logo

Penyakit Telinga Penyebab Kebodohan Anak Bangsa

 Penyakit Telinga Penyebab Kebodohan Anak Bangsa

Ketua Tim Pakar Kemendes PDTT Haryono Suyono (ketiga dari kanan) di tengah para ahli dan dokter THT. (foto,ist)
16 Januari 2019 11:05 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Mantan Kepala BKKBN, yang saat ini menyetujui Ketua Tim Pakar Kemendes PDTT Haryono Seperti yang mereka dengar setiap hari, anak-anak yang tidak bisa mendengar, sampai si anak tidak bisa bicara. 

Masalah telinga. Ternyata kasus seperti itu, prevalensi masih cukup tinggi di Indonesia. Di sisi lain, keadaan itu tidak melibatkan perhatian yang memadai melalui penyediaan tenaga dokter, tenaga ahli atau bahkan perlengkapan untuk rehabilitasi, karena masih mahal. 

Anak-anak yang sejak bayi tidak dapat berbicara, akhirnya tidak dapat berbicara dengan yang masih mempertimbangkan “nasib”. Padahal, jika perlu diterbitkan dini dapat dicegah.

Dalam pertumbuhannya si anak tidak perlu tidak bisa bicara dan tidak bisa bicara. Tidak berbicara bukan menyebabkan seseorang tidak bisa bicara, tetapi juga bisa menyebabkan kehilangan semuanya dalam upaya menjauh.

Para guru besar, dokter dan ahli penyakit telinga yang hadir di antara yang lain Pro dr Zainul Abidin Jaffar Sp THT, dr. Soekirman Soekin, Prof Dr dr Jenny Bashiruddin, serta Prof. dr Hendarto diantar oleh Ibu Dr Sri Hartati P Pandi MPH mantan Deputi Kepala BKKBN didampingi Dr Mulyono D Prawiro.

Kedatangan para guru besar dalam kerangka meminta saran, memperkenalkan masalah KB yang tabu menjadi sangat populer. Lebih dari 50 persen, budaya beranak lebih banyak berubah menjadi budaya baru dengan jumlah anak hanya dua saja. Nanun, memiliki kualitas unggul dan mandiri.

Para guru besar dan dokter ahli penyakit telinga, di era industri 4.0 ini memperhatikan penyakit telinga, penyebab ketulian dan tidak bisa berbicara masih tinggi. Itu akan sangat mempengaruhi kualitas bangsa di kemudian hari.

Lebih dari itu dalam era 4.0 yang serba elektronik dan otomatisasi dewasa ini, diperlukan ketajaman mata, telinga, serta kemampuan berbicara melalui jaringan maya.

"Yang akan menyelesaikan pesan dan kerja sama antar manusia, elektronik, mesin, otomatisasi, serta kemampuan membaca pesan-pesan dengan dinamika dan kecerdasan otak dan kesempurnaan seluruh pancaindra," papar Haryono.

Dalam bincang-bincang itu persetujuan kerja sama antar pihak. Untuk menarik perhatian pemerintah dan masyarakat.

Editor : Markon Piliang