logo

Kemenperin Pacu Hilirisasi Pengolahan Kakao di Batang

Kemenperin Pacu Hilirisasi Pengolahan Kakao di Batang

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, Bupati Batang Wihaji, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Dito Ganinduto, serta Anggota Komisi X DPR RI Marlinda Irwanti menekan tombol sirine tanda peresmian Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu (PPKIPKT) di Batang, Jawa Tengah, Senin (11/2/2019).
11 Februari 2019 21:06 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Pemerintah terus mendorong pengembangan hilirisasi di sektor industri untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku di dalam negeri. Salah satu sektor prioritas yang sedang dipacu adalah industri pengolahan kakao. 

Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri makanan dan minuman menjadi salah satu sektor unggulan dalam penerapan digitalisasi. "Sektor makanan dan minuman itu termasuk di dalamnya adalah industri pengolahan kakao atau cokelat," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada peresmian Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu (PPKIPKT) di Batang, Jawa Tengah, Senin (11/2/2019).

Menperin menjelaskan, pendirian PPKIPKT menjadi ujud nyata dari implementasi amanat Presiden Joko Widodo  yang menginginkan perguruan tinggi dapat mendukung dan terlibat langsung dalam aktivitas industrialisasi. “Upaya ini sebagai pengantar agar bangsa Indonesia siap memasuki era industri 4.0,” tegasnya.

PPKIPKT merupakan pabrik pengolahan kakao pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan kebun kakao dan sekaligus menjadi pusat pengembangan SDM di bidang kakao. Fasilitas ini mulai dibangun sejak tahun 2017 melalui kerja sama antara Kementerian Perindustrian dengan Pemerintah Kabupaten Batang dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Ini menjadi sarana dan prasarana yang kita harapkan dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat baik melalui penciptaan wirausaha baru maupun menyediakan SDM yang siap bekerja di bidang industri pengolahan kakao,” paparnya.

Menperin optimistis, produk kakao olahan dari dalam negeri dapat diminati pasar global. Apalagi seiring perkembangan zaman, cokelat sudah menjadi kebutuhan gaya hidup masyarakat. “Di Eropa misalnya, ketika minum kopi, lebih afdol sambil makan cokelat,” ucapnya.

PPKIPKT diresmikan langsung oleh Menperin bersama Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, Bupati Batang Wihaji, serta Rektor UGM Panut Mulyono. 

Turut hadir Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Dito Ganinduto, Anggota Komisi X DPR RI Marlinda Irwanti, dan Direktur Utama PT Pagilaran Rahmat Gunadi, Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono, Sekjen Kemenperin Haris Munandar, Irjen Kemenperin Setyo Wasisto, serta Staf Ahli Menteri Bidang Iklim Usaha dan Investasi Imam Haryono.

Lokasi PPKIPKT berada di Desa Wonokerso, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah yang mempunyai area pabrik seluas 9.000 m2 dengan terdiri dari bangunan seluas 2.590m2. Fasilitas ini dilengkapi mesin dan peralatan industri pengolahan kakao berkapasitas 6.000 ton per tahun dengan nilai investasi sebesar Rp89,9 miliar.

Menurut Airlangga, PPKIPKT akan dihibahkan kepada UGM untuk pengembangan SDM. Sedangkan kegiatan penelitian dan pendidikan bidang kakao bakal dioperasikan oleh PT. Pagilaran sebagai unit usaha milik UGM. “Kami berharap kepada PT. Pagilaran agar lebih aktif menjalin kemitraan dengan petani kakao,” tuturnya.

Kemenperin akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian guna menggenjot produksi kakao, baik melalui program ekstensifikasi, intesifikasi maupun rehabilitasi. Hal ini sejalan upaya Kemenperin untuk mendongkrak utilitas sektor industri pengolahan kakao yang saat ini kapasitas produksinya mencapai 747 ribu ton per tahun. ***