logo

Dihukum Dua Tahun Masuk Bui Tetapi Kok Masih Bebas Melenggang?

Dihukum Dua Tahun Masuk Bui Tetapi Kok Masih Bebas Melenggang?

terdakwa Debi Laksmi Dewi
15 Februari 2019 21:53 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara pimpinan Ronald Salnofribya SH MH telah menghukum dua tahun penjara terdakwa  Debi Laksmi Dewi. Namun belum bisa dipastikan apakah vonis itu bakal dijalani segera atau tidak oleh terdakwa kasus penipuan dan penggelapan tersebut.

Pasalnya, Debi Laksmi Dewi selama proses persidangan kasus yang membelitnya, bisa terus bebas berkeliaran. Demikian pula saat dijatuhkan vonis, Debi tetap bisa melenggang seperti halnya saat datang ke pengadilan maupun kembali ke kediamannya.

Bagi yang awam hukum kenyataan ini menjadi tandatanya, dihukum pengadilan dua tahun kok masih bebas berkeliaran? Bukankah seseorang yang sudah dinyatakan hakim terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah harus menjalani hukumannya?

Debi yang selama ini berlenggang kangkung tetap bisa bebas berkeliaran kendati sudah divonis dua tahun. Selain karena tidak ditahan selama ini, dia mengajukan banding atas putusan tersebut, dan majelis hakim tidak memerintahkan terdakwa untuk segera masuk penjara.

Melihat kenyataan itu, Ketua Umum Nasional Corruption Wastch (NCW) Syaiful Nazar sangat menyayangkannya. “Putusan pengadilan tidak disertai dengan penahanan jelas sangat memprihatinkan kita, khususnya para pencari keadilan,” ujar Syaiful di Jakarta, Jum'at (15/2/2019).

Untuk keadilan yang berpihak kepada pencari keadilan, kata Syaiful Nazar, putusan menghukum majelis hakim seharusnya disertai dengan penahanan atau pemasukan terdakwa ke dalam tahanan. “Majelis hakim sendiri yang menyebutkan terdakwa terbukti melakukan tindak pidana secara sah dan meyakinkan, tetapi kok tidak dimasukkan ke dalam tahanan,” ujar Syaiful.

Alasan Syaiful, bukan kali ini saja terdakwa Debi melakukan tindak pidana. Wanita itu telah pula dijatuhi hukuman oleh majelis hakim PN Jakarta Utara dalam perkara lainnya. “Kalau begini kayaknya jadi ada kesan hukum ini bisa diatur oleh orang yang bukan penegak hukum. Sedih kita, hukum bagai mainan,” ujarnya.

Dalam putusan PN Jakarta Utara,  terdakwa Debi Laksmi Dewi dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penggelapan uang hasil penjualan daging beku.  “Terdakwa Debi Laksmi Dewi dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perbuatan pidana penggelapan dan dipenjara selama 2 tahun,” kata Ketua Majelis Hakim PN Jakarta Utara, Ronald saat membacakan amar putusannya, Kamis (14/2/2019).

Ronald menetapkan seluruh barang bukti tetap terlampir dalam satu berkas perkara dan membebankan kepada terdakwa Debi untuk bayar biaya perkara sejumlah Rp 5.000.  “Hal yang memberatkan terdakwa karena terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penggelapan. Sedangkan hal yang meringankan terdakwa berlaku sopan,” jelasnya.

Setelah itu, majelis hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk pikir-pikir apakah ingin mengambil langkah hukum atas putusan tersebut. Sehingga, terdakwa Debi berdiskusi dengan penasehat hukum.  “Atas putusan tersebut, anda terdakwa memiliki hak untuk banding dan jaksa kami beri hak yang sama,” katanya.

Akhirnya, terdakwa Debi memutuskan akan mengajukan upaya hukum yang disampaikan oleh tim penasehat hukumnya. Kemudian, jaksa penuntut umum (JPU) pun ikut mengajukan banding.  “Kami banding,” kata tim penasehat hukum terdakwa Debi.

Dengan demikian, kata Ronald, perkara ini belum memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht) karena terdakwa Debi mengajukan upaya hukum banding. “Saya nyatakan sidang ini selesai dan ditutup,” ujarnya.

Terdakwa Debi Laksmi Dewi  dilaporkan karena menggelapkan uang hasil penjualan 3 kontainer daging kerbau impor beku yang dibelinya dari Bulog seharga Rp 3,05 miliar. Korban Adi minta perlindungan hukum ke Jaksa Agung melalui surat tertanggal 15 Agustus.

Perusahaan tempat korban bekerja menitipkan 3 kontainer daging tersebut setelah Debi merengek ingin menjadi distributor daging kerbau itu dan hasil penjualannya akan diserahkan ke perusahaan tempat Amanda.

Setelah laku semua hanya sebagian uang penjualan diserahkan sisanya lebih dari Rp 3 miliar. Namun Debi tidak mau menyerahkan dengan alasan orang yang mengambil daging ke tersangka tidak ada yang bayar.

Karena jalan musyawarah tidak membuahkan hasil, Debi dilaporkan ke Polres Jakarta Utara, dengan LP/1282/K/XI/2017/PMJ Resju tanggal 6 November 2017 dengan sangkaan Pasal 372 Jo. Pasal 378 KUHP dan langsung ditetapkan menjadi tersangka serta ditahan selama 20 hari.  Sementara, Jaksa Penuntut Umum telah menuntut terdakwa Debi Laksmi Dewi selama 3 tahun penjara.

 

 

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto