logo

Siap Kerja, Kemenperin Dorong Sekolah Vokasi PT Gunung Raja Paksi Jadi Pusat Pelatihan Di Cikarang

Siap Kerja, Kemenperin Dorong Sekolah Vokasi PT Gunung Raja Paksi Jadi Pusat Pelatihan Di Cikarang

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Direksi PT Gunung Raja Paksi melakukan peletakan batu pertama di area perusahaan, di Cikarang, Jumat (15/2/2019). (Foto: Dharma/suarakarya.id).
15 Februari 2019 21:55 WIB
Penulis : Dharma

SuaraKarya.id - BEKASI: Di tahun 2030, Indonesia ditargetkan memiliki bonus demografi. Pada saat itu jumlah kelompok usia produktif (umur 15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (anak-anak usia 14 tahun ke bawah dan orang tua berusia 65 ke atas). Jadi, kelompok usia muda kian sedikit, begitu pula dengan kelompok usia tua.

Artinya, pada tahun tersebut rasio kelompok usia produktif dengan yang tidak produktif mencapai lebih dari dua kali (100/44). Singkatnya, selama terjadi bonus demografi tersebut komposisi penduduk Indonesia akan didominasi oleh kelompok usia produktif yang bakal menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi kita. Negara-negara maju seperti Jepang, Kanada, atau negara-negara Skandinavia tak lagi produktif karena kelompok usia produktifnya terus menyusut.

Lantas, bagaimana kesiapan pemerintah untuk mengendalikan bonus demografi di 2030 sebagai puncaknya?

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian tengah Link and Match dengan sejumlah Industri dan SMK di wilayah. Tercatat ada sebanyak 700 Industri dengan mendekati 1.300 SMK.

"Kementerian Perindustrian sudah memiliki 9 SMK, 10 Politehnik dan 2 Akademik Komunitas," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat melakukan Memorendum of Understanding (MoU) dengan PT Gunung Raja Paksi terkait Sekolah Vokasi untuk Industri Baja, di Cikarang, Jumat (15/2/2019).

Menperin Airlangga menjelaskan, pihaknya memiliki target bonus demografi dengan melakukan penyerapan vokasi yakni sumber daya pendidikan. Diantaranya, sekolah vokasi di PT Gunung Raja Paksi yang direncanakan menjadi pusat pelatihan dari Industri baja.

Dia menilai, kelebihan dari PT Gunung Raja Paksi adalah kemampuan swakelola pabrik dan enginering yang mendalam.

"Jadi, hampir seluruh peralatan pabrik dibangun sendiri dengan besi sendiri, dan produknya hampir relatif lengkap," ujar Menperin Airlangga.

Adapun Kementerian Perindustrian sendiri terus membuka SMK yang menjadi pilihan. Programnya sudah mengikuti dua sistem yang akan di replikasi dalam waktu dua tahun terakhir.

Dua sistem itu yaitu 30 persen latihan teori dan 70 persen praktek. Praktiknya di Industri.

"Jadi, kalau nanti sekolah vokasi baja di sini (Gunung Raja Paksi), maka prakteknya langsung di pabrik baja," terangnya.

Dengan demikian, lanjutnya, mereka mempunyai eksperient dilapangan. Setelah mereka selesai vokasi, mereka siap untuk bekerja.

"Karena dari SMK nantinya bisa ke Politehnik. Dari dua sistem ini kemungkinan untuk masuk lapangan pekerjaan lebih besar lagi. Karena mereka yang memiliki skill (Kemampuan) dan kompetensi untuk bekerja," jelas Menperin Airlangga.

Saat ini, Kementerian Perindustrian telah membangun 4 Politehnik diantaranya wilayah Sulawesi Tengah yakni Morowali dan Bantaeng serta Jawa Tengah yakni Solo dan Kendal.

Dari target 10 juta ton baja di PT Garuda Faksi yang mencapai tenaga kerja 5.000 orang dengan kapasitas 2,8 juta, sekiranya membutuhkan sekitar 15 ribu sumber daya manusia.

Link and match ini yakni kerjasama antara Industri dengan SMK. Nantinya diharapkan, SMK bisa praktek di Industri. Jadi, Industri yang menandatangani link and match itu akan membantu sejumlah program studi.

"Misalnya, ada SMK yang mempunyai 4 atau 5 program studi, maka sekolah bisa bekerjasama dengan 1 atau 2 Industri yang sifatnya many to many. Yang paling terpenting bagaimana siswa dapat belajar di Industri," ujarnya. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto