logo

Hakim Perintahkan JPU Hadirkan Lagi Saksi Yang Diduga Bohong Untuk Dikonfrontir

Hakim Perintahkan JPU Hadirkan Lagi Saksi Yang Diduga Bohong Untuk Dikonfrontir

sidang kasus Tedja Widjaja
14 Februari 2019 12:56 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara pimpinan Tugiyanto SH MH dibuat pusing ketika hendak didengar keterangan saksi notaris Lily Soedewo. Pasalnya, saksi menunjukkan sikap tidak tahu menahu lagi kasus penipuan dan penggelapan dengan terdakwa pemilik PT Graha Mahardika Tedja Widjaja.

Kepusingan majelis hakim semakin menjadi-jadi karena saksi Rahayu yang hendak dikonfrontir dengan penyidik tidak menunjukkan batang hidungnya. Sementara penyidik kasus tersebut sudah siap membuktikan bahwa proses verbal yang dilakukan terhadap Rahayu telah memenuhi ketentuan hukum sehingga menjadi tak beralasan untuk dicabut BAP itu di persidangan.

“Saya lupa semua Pak Hakim. Waktu saya diperiksa di penyidik Polda Metro Jaya kan saya bawa semua akta yang saya buat terkait tanah milik Yayasan Tujuh Belas Agustus 1945 (UTA 45) dengan PT Graha Mahardika,” ujar Lily.

Majelis hakim dan JPU Fedrik Adhar SH MH berusaha menyegarkan ingatan Lily, tetapi tetap saja tidak bias diingat secara detil akta-akta yang dibuatnya. Melihat itu majelis pun menawarkan kepada penasihat hukum terdakwa dan JPU Fedrik agar pengambilan keterangan terhadap Lily dilakukan pada siding berikutnya pecan depan.

“Saksi bersedia  kan member keterangan pekan depan, bawa itu akta atau minutnya biar keterangannya jelas dan tegas,” ujar Tugiyanto.

Ketua Majelis Hakim Tugiyanto kemudian mengingatkan JPU Fedrik agar menghadirkan tidak saja saksi notaris Lily, tetapi juga Rahayu dan penyidik. “Biar kita konfrontir dan perjelas apakah keterangan di BAP yang benar atau saksi Rahayu yang mengubah keterangannya atau bahkan berbohong. Jadi, hadirkan ya ketiga saksi,” kata Tugiyanto.

Dalam persidangan saksi Rahayu mencabut hamper seluruh berita acara pemeriksaan (BAP) yang memberatkan terdakwa Tedja Widjaja. Padahal, posisi Rahayu dalam penanganan kasus penipuan dan penggelapan tersebut adalah saksi memberatkan dari JPU.

Oleh karena penyidik Polda Metro Jaya merasa saksi Rahayu tidak dalam keadaan stress berat saat dilakukan pemeriksaan, tentu saja penyidik berkeberatan dengan pengakuan Rahayu di persidangan. Oleh karena itu, Polda Metro Jaya mempersilakan penyidik Boy F dari Unit II Harda Polda Metro Jaya melakukan konfrontir dengan Rahayu di persidangan.

Dengan tindakan konfrontir penyidik dengan saksi soal kata-kata stress berat, kata Anton, penasihat hukum UTA 45, diharapkan akan terbongkar kebohongan saksi Rahayu.  Kalau hasil konfrontir nanti menunjukkan tidak betul saksi Rahayu stress berat, maka pihak UTA 45 bakal melaporkan lagi Rahayu ke polisi atas keterangan bohongnya di persidangan. Sebab, itu berarti saksi Rahayu tidak menghormati lembaga peradilan dan proses persidangan yang tengah mencari kebenaran dan keadilan.

“Tindakan saksi Rahayu itu jelas-jelas sangat merugikan UTA 45. Yayasan UTA 45 mengalami kerugian Rp 67 miliar lebih, eh saksi dalam keterangannya di persidangan malah menyebutkan telah terjadi kelebihan bayar terhadap UTA 45. Pemutarbalikan fakta yang dilakukan saksi itu harus dipertanggungjawabkannya secara hokum,” ujar Anton.

 

Editor : B Sadono Priyo