logo

Keluarga Desa Berkontribusi Tinggi Untuk Turunkan Fertilitas

Keluarga Desa Berkontribusi Tinggi Untuk Turunkan Fertilitas

Kader keluarga berencana. (foto,ist)
24 Desember 2018 21:08 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - SURABAYA: Keluarga desa di wilayah Jawa Timur (Jatim) bisa menjadi contoh keluarga lain di seluruh Indonesia. Dengan keberhasilannya menurunkan fertilitas atau tingkat kelahiran menjadi rata-rata 2,1 anak, dari jumlah anak yang di seluruh Indonesia pada tahun 1970-an berada pada posisi enam anak.

Kondisi itu diungkapkan Ketua Tim Pakar Kemendes PDTT sekaligus mantan Kepala BKKBN Prof Dr Haryono Suyono, yang bersama Deputi bidang Pelatihan dan Pengembangan BKKBN Prof Dr Rizal Damanik, mendampingi Dr Sugiri Syarif, Prof Lestari, Prof Nyoman, Dr Suko Widodo, serta beberapa pakar, ahli dan pekerja bidang Kesehatan dan Kependudukan dari berbagai Perguruan Tinggi di Surabaya, Jatim, Jumat (21/12/2018) memberikan gambaran, bagaimana keluarga desa berkontribusi pada turunnya fertilitas.

Haryono menyebutkan, data turunnya fertilitas di Jatim itu adalah, hasil Survei SDKI BPS 2018 tentang kondisi tingkat kelahiran dan pengembangan program KKB dari seluruh Indonesia dalam tiga tahun menjelang tahun 2018. Selama tiga hari pekan lalu, yakni Rabu hingga Jumat (19 - 21/12/2018), hasil survei tingkat provinsi yang baru dikeluarkan itu, dibahas oleh ahli-ahli dari berbagai Perguruan Tinggi, wakil BKKBN dari seluruh Jawa Timur.

Dikatakannya, tingkat kelahiran di Jatim menjadi contoh dari cita-cita nasional seluruh Indonesia, yang dewasa ini berada pada posisi 2,4 anak. Alasan yang menonjol hal itu terjadi di Jatim.

Karena, pengetahuan tentang KB yang tinggi, kesertaan KB yang stabil di tingkat kota dan desa, peningkatan usia kawin pertama, serta kemajuan yang luar biasa dalam bidang pendidikan. Alhasil, kesempatan yang makin terbuka bagi kaum ibu.

Untuk bekerja karena alasan pendidikan yang meningkat atau karena terpaksa bekerja membantu kehidupan rumah tangganya. Pengaruh berubahnya masyarakat desa menjadi masyarakat kota memiliki andil yang besar.

Haryono, yang ditugasi memberi ulasan terhadap banyak studi analisis yang dikerjakan para pakar dari berbagai Perguruan Tinggi menggambarkan, perkembangan yang melanda banyak desa selama tiga tahun sebelum tahun 2018, dipengaruhi juga mengalirnya dana desa sebanyak Rp. 187 triliun langsung ke desa.

Untuk membangun prasarana, termasuk pembangunan jalan, pasar Posyandu, klinik desa, MCK, air bersih dan lainnya yang mendukung meningkatnya Desa Mandiri dari 2.894 desa pada tahun 2014 menjadi 5.559 desa pada tahun 2017. Sebaliknya jumlah desa tertinggal menurun dari 19.750 desa menjadi 13.232 desa, memungkinkan masyarakat desa makin mudah mengakses fasilitas kesehatan, air bersih, MCK, pendidikan, pasar dan lainnya yang lebih baik.

Karena itu, tidak saja anak perempuan bersekolah dan menjadi anak maju dan modern, tetapi kaum ibu memiliki kesempatan bekerja di luar rumah. Sehingga, biarpun kesertaan KB yang sudah tinggi stabil, tetapi diikuti penurunan tingkat kelahiran.

Dalam keadaan angka kelahiran 2,1 anak, Jatim mulai memiliki keseimbangan jumlah penduduk yang meninggal sama banyaknya, dengan jumlah bayi yang dilahirkan, usia harapan hidup bertambah panjang, serta tumbuh kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dengan modal tingkat fertilitas dan pertumbuhan penduduk rendah, tingkat pendidikan, serta semangat membangunan yang tinggi.

"Kita doakan masyarakat Jawa Timur menjadi pelopor pembangunan yang berhasil pada era industri 4.0, yang penuh tantangan ini. Untuk dihadapi dengan kerja sama gotong royong yang dinamis, terarah dan konsisten," tutur Haryono.

Editor : Silli Melanovi