logo

Kendalisada Art Festival Kekuatan Ketahanan Sosial Desa Kaliori

Kendalisada Art Festival Kekuatan Ketahanan Sosial  Desa Kaliori

Kendalisada Art Festival
10 Januari 2019 16:05 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ketua Tim Pakar Kemendes PDTT Haryono Suyono, di ruang kerjanya, Rabu (9/1/2019) menceritakan, sebuah legenda yang terjadi di Desa Kaliori, Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah. Legenda tersebut, sesuai perkembangan zaman, hingga saat ini, akhirnya menjadi ferstival budaya atau dikenal Kendalisada Art Festival. 

Kendalisada merupakan sebutan bagi sebuah tempat di zaman “Awang Uwung” yang menjadi cikal-bakal lahirnya Desa Kaliori. Kendalisada dapat diartikan sebagai kendalisabdo atau kalimasada, menjaga pitutur.

Sedangkan, kalimasada adalah dua kalimat sahadat, menunjukkan tempat untuk menyatukan diri dengan alam dan Sang Pencipta. Sekaligus, suatu tempat untuk menempa ilmu pengetahuan, baik pengetahuan ilmu bumi ataupun ilmu langit.

Diungkapkan Haryono, dari tempat ini lahir tata nilai dan keyakinan yang diturunkan para leluhur pada anak cucu, yakni masyarakat Desa Kaliori Ksatria. Masyarakat Desa Kaliori, lanjutnya, percaya leluhur mereka bernama Hanoman Perbansa. Yaitu simbol dari perwujudan hananing iman.

Pedoman dalam menjalani kehidupan harus mempunyai iman yang kuat, teguh dalam pendirian, berani membela kebenaran, serta selalu merendah tidak sombong. Diceritakan, Kendalisada dikenal sebagai tempat berkumpulnya para tokoh hebat di eranya.

Ada Eyang Sapu Jagad yang memiliki keilmuan yang luas seluruh jagat. Lalu, Eyang Sumantri yang memiliki sifat bijaksana, Mbah Tekad yang memiliki tekad yang kuat dalam berusaha untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan, Mbah Panunggul yang memiliki sifat apa adanya (blakasuta) dan sangat berani dalam membela kebenaran.

Ada juga Raden Putri Kenongo, yaitu seorang putri yang baik hati, Eyang Maronggo Geni yang memiliki keilmuan dalam bidang seni dan budaya, Eyang Dermasemita beliau seorang dermawan dan pengayom, Eyang Dewi Murti yang arif dan luhur, serta Syekh Panglima Aji Masmur yang mensyiarkan agama Islam murid dari Eyang Sapu Jagad, dan dimakamkan di Kendalisada pada 1515 Masehi.

Saat ini, Kendalisada Art Festival merupakan upaya Pemerintah dan masyarakat Desa Kaliori, untuk menumbuhkembangkan identitas kultural sebagai anak cucu di lingkungan Kendalisada. "Anak-anak muda diharapkan mencontoh sifat-sifat yang diturunkan dari leluhur, menjadikan dirinya manusia yang ingat akan keberadaan Sang Pencipta dan cara kehidupan," tutur mantan Menko Kesra dan Taskin. 

Sampai sekarang, Kendalisada masih terjaga keluhurannya dengan suasana alam yang asri, serta masyarakatnya yang berada di Desa Kaliori menjaga tradisi, seni dan budayanya. Kendalisada Art Festival rutin dilaksanakan pada awal tahun Hijriyah, sebagai ruang kontemplasi dan rasa bersyukur masyarakat Desa Kaliori untuk menjalani kehidupan di tahun berikutnya.

Kegiatan Kendalisada Art Festival berlangsung selama satu pekan dengan rangkaian acara berupa Festival 1.000 Hanoman, Festival Qasidah, Pameran Galeri Pusaka Kendalisada, Pagelaran Kuda Lumping, Sendra tari, Pagelaran Wayang Ruwat, Pasar Seni dan kuliner.

Pada Kendalisada Art Festival 2017 dimeriahkan dengan hadirnya pada seniman kelas internasional, seperti Didik Nini Thowok, Rianto (Penari International), Vanesa Morierq (Penari Argentina), Dariah (Lengger Lanang, Maestro Lengger), Nani Sawitri (Topeng Losari), Bagus Bang Sada (Penari Bali), Mao Arata (Penari Jepang), Yoshi Toshi (Penari Hongkong), serta Miray Kashimawa (Penari Jepang).

Editor : Yon Parjiyono