logo

Terdakwa Adnan Akbar Mlinta Berobat, Ramses Pasaribu Berkelit

Terdakwa  Adnan Akbar Mlinta Berobat, Ramses Pasaribu Berkelit

sidang kasus transaksi solar
23 Januari 2019 12:01 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id -  

JAKARTA: Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat Ramses Pasaribu SH meminta ditandatangani dahulu perjanjian damai antara terdakwa Dirut PT NM Adnan Akbar dengan saksi korban Irfan dari CV NPA baru akan dikabulkan permohonan peralihan penahanan yang dimohonkan terdakwa demi menjalani perawatan di rumah sakit.

“Sudah ada draf perjanjian damainya Pak Hakim. Kami belum bisa menandatanganinya karena saksi korban Irfan jatuh sakit,” ujar Jonri Simanjuntak SH, salah satu penasihat hukum terdakwa Adnan Akbar.

“Apa hubungan damai dengan sakit dan berobat. Sakit itu diobati di rumah sakit yang berkompeten atas penyakit itu sendiri. Mengizinkan berobat itu kan kemanusiaan,” ujar seorang pengunjung sidang di PN Jakarta Utara, Selasa (22/1/2019)

Berdasarkan fakta-fakta dalam persidangan kasus penipuan dan penggelapan uang hasil penjualan solar sebesar Rp 5,1 miliar ini, tindakan Ramses Pasaribu yang meminta bukti perdamaian baru memberikan peralihan penahanan menunjukkan begitu besarnya ironi keadilan itu. Sebab, terdakwa Adnan memohon peralihan penahanan atau pembantaran atas penyakit jantung dan epilefsi yang dideritanya. Untuk itu pula, majelis sebelumnya sudah meminta penasihat hukum terdakwa agar meminta surat pernyataan dari lembaga pemasyarakatan di mana Adnan ditahan menyatakan bahwa lapas itu tidak memiliki peralatan merawat penyakit yang diderita terdakwa.

Setelah surat itu dikeluarkan lapas dan diserahkan ke majelis hakim, Ramses Pasaribu mengarahkan kedua pihak untuk berdamai. Manakala kedua pihak setuju akan berdamai, Ramses Pasaribu menyatakan akan memberikan peralihan penahanan setelah terjadi perdamaian antara kedua pihak yang bertikai.

“Ada-ada saja dalil hakim ini untuk menolak permohonan terdakwa dialihkan penahanannya guna mengobati penyakitnya. Ini namanya “ngeles”. Jangan-jangan ada pihak yang telah mengintervensi penanganan kasus ini dan menginginkan terdakwa ditahan terus,” ujar seorang pengunjung sidang yang cukup menarik perhatian tersebut.

Peralihan penahanan atau pembantaran yang dimohonkan terdakwa Adnan sejak awal sesungguhnya kental nuansa kemanusiaannya. Anak muda itu menderita penyakit jantung dan epilefsi yang sewaktu-waktu bisa kambuh. Bahkan menurut pengacaranya Jonri Simanjuntak, pihaknya sering kesulitan berkomunikasi dengan terdakwa manakala penyakitnya kambuh.

Namun tindakan demi kemanusiaan itu tak kunjung diberikan Ramses Pasaribu, meski diketahuinya perkara tersebut kental nuansa perdatanya dan ancaman hukuman maksimalnya hanya empat tahun penjara yang sesungguhnya tidak harus ditahan. Karena itu, tidak heran kalau sampai ada beberapa pengunjung sidang menudingnya sebagai hakim yang tidak berperikemanusiaan. Dia telah menjadikan persidangan itu sebagai saranan balas dendam membara dan bukan mencari kebenaran dan keadilan yang hakiki. Boleh jadi bukan dendamnya, karena dia tidak kenal terdakwa sebelumnya, tetapi orang atau pihak lain sampai berbagai cara dilakukan untuk menolak permohonan penangguhan penahanan tersebut.

Penasihat hukum Adnan Akbar sebelumnya sempat pula mengancam wall out dari ruang persidangan sebagai tindakan protes atas cara-cara/sikap Ketua Majelis Hakim Ramses Pasaribu SH MH dalam memeriksa kasus tersebut. Jonri Simanjuntak menuding Ramses Pasaribu tidak fair play, bahkan berat sebelah atau masuk dalam kubu jaksa dalam memeriksa kasus yang dalam penyidikan diduga dipaksakan itu.

 

Editor : B Sadono Priyo