logo

Batik Sekar Geang, Motif Banyumasan Disukai Lintas Generasi

Batik Sekar Geang, Motif Banyumasan Disukai Lintas Generasi

Sejumlah motif batik Sekar Geang. (foto, ist)
03 Januari 2019 08:44 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kelompok pengrajin batik Sekar Geang, Desa Plana, Somagede, Banyumas,  Jawa Tengah  mengembangkan puluhan inovatif batik, yang disukai pecinta batik lintas generasi, mulai anak-anak, remaja, pemuda, hingga manula.

Ketua Tim Pakar Kemendes PDTT Haryono Suyono, di ruang kerjanya, Kamis (3/1/2019) menceritakan, koleksi motif Batik Sekar Geang menjadi icon baru tanda mata dari Banyumas.

Dikemukakannya, kelompok pengrajin batik tersebut, mampu mendongkrak nama Desa Plana makin tersohor. Sekar Geang, ujarnya, mengeksplorasi beragam karakter, identitas, dan sejarah masyarakat Banyumas,  menjadi motif batik yang indah dan menawan.

Desa Plana, yang terletak di lembah Sungai Serayu, memiliki banyak cerita dan sejarah, yang bisa menjadi sumber inspirasi motif bagi para pengrajin batik. Motif-motif batik yang diproduksi Kelompok Pengrajin Sekar Geang, bahkan mampu berkembang menjadi ikon baru peninggalan Banyumas.

Seperti motif Setangkai Bunga Mawar, Gedong Kosong, Bunga Kantil, Bunga Pagi, Bunga Bunga, Bunga Terompet, Bunga Batu, Bunga Mawar, Anggrek, Daun Cabe Obat, Sungutan, Manggar Miring, Bawor, Lowo, Gentong, dan aneka lain yang banyak variasinya.

Haryono menjelaskan, kelompok Pembatik Sekar Geang terbentuk pada Medio 2014. Kelompok ini menemukan format bisnisnya pada awal 2015. Anggotanya semula hanya sebanyak 11 orang.

Meski umur kelompok ini masih muda, namun sebagian besar anggota kelompok memiliki latar belakang sebagai buruh borongan di perusahaan batik terkemuka di Kota Banyumas. Sehingga, pengetahuan dan keterampilan mereka dalam membatik tidak banyak menemukan kendala yang berarti.

Kepala Desa Plana Yusim menjelaskan, kelompok pengrajin batik digerakkan oleh para Kader PKK. Lantas, berkat adanya program Pembangunan Desa dan Masyarakat Desa dewasa ini, Pemerintah Desa Plana mendukung prakarsa masyarakat itu dengan pelatihan untuk pengrajin.

"Penyelenggaraannya dibiayai dengan Dana Desa (DD)," kata Yusim. Masyarakat desa dibantu program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa Tengah.

Utamanya dalam pembentukan Posdaya di tingkat desa. Posdaya dan Kelompok PKK itu kemudian menyatu dalam Kelmpok baru Sekar Geang sebagai embrio Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang terbentuk memenuhi permintaan pasar produk batik di Kecamatan Somagede.

Pada tahun 2016, permintaan nencapai 6.457 lembar kain, untuk keperluan seragam sekolah, guru, dan para pegawai yang ada di lingkungan Kecamatan Somagede. Permintaan terus meningkat, karena dewasa ini secara umum, masyarakat Banyumas menggunakan batik 2-3 hari dalam satu minggu.

Hal itu menunjukkan batik telah menjadi tradisi dan kebutuhan masyarakat. Selain itu, perkembangan sektor pariwisata di Banyumas yang terus meroket, turut mendongkrak batik Banyumasan.

"Banyak dicari para wisatawan sebagai cendera mata atau buah tangan," ujar Kepala Desa Plana.

Editor : Yon Parjiyono