logo

Menuju PON, Pilar Menara Gading Olahraga DKI Harus Kokoh

Menuju PON, Pilar Menara Gading Olahraga DKI Harus Kokoh

16 Januari 2019 10:31 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Markon Piliang

CUKUP lama olahraga DKI Jakarta begitu mendominasi di arena Pekan Olahraga Nasional (PON). Gunting waktu sejak sejak PON VII/1969 hingga PON XIV/1996, kontingen Ibukota selalu juara umum di ajang pesta olahraga antarprovinsi tersebut.

Namun pada PON XV/2000 Jawa Timur reputasi kontingen DKI Jakarta terkoyak. Tuan rumah Jawa timur merusak dominasi DKI yang sudah bertahan cukup lama dengan menggesernya ke peringkat dua. Ketika itu Jawa Timur menjadi juara umum dengan 129 medali emas, DKI di posisi kedua dengan 115 medali emas, dan Jawa Barat di peringkat ketiga dengan 89 medali emas.

Gelar juara umum PON selama ini memang menjadi tolok ukur suksesnya pembinaan olahraga di suatu daerah. Oleh karenanya DKI dianggap sebagai barometer pembinaan olahraga nasional selama bertahun-tahun, lantaran selalu menjadi juara umum di PON.

Tapi kini situasinya sudah berubah. Sejak PON XV/2000 Jawa Timur hingga PON XIX/2016 Jawa Barat juara umum silih berganti. DKI kembali merebut juara umum pada PON XVI/2004 di Palembang, namun lepas lagi ke tangan Jawa Timur pada PON XVII/2008 di Kalimantan Timur.

Pada PON XVIII/2012 Riau lagi-lagi DKI mengambil alih gelar juara umum, akan tetapi empat tahun kemudian giliran Jawa Barat yang menjadi jawara saat Negeri Pasundan bertindak sebagai tuan rumah. Ironisnya, DKI Jakarta bukan hanya turun ke peringkat dua, melainkan terlempar ke posisi ketiga.

Jelas, hasil PON XIX/2016 Jawa Barat telah memberi peringkatan kepada DKI Jakarta. Bahwa barometer pembinaan olahraga Tanah Air tidak lagi sepenuhnya berkiblat ke Ibukota, melainkan ada Jawa Timur dan Jawa Barat yang menjadi pesaing serius. 

Lantas, bagaimana menghadapi PON XX/2020 Papua? Inilah yang menarik untuk dibahas. Tiga provinsi yang selama ini menjadi Top Three sepanjang PON berlangsung, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat saling berpacu mempersiapkan atletnya.

Entah bagaimana dengan persiapan daerah lain yang menjadi pesaing, DKI Jakarta yang mengemban target juara umum PON XX/2020 Papua belum berada pada jalur pacu. Prahara yang melanda kepengurusan KONI Provinsi DKI Jakarta di bawah kepengurusan Doddy Rahmadi Amar hasil Musorprov 2017 telah memotong waktu persiapan atlet, lantaran SK kepengurusannya dibatalkan menyusul kekalahan di Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI).

Sedikitnya satu tahun waktu terbuang percuma, membuat persiapan atlet DKI menjadi terlambat. Bila daerah lain sudah berada pada jalur pacu yang benar, sementara DKI Jakarta baru akan masuk jalur pacu. Padahal waktu yang tersisa menjelang PON sudah tidak sampai dua tahun lagi.

Kini KONI Provinsi DKI Jakarta dipimpin oleh Djamhuron P Wibowo, pensiunan jenderal bintang satu TNI AL yang terpilih secara sah pada Mosorprovlub 10 Januari 2018. Di tangan pria yang akrab dengan olahraga ski air ini disandangkan harapan agar DKI Jakarta kembali merebut gelar juara umum PON.

Bahkan saat pelantikan pengurus pada 20 Februari 2018, di atas podium Balai Agung, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan dengan tegas menyampaikan amanahnya. Bahwa KONI DKI yang sudah sah dilantik diharapkan mampu membawa kembali gelar juara umum PON dari Tanah Papua.

Predikat DKI Jakarta sebagai barometer pembinaan olahraga nasional harus dikembalikan. Karena tak dapat dipungkiri, dalam setiap ajang multi event seperti SEA Games dan Asian Games, DKI Jakarta selama ini selalu menjadi kontributor atlet terbesar untuk kontingen Indonesia. Begitu juga dengan mereka yang menyumbang medali untuk Merah Putih, DKI selalu paling dominan. Dan ini yang harus dipertahankan.

Namun perlu dicatat bahwa menara gading prestasi olahraga DKI Jakarta selama ini dapat menjulang tinggi berkat dukungan semua stakeholder olahraga Ibukota. Menara gading itu ditopang oleh harmonisasi tiga pilar yang kokoh, yakni DPRD DKI Jakarta, Pemprov DKI Jakarta dalam hal ini Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), dan KONI DKI Jakarta.

Agar menara gading prestasi itu tetap bertahan, tiga pilar tersebut harus bersinergi. Saling mengait, saling merekat menjadi satu sehingga tercipta sebuah bangunan yang kokoh. Salah satu saja di antaranya tidak singkron, jangan harap menara gading itu akan tetap berdiri tegak.

Tentu saja tahun 2019 ini merupakan tantangan berat bagi atlet DKI Jakarta yang kini sedang dipersiapkan menuju PON XX/2020 Papua. Karena pada tahun ini pula akan ditentukan siapa dan cabang olahraga apa saja yang dapat tampil di PON. Pasalnya, sepanjang 2019 akan dilakukan babak kualifikasi untuk nomor pertandingan dan cabang olahraga peserta PON XX/2020 Papua.

Untuk persiapan itu perlu dukungan optimal dari semua pihak. Tidak saja dukungan moriil, tetapi juga materiil. Misalnya anggaran yang cukup untuk melakukan try out atau training camp ke luar negeri. Ibarat lomba maraton, DKI Jakarta sudah tertinggal jauh. Maka untuk mengejar ketertinggalan itu dibutuhkan ‘stamina’ yang prima.

Meski sudah tertinggal, tidak ada yang tidak mungkin. Bak pepatah yang selalu diungkapkan mantan Ketua Umum KONI DKI almarhum Kusnan Ismukanto: Man Jadda Wa Jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan memetik hasilnya.

Pada akhirnya kita kembali kepada kesungguhan. Bahwa prestasi itu tidak dapat diraih seperti membalik telapak tangan, itulah kenyataannya. Yang dibutuhkan sekarang adalah kesolidan tiga pilar olahraga DKI Jakarta, yakni DPRD, Pemprov, dan KONI DKI membangun harmonisasi hubungan yang kuat. Bila itu bisa dilakukan, yakinlah bahwa Menara Gading Prestasi Olahraga DKI Jakarta akan tetap berdiri kokoh. Semoga!!!  

 

Editor : Markon Piliang