logo

Ambang Batas Parlemen, Elektabilitas Golkar Di Bawah PDIP Dan Gerindra

Ambang Batas Parlemen, Elektabilitas Golkar Di Bawah PDIP Dan Gerindra

Survei indEX tentang elektabilitas partai politik. (Antara)
13 Januari 2019 07:11 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Hasil survei yang dilakukan lembaga Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research menunjukkan lima partai memiliki tingkat ambang batas parlemen yang aman. 

"PDI Perjuangan, Gerindra, Golkar, PKB, dan Demokrat berada pada posisi aman melewati ambang batas parlemen sebesar empat persen,” ujar Direktur Eksekutif indEX Research Vivin Sri Wahyuni dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (11/1/2019).

Vivin mengatakan dari hasil survei indEX, kelima parpol itu meraih elektabilitas di atas ambang batas parlemen. 

PDIP menempati posisi puncak dengan raihan 25,7 persen, disusul Gerindra pada posisi kedua sebesar 14,7 persen.

“Gerindra berhasil menggeser Golkar ke posisi ketiga," kata Vivin. 

Posisi ketiga Golkar memeroleh elektabilitas 9,8 persen, posisi keempat PKB 7,5 persen dan kelima Demokrat 4,6 persen. 

Lebih jauh dia mengatakan enam parpol lain masih berpeluang untuk dapat menembus ambang batas, dengan memperhitungkan margin of error survei. 

Keenam parpol tersebut adalah Nasdem (3,5 persen), PPP (3,3 persen), PKS (3,2 persen), PAN (2,6 persen), PSI (2,3 persen), dan Perindo (2,2 persen). 

Sedangkan lima parpol terbawah yang dinilai berpotensi gagal mengirim wakil ke Senayan yakni Hanura (1,0 persen), PBB (0,9 persen), Berkarya (0,8 persen), PKPI (0,4 persen), dan Garuda (0,1 persen). 

Dia mengatakan masih terdapat sebanyak 17,4 persen responden yang menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab. Angka tersebut turun dibandingkan survei sebelumnya pada periode November 2018 sebesar 20,6 persen. 

Antara melaporkan, Survei indEX Research dilakukan pada 17-28 Desember 2018, dengan jumlah responden 1.200 orang. Metode survei adalah multistage random sampling dengan margin of error plus minus 2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.

     Efek Ekor Jas

Hasil survei yang dilakukan lembaga Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research menunjukkan empat partai mengalami kenaikan elektabilitas akibat efek ekor jas dan manuver para elite. 

"Empat partai menikmati kenaikan elektabilitas, yang terkerak oleh 'coattail effect' maupun manuver yang dilancarkan elite-elite parpolnya," kata Direktur Eksekutif indEX Research Vivin Sri Wahyuni dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu. 

Vivin mengatakan keempat partai itu adalah PDI Perjuangan, Gerindra, Partai Solidaritas Indonesia dan Berkarya. 

PDIP dan Gerindra mendapatkan efek ekor jas sebagai partai pengusung utama capres Jokowi dan capres Prabowo Subianto. Sedangkan PSI dan Berkarya mengalami kenaikan elektabilitas akibat isu-isu kontroversial yang diangkatnya. 

Vivin mengatakan berdasarkan temuan indEX Research, elektabilitas PDIP meningkat dari 23,1 persen pada survei periode November 2018 menjadi 25,7 persen.

Sedangkan Gerindra naik dari 12,3 persen menjadi 14,7 persen. 

“Kenaikan elektabilitas PDIP dan Gerindra tidak mengherankan, mengingat kedua parpol adalah pengusung utama capres-cawapres," ujarnya. 

Sementara PSI naik dari 1,2 persen menjadi 2,3 persen, sedangkan Berkarya dari sebelumnya hanya 0,1 persen menjadi 0,8 persen.

Kenaikan kedua partai tersebut, menurutnya lantaran strategi melontarkan isu-isu kontroversial untuk mendapatkan efek elektoral.

“PSI memanfaatkan isu-isu sensitif seperti Perda Syariah, poligami, hingga ucapan selamat Natal, sedangkan Berkarya menjual Soeharto sebagai Bapak Pembangunan pada era Orde Baru,” jelas Vivin.

Sementara itu elektabilitas partai menengah seperti PKB relatif stabil pada kisaran 7,3 - 7,5 persen. Kehadiran sosok cawapres Ma’ruf Amin dinilainya masih belum berdampak signifikan mengerek elektabilitas capres pasangannya, Jokowi.

“Mesin kampanye PKB dan Ma’ruf tampak belum sinkron,” ujar Vivin.

Sementara itu partai lain cenderung stagnan atau mengalami penurunan. 

    Jokowi Ungguli Prabowo

Hasil survei yang dilakukan lembaga Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research juga menunjukkan elektabilitas Jokowi tetap mengungguli Prabowo Subianto di tengah isu politisasi agama. 

"Temuan lembaga survei indEX Research menunjukkan bahwa elektabilitas Jokowi-Ma’ruf tetap jauh mengungguli pasangan Prabowo-Sandi," kata Direktur Eksekutif indEX Research Vivin Sri Wahyuni.

Survei indEX Research dilakukan pada 17-28 Desember 2018, dengan jumlah responden 1.200 orang. Metode survei adalah multistage random sampling dengan margin of error  plus minus 2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. 

Vivin mengatakan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mencapai 55,6 persen, terpaut 20 persen dibanding Prabowo-Sandi yang meraih 32,3 persen. Sementara sisanya sebanyak 12,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya pada periode November 2018, elektabilitas kedua pasangan cenderung tidak berubah signifikan.

Sebelumnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 54,6 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 30,6 persen. Responden yang tidak tahu atau tidak menjawab turun dari sebelumnya 14,8 persen.

Dia menilai, meskipun sudah tidak lagi efektif sebagai strategi politik, namun politisasi agama tidak akan menghilang begitu saja.

Dia mengatakan Gelombang politik identitas bernuansa agama terus menjadi komoditas oleh elite-elite politik. 

Setelah memuncak pada Pilkada DKI Jakarta lalu, politisasi agama dipandang masih mewarnai wacana publik jelang pemilu serentak pada April mendatang.

“Perdebatan tentang hubungan agama dan negara sudah setua umur Republik, sudah saatnya wacana tersebut dikelola dengan baik setelah dinamika pasca-Reformasi silam,” jelas Vivin. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto