logo

Perlu Regulasi Unicorn Di Indonesia

Perlu Regulasi Unicorn Di Indonesia

18 Februari 2019 21:52 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Djoko Setijowarno*

Unicorn merupakan gelar yang diberikan pada suatu _startup_ yang memiliki nilai valuasi (nilai dari suatu _startup_, bukan sekedar pendanaan yang diraih dari investor, red) lebih dari 1 juta dolar AS.

Saat ini, Indonesia memiliki empat _startup_, yaitu Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak dan Traveloka.

Di sektor transportasi, operasional Gojek sudah mengarah kapitalis, karena tidak diikuti aturan yang bisa melindungi mitra kerja. 

Sistem aplikasi tidak diawasi apalagi diaudit oleh lembaga yang berwenang.

Pemerintah sangat terlambat mengantisipasi dan tidak jelas arahnya ditambah masing-masing instansi (Kementerian/Lembaga) jalan sendiri-sendiri.

Sekitar dua tahun lalu ketika, sebagian saham belum dimiliki asing, mitra Gojek masih mendapatkan bonus yang cukup besar. Pendapatan driver ojek daring bisa minimal Rp 8 juta per bulan. Bahkan ada yang mencapai Rp 12 juta per bulan. 

Sekarang untuk mendapatkan Rp 4 juta harus bekerja hingga 12 jam dalam sehari. 

Setelah sebagian saham dimiliki asing, tentunya target keuntungan yang harus dipenuhi dahulu. Sementara urusan kesejahteraan mitra kurang dapat perhatian. Dampaknya, perhatian driver sebagai mitra yang mencarik dan mengangkut penumpang kurang diperhatikan. 

Kementerian Perhubungan sudah membuat Rancangan Peraturan Menteri Perhubungan (RPM) tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat yang pada intinya mengatur keselamatan, biaya jasa, suspend dan kemitraan. 

Tentunya RPM ini tidak bisa berdiri sendiri dalam upaya ingin melindungi driver dan konsumen ojek daring. Akan tetapi perlu dukungan dari Kementetian Komunikasi dan Informatika harus dapat menerbitkan peraturan untuk mengawasi dan mengaudit aplikasi yang digunakan pengusaha aplikasi atau aplikator. 

Demikian pula dengan Kementerian Tenaga Kerja harus dapat membuat aturan yang mengatur hubungan kemitraan antara pemilik aplikasi dengan driver ojek daring.

*) Djoko Setijowarno staf pengajar di Unika Soegijapranata Semarang

 

Editor : B Sadono Priyo