logo

Mengambil Pelajaran Hidup Dari Wayang Orang Smaratapa

Mengambil Pelajaran Hidup Dari Wayang Orang Smaratapa

Sebuah cuplikan dalam pertunjukan wayang orang. (foto.ist)
23 Desember 2018 22:08 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Gedung Kautaman TMII di Jakata Timur, Sabtu (22/12/2018) malam, ramai dihadiri para sesepuh. Tampak terlihat di antaranya, Ibu Soewarti Surono, Ibu Surini Soedjarwo, Ibu Nina Akbar Tanjung didampingi suami tercintanya Akbar Tanjung yang asli dari Sumatra Utara, serta Haryono Suyono dan Ibu Sanyoto Sastrowardoyo.

Bersama banyak tokoh lainnya, sesama pencinta budaya bangsa, mereka memenuhi gedung Pewayangan di TMII tersebut. Dalam upaya melestarikan budaya bangsa, mereka menyaksikan pertunjukan Wayang Orang.

Pakar Pemberdayaan Keluarga Haryono Suyono, yang berada di tengah para tokoh itu menceritakan, pagelaran Wayang Orang ini mengambil Lakon Smaratapa, atau Anoman Obong atau Matinya Dasamuka, raja angkara murka dari Alengka. Pertunjukan yang dibuka oleh Ketua Unima Duta Besar Samodra Sriwijaya dan Ibu Akbar Tanjung itu menyajikan penggalan Lakon yang sangat populer dan menjadi idola masyarakat penggemar wayang.

Ceritanya menggambarkan tewasnya Raja Dasamuka atau Rahwana, yang angkara murka setelah mencoba mempertahankan Dewi Sinta yang diculiknya dari Raja Rama, yang sangat mencintai permaisurinya. Pertunjukan kolosal yang dimainkan oleh puluhan seniman wayang orang dari Surakarta, Jakarta dan Anjungan DI Yogyakarta itu diantar oleh Produser Ibu Retno Irawati Surono.

"Dia tampak sumringah sepanjang acara berlangsung," ujar Haryono. Ibu Retno dibantu Sutradara dan penulis naskah terkenal Nanang Hape, penata artistik Sugeng Yeah, konsultan tari Elly D Luthan, serta puluhan seniman kreatif lainnya.

Pertunjukan yang megah itu diiringi gamelan slendro dan pelok dengan seniman penabuh lengkap. Mereka tidak ada yang menyimak catatan, karena sudah sangat mahir mengiringi suasana syahdu penuh kasih sayang atau pertempuran dahsyat mempertaruhkan kehormatan dan nyawa.

Bagi setiap penggemar wayang, lakon yang dibawakan, sudah mengenal betapa kesedihan Prabu Rama ditinggal permaisuri yang diculik Prabu Dasamuka di hutan Dandaka. Dalam suasana kesedihan tersebut diutuslah Anoman guna mengetahui kondisi Dewi Sinta dalam penculikan di Istana Alengka.

Anoman yang lincah berhasil mengetahui kondisi bahkan menyampaikan “pesan cinta” suaminya dan serta sempat membakar Istana raja yang membuat geger seluruh negara Alengka. Jawaban kesetiaan Dewi Sinta memastikan tekad Prabu Rama membebaskan permaisuri tercinta.

Dengan bantuan Wibisana dan ribuan pasukan kera, dibendunglah lautan guna membuka jalan ke Alengka untuk membebaskan Dewi Sinta. Ribuan pasukan kera yang tidak punya rasa takut karena membela kebenaran dan keadilan bertempur habis-habisan.

Pertempuran besar-besaran terjadi sebagai simbol pertarungan antara kebenaran dan angkara murka yang berakhir matinya Raja Dasamuka. Pertanda kalahnya angkara murka dari kebenaran dan keadilan.

Suatu simbol dari kehidupan umat manusia yang secara nyata seperti tidak ada akhirnya, karena kejahatan selalu bermuka banyak. Tapi, kalau ditangani dengan sabar, konsisten dan kasih sayang, akhirnya akan dikalahkan.

Suatu pertunjukan yang kaya pelajaran dan pantas ditayangkan sesering mungkin. Agar menjadi teladan dan peringatan yang merangsang perubahan yang meyakinkan.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto