logo

Akankah Hukuman Terdakwa  Anggota Keluarga Konglomerat Bakal Ringan Sekali?

Akankah Hukuman Terdakwa  Anggota Keluarga Konglomerat Bakal Ringan Sekali?

terdakwa Richard Arief Muljadi
14 Februari 2019 12:34 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Terdakwa Richard Arief Muljadi, yang disebut-sebut sebagai anggota keluarga konglomerat Indonesia, bakal mendengarkan putusan kasusnya terkait penyalahgunaan narkoba jenis kokain hari ini di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

"Jadwalnya sih begitu (putusan) jam satuan," kata seorang panitera pengganti di PN Jakarta Selatan, Kamis (14/2/2019). Dia berharap vonis yang akan dijatuhkan oleh majelis hakim tidak sampai menunjukkan diskriminasi atau pilih kasih mentang-mentang terdakwa keluarga konglomerat.

“Hukuman janganlah special, dihukumlah seadil-adilnya. Jangan sampai ada kesan di PN Jakarta Selatan ini seolah tidak ada aturan baku dalam proses persidangan dan penjatuhan hukuman terhadap terdakwa-terdakwa narkotika," ujarnya.

Richard sebelumnya ditahan oleh Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya selama 20 hari terhitung sejak Kamis (23/8/2019). Hal ini berdasarkan hasil gelar perkara untuk menetapkan status tersangka. Namun sampir selama proses persidangannya terdakwa di RSKO. Dia dating menjalani persidangan kemudian kembali ke RSKO.

Richard diringkus saat berada di dalam toilet di sebuah restoran elite di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (22/8) oleh Kombes Herry Heryawan, yang kebetulan hendak  ke toilet restoran tersebut. Dalam kesempatan itu, polisi amankan kokain yang diakui  Richard dipasok berinisial ML. Sampai saat ini ML masih bebas berkeliaran, boleh jadi masih terus bertransaksi narkotika.

Sementara itu, kasus putusan bebas terdakwa bandar narkoba Syamsul Rijal alias Kijang (32)  oleh majelis hakim PN Makassar dilaporkan ke Komisi Yudisial (KY).

Mendengar itu Humas PN Makassar Bambang Nurcahyo mempersilakan siapa saja mempersoalkan pembebasan Bandar narkotik dengan bb 3,5 kilogram itu ke KY atau Mahkamah Agung (MA). "Kalau ada yang menggugat ke  KY, iya silakan. Vonis  ini juga bukan harga mati, masih akan diuji di tingkat kasasi," kata Bambang Nurcahyono.

Najelis hakim yang menangani perkara itu sudah memutuskan sesuai hukum acara yang ada. "Aparat pengadilan sekarang sudah siap, zaman sudah berubah, tidak ada lagi boleh macam-macam," ucap Bambang.

Alasan majelis hakim yang diketuai Rika Mona menjatuhkan putusan bebas murni terhadap Syamsul Rijal alias Kijang, kata Bambang, karena tidak memenuhi unsur dua alat bukti yakni keterangan saksi-saksi dan keyakinan hakim.

Saksi-saksi yang dihadirkan JPU, kata Bambang, mencabut kesaksiannya dan menyebutkan bahwa sebenarnya bukan Kijang pemilik sabu 3,5 kg itu melainkan ada orang lain. Akibatnya JPU dinilai  tidak  dapat membuktikan secara sah dan meyakinkan terdakwa bersalah.

Barang bukti yang disebut-sebut shabu seberat 3,5 kilogram pun, kata Bambang, yang benar adalah 2,4 kilogram shabu sesuai  fakta persidangan

Editor : B Sadono Priyo