logo

Perceraian Di Sorong Tinggi, Dipengaruhi Sejumlah Faktor

Perceraian Di Sorong Tinggi, Dipengaruhi Sejumlah  Faktor

Dr Munawir Haris SH.I,M.Si (kiri) dan Drs H.M.Satir, M.Pd.I (kanan)
11 Februari 2019 07:47 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - SORONG:Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Dr Munawir Haris S.H.I, M.Si, mengatakan, hasil penelitian yang dilakukan pihaknya  ternyata yang menjadi penyebab perceraian tinggi di Sorong Raya karena tiga hal, yaitu masalah agama,ekonomi dan ketidakcocokan.

 Sesuai data,lanjut Munawir, tiap tahun ratar-rata di atas atau di bawah angka 380 kasus perceraian yang ditangani Pengadilan Agama Sorong.

“Jumlah tersebut untuk  cerai gugat (istri gugat suami) dua per tiga persen .Sedang sepertiga  persen adalah cerai talak (suami talak istri),”katanya.  

Dikatakan, perkara yang ditangani Pengadilan Agama Sorong juga menyangkut isbat. Isbat khususnya untuk melindungi anak hasil perkawinan siri dengan suami atau istri.

Angka perceraian di Sorong  cukup tinggi, itu banyak penyebabnya. Antara lain karena perbedaan agama. Kalau tidak cocok lagi masing-masing kembali ke agamanya, maka bubarlah rumah tangga mereka.

Dikatakan Munawir, penelitian STAIN Sorong tercatat lebih dari 35 kali. Dan, hasil  penelitian itu secara akademis,  itu sudah mendapat pengakuan instansi berwenang.

Saat ini STAIN Sorong sedang meneliti bagaimana kegiatan  masyarakat yang hidup dari hasil hutan yang kemudian merusak ekosistem  lingkungan  di sekitarnya.

“Kami akan mencoba mencari metode yang tepat untuk merubah mindset warga setempat. Maksudnya, agar mereka  merubah mata pencaharian  ke  berladang pada lahan yang ditentukan pemerintah  sehingga  pengrusakan  ekosistem lingkungan setempat tidak berlanjut,”kata Munawir.

Di Kota Sorong, ada sejumlah kelompok masyarakat yang menjadikan mata pencaharian tetapnya  sebagai  penjual   kayu mangrove kepada penduduk Kota dan Kabupaten Sorong. Kayu-kayu mangrove itu adanya di  daerah pesisir,  sebagai pencegah abrasi pantai.

Nah, kebiasaan warga itu perlu dirubah dengan merubah  pola pikir (mindset) mereka  dari mencari nafkah seperti tersebut ke bidang pengolahan lahan pertanian yang disiapkan oleh pemerintah.

Jika ini, lanjut Munawir, bisa dilakukan maka mangrove di pesisir pantai terbebas dari pengrusakan oleh tangan-tangan manusia.

“Jadi, selain meneliti tentang masalah sosial keagamaan tapi juga persoalan  pengrusakan ekosistem lingkungan ,yang dilakukan  oleh  manusia,”katanya.

Kemudian, STAIN Sorong,  mulai Rabu (13/2/2019) hingga Selasa  (19/2/2019)akan menggelar pembekalan bagi mahasiswa yang  melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di Kota dan kabupaten Sorong.

Pada pembekalan tersebut mahasiswa diberikan materi  menyangkut teknis KKN dan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan  kemasyarakatan, demikian Munawir. ***