat di Jakabaring Sport Center (JSC).

Sekitar tahun 2012 sudah pernah dilakukan studi kelayakan angkutan kereta untuk Kota Palembang. Kala itu direkomendasi jenis kereta monorel dengan 6 jalur.

Dengan pertimbangan pembangunan pemerataan di luar Jawa, sementara sebelumnya sudah ada rencana membangun LRT dan trem di Bandung dan Surabaya ditunda. Akhirnya ditetapkan pembangunan LRT Sumatera Selatan sepanjang 23,4 km dilengkapi 13 stasiun dan 24 unit kereta. Dana yang dihabiskan untuk proyek ini sekitar Rp 12,5 triliun termasuk pembangunan depo kereta. Rata-rata Rp 37 juta dollar AS per kilometer atau setara dengan Rp 484 miliar. Jalur membentang dari Bandara Sultan Mahmud Badarudddin II hingga kawasan Kompleks Olah Raga Jakabaring melintasi Kota Palembang dan Kabupaten Ogan Ilir. 

Selama perhelatan AG XVIII tidak terjadi kemacetan yang berarti di Kota Palembang. Palembang saat ini sering terjadi kemacwtan di beberapa ruas jalan. Samahalnya dengsn kota lain di Indonesia, penggunaan kendaraan pribadi terutama sepeda motor cukup tinggi. 

LRT Sumatera Selatan sangat membantu mengangkut warga hilir mudik untuk menikmati pertandingan dan perlombaan yang diselenggarakan.

LRT Sumatera Selatan ini selain dibangun sebagai transportasi umum perkotaan juga berfungsi sebagai kereta bandara. Oleh sebab itu harga tiket ada dua macam,  yakni Rp 5 ribu untuk perjalanan perkotaan dan Rp 10 ribu bagi perjalanan yang berasal atau menuju bandara. 

Pemerintah mengoperasikan LRT ini sebagai kereta perintis untuk 6 bulan di tahun 2018 mendapat subsidi sebesar Rp 126 miliar. Untuk tahun 2019, pemerintah sudah menyiapkan Rp 300 miliar. Setiap tahun akan dievaluasi dan diharapkan besaran subsidi menurun. 

Sayangnya, setelah perhelatan AG XVIII jumlah penumpang menurun drastis. Seolah kereta ini berfungsi sebagai kereta wisata yang layak hanya dioperasikan di hari libur atau akhir pekan. 

Data menunjukkan saat _weekday_ kisaran 3.000 - 4.000 penumpang dan _weekend_ kisaran 6.000 - 8.000 penumpang. Padahal target penumpang sekitar 30 ribu per hari. Masih jauh dari target. 

Berkurangnya pengguna LRT ini sudah dapat diduga sejak awal. Karena belum tersedianya angkutan lanjutan atau pengumpan ( _feeder_). Jalur trotoar belum terbangun semua di sepanjang jalur LRT. _Park and ride_ di setiap stasiun tidak dapat disediakan mengingat ketersediaan lahan yang terbatas. 

Upaya untuk menaikkan minat menggunakan LRT adalah dengan melakukan _rerouting_ Bus Umum Trans Musi dan menambah atau memperpanjang rute hingga menjangkau kawasan perumahan dan permukiman di Kota Palembang. Sedangkan transportasi umum di Kab. Ogan Ilir juga harus segera dibenahi. Pemprov. Sumsel dapat memfasilitasi ini. Subsidi tidak hanya untuk LRT akan tetapi juga dapat diberikan pada transportasi umum berbasis jalan raya (bus).

Trotoar harus dibangun sepanjamg jalur LRT. di setiap stasiun LRT juga tersedia halte bus. _Park and ride_ dapat disediakan di stasiun yang terletak di pinggir kota. 

Pemerintah membangun infrastruktur transportasi tidak mengenal istilah untung atau rugi. Namun harus dilihat besaran yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan adanya infrastruktur transportasi diharapkan pengembangan wilayah dan ekonomi semakin meningkat. 

Program LRT Sumatera Selatan masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN),  dapat juga duduk bersama antara kementerian atau lembaga (Kemenko. Maritim, Kemenko. Ekonomi, Kemen. Bappenas, Kemenkeu, Kemendagri, Kemenhub, Kemen. LHK) yang terkait untuk mengevaluasi bersama.

Kasus LRT Sumatera Selatan menjadi pelajaran berarti ketika membangun kereta perkotaan di luar Jabodetabek. Kesepakatan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk berbagi kewajiban harus dituangkan dalam perjanjian tertulis (MOU). Supaya, jika ada pergantian kepala daerah, program masih terus berlanjut. 

LRT Sumatera Selatan masih dapat ditingkat jumlah penumpangnya. Ada peluang menambah jumlah pengguna, asal kepala daerah memiliki kemauan politik ( _political will_).

*Djoko Setijowarno anggota Masyarakat Transportasi Indonesia, staf pengajar di Unika Sugijapranata Semarang