logo

Ba'asyir Batal Bebas, Ponpes Ngruki Sebut Pemerintah PHP

Ba'asyir Batal Bebas, Ponpes Ngruki Sebut Pemerintah PHP

Keluarga Ba'asyir dan pimpinan Ponpes Al Mu'min Ngruki menggelar konferensi pers terkait pembatalan pembebasan Abu Bakar Ba'asyir
23 Januari 2019 14:57 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Pembatalan pembebasan Abu Bakar Ba'asyir (ABB) membuat keluarga dan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mu'min, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, kecewa. Pihak Ponpes bahkan menyebut pemerintah hanya PHP (Pemberi Harapan Palsu) saja.

Menurut Direktur Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Ustaz Ibnu Hanifan, kepada wartawan saat menggelar konferensi pers di Masjid Baitussalam Ponpes Al Mu'min, Rabu (23/1/2019), dirinya khawatir jika pembatalan tersebut berdampak kepada ribuan para santrinya.

"Saat mendengar kabar kebebasan beliau, saya sampaikan ke anak-anak. Mereka sangat senang tetapi ternyata itu hanya sebuah PHP," ujarnya.

Padahal statemen tersebut keluar dari pemegang otoritas di negara ini. Menurut Ibnu, lebih baik tidak mengeluarkan statemen yang menggembirakan tapi kemudian menganulir.

"Tapi ini keluar dari seorang pemimpin negeri ini, kalau begini kepada siapa lagi kami menggantungkan harapan. Karena bukan hanya sekali, mau jadi apa negeri ini," katanya.

Pembatalan teraebut dikhawatirkan akan memunculkan sikap antipati dari para santri Ponpes Al Mukmin yang berjumlah sekitar 1.500 santri. Mereka berasal dari berbagai daerah di tanah air, sikap antipati itu akan membuat rasa tidak nyaman.

Sikap tersebut, bisa jadi akan berkembang di kemudian hari. Sementara itu, pihak keluarga yang diwakili anak Ba'asyir, Muhammad Rosyid Ba'asyir, pada kesempatan yang sama mengatakan sejak awal ayahnya telah mengatakan bukan musuh negara.

"Baliau juga tidak menginginkan keburukan terjadi di negeri ini. Soal kepatuhan terhadap aturan yang berlaku di NKRo, beliau tegas menolak. Tapi akan mematuhi aturan yang sesuai dengan syariat Islam," jelas Ustaz Rosyid terkait syarat tanda tangan kesetiaan ABB terhadap NKRI.

Pihaknya juga mempertanyakan pembebasan Ba'asyir yang sebelumnya dikatakan bebas murni, tetapi kemudian menjadi bebas bersyarat. Dirinya mengaku tidak memikirkan terlalu jauh jika pembebasan Ba'asyir dikaitkan dengan isu politik.

"Karena sejak awal dikatakan dasar pembebasan adalah kemanusiaan. Saat ini pihak keluarga berharap kajian yang dilakukan bisa memenuhi hak dari Ustaz Abu dan beliau bisa menerima haknya dengan baik. Serta Ustaz Abu kembali ke keluarga," kata Rosyid.

Keluarga juga mendoakan kepada pejabat dan pemegang kebijakan untuk dibukakan hatinya sehingga memudahkan kepulangan Ba'asyir. Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu upaya pembebasan ayahnya. ***

Editor : Markon Piliang