logo

Pemerintah Siapkan Kemudahan Katrol Ekspor Produk Manufaktur

Pemerintah Siapkan Kemudahan Katrol Ekspor Produk Manufaktur

Menperin Airlangga Hartarto. (dok. Kemenperin)
14 Februari 2019 06:54 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Pemerintah semakin fokus mendorong peningkatan ekspor industri pengolahan agar berkontribusi besar terhadap pertumbuhan dan perbaikan struktur perekonomian nasional. 

Beberapa strategi dilakukan pemerintah supaya produk manufaktur dalam negeri memiliki daya saing tinggi di kancah global.

Strategi utama pemerintah adalah menarik investasi industri untuk menjalankan hilirisasi sehingga dapat mensubstitusi produk impor. Kebijakan lainnya, perbaikan iklim usaha melalui penerapan online single submission (OSS), fasilitas insentif perpajakan, program vokasi, penyederhanaan prosedur untuk mengurangi biaya ekspor, dan pemilihan komoditas unggulan.

“Pada tahun 2019, kami akan lebih genjot lagi sektor industri untuk meningkatkan ekspor, terutama yang punya kapasitas lebih,” tutur Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Kontribusi ekspor produk industri manufaktur pada tahun 2018 tembus hingga 72,25% atau senilai USD130,09 miliar, naik sebesar 3,98% dibanding tahun 2017 yang mencapai US125,10 miliar.

Pada 2019, pemerintah menargetkan ekspor nonmigas tumbuh 7,5 persen. Proyeksi pertumbuhan tersebut mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,7 persen. 

Selain tiga pasar utama, yakni AS, Jepang, dan China, ekspor juga diarahkan ke negara-negara nontradisional, seperti Bangladesh, Turki, Selandia Baru, Myanmar dan Kanada.

Lima sektor industri yang mendapat prioritas pengembangan sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0,” imbuhnya. Lima sektor itu adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronika, dan kimia. Apalagi, lima kelompok manufaktur tersebut mampu memberikan kontribusi sebesar 65 persen terhadap total nilai ekspor nasional.

Pemerintah juga menargetkan segera merampungkan 12 perjanjian dagang baru tahun ini. Kurun waktu paling dekat adalah percepatan perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA) dengan Australia. 

“Kalau CEPA dengan Australia terbuka, maka ada satu juta pasar untuk ekspor otomotif kita ke sana. Sebab, kami sudah bicara dengan principal, ekspornya akan dari Indonesia,” tutur Menperin.

Apabila upaya-upaya tersebut terealisasi, akan mendongkrak produksi mobil di Indonesia mencapai 2 juta unit per tahun. “Jadi, dalam waktu 2-3 tahun bisa dipercepat ekspornya. Dan, tentunya kita mengharapkan, industri-industri semacam ini terus kita dorong,” ungkapnya. ***