logo

Muara Karta Minta KY Dan MA Usut Kasus Bebas Bandar Narkotik

Muara Karta Minta KY Dan MA Usut Kasus Bebas Bandar Narkotik

advokat Muara Karta
14 Februari 2019 12:41 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id -  

JAKARTA:  Advokat  senior yang juga Ketua Umum Ganar Muara Karta dan anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni meminta Komisi Yudisial (KY) dan Badan Pengawasan (Bawas) Mahkamah Agung menyelidiki dugaan penyimpangan dalam persidangan serta putusan kasus itu.

“Putusan itu perlu dicermati. Sepenuhnyakah berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap selama persidangan atau ada faktor lain,” ujar Muara Karta. Dia juga meminta dipastikan ditangkap anggota sindikat Syamsul Rijal alias Kijang yang terlibat dalam kasus tersebut.

“Jangan sampai ada barang bukti kejahatan tetapi tidak ada penjahatnya.Perlu tindakan radikal dan ekstrem dalam menanggulangi penyalahgunaan narkotika yang semakin merajalela saat ini,” ujar Muara Karta.

Anggota DPR Sahroni juga mengatakan putusan bebas yang dijatuhkan oleh hakim PN Makassar menjadi anomali dan menciderai semangat pemberantasan narkotika yang sejak awal diusung pemerintahan Jokowi - JK. "Informasi yang saya terima, baik Polri maupun kejaksaan telah memberikan bukti lengkap mengenai jaringan sabu 3,5 Kg tersebut namun hakim akhirnya menjatuhkan vonis bebas. Saya takjub dengan putusan tersebut, ini tak sesuai dengan ketegasan pemerintah atas pemberantasan narkoba," kata Sahroni.

Sahroni mengingatkan, paradigma masyarakat terhadap peradilan di Indonesia masih menggambarkan adanya sorotan negatif terhadap hakim. Fakta bahwa KPK beberapa kali melakukan operasi tangkap tangan terhadap oknum hakim semakin memperkuat anggapan negatif masyarakat terhadap sistem peradilan.

Dia mendorong KY menyelidiki untuk memastikan ada tidaknya hakim yang bermain atas putusan bebas bandar puluhan kilogram sabu-sabu tersebut. Hal itu bertujuan agar masyarakat mengerti apakah vonis bebas itu karena sesuatu hal atau memang putusan dikarenakan bukti dan dakwaan yang lemah. "Komisi Yudisial dan Bawas MA harus proaktif memantau peradilan kasus besar, termasuk vonis bebas untuk bandar narkoba 3,5 kg shabu yang banyak pihak nilai janggal ini. KY dan Bawas MA harus memastikan apakah ada hakim yang bermain dalam kasus ini atau tidak," ujar Sahroni.

Dia juga meminta pimpinan Polri dan Kejaksaan untuk melakukan penyelidikan internal terhadap anggota penyidik dan JPU yang  membuat tuntutan terhadap Syamsul Rijal.

"Kapolri dan Jaksa Agung juga harus memerintahkan jajarannya melakukan penyelidikan terhadap kasus ini. Pastikan apakah memang penyidikan hingga dakwaan ada bermasalah dan berdampak pada lemahnya bukti. Apakah ada jajarannya yang bermain mata dalam kasus ini," ujarnya.

Humas PN Makassar, Andi Hariani Gali mengatakan, faktanya pemilik shabu itu sebenarnya adalah Puang Salihi yang ditangkap bersama saksi-saksi oleh jajaran Polres Pinrang. Saat mereka ditahan pada proses penyelidikan, Puang Salihi  membujuk para saksi kurang lebih 6 orang itu untuk menunjuk Kijang sebagai pemilik shabu dengan iming-iming akan dibantu nanti dalam proses persidangan dan semua biaya hidupnya dan keluarganya akan ditanggung oleh Puang Salihi selama mereka jalani hukuman. Polisi kemudian melepas Puang Salihi dan memburu Kijang. Saat persidangan di Pinrang, Puang Salihi  tidak pernah muncul. Para terdakwa yang jadi saksi di kasus Kijang ini pun menyesal dan mencabut keterangannya dan menyatakan bukan Kijang pemilik shabu itu melainkan Puang Salihi.

Editor : B Sadono Priyo