logo

Sabadesa Kembangkan Pusat Latihan Karinding Dan Celempung

Sabadesa Kembangkan Pusat Latihan Karinding Dan Celempung

Alat musik Karinding. (foto,ist)
19 Desember 2018 03:46 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Alat Musik Karinding-Talempong memiliki sejarah panjang di dunia perdesaan tatar Sunda,. Karinding dan Celempung merupakan alat musik Sunda yang hampir punah dan hilang.

Ketua Tim Pakar Kemendes Haryono Suyono, di ruang kerjanya, Selasa (18/12/2018) menceritakan, jauh sebelum ditemukan alat musik berbahan kulit dan logam, alat musik tersebut merupakan alat musik yang paling tua di kalangan masyarakat Sunda.

Secara etimologi, ungkapnya, Karinding berasal dari kata ka dan rinding. Ka berarti sumber dan rinding berarti suara. Karinding juga berarti sejenis serangga sawah yang nyaring bunyinya, yaitu karindingan (kemungkinan serangga jenis ini sudah punah).

Karinding adalah alat yang digunakan oleh para leluhur (karuhun) untuk mengusir hama di sawah—bunyinya yang low decible sangat merusak konsentrasi hama. Karena Karinding mengeluarkan bunyi tertentu, maka dia juga dimanfaatkan sebagai alat musik.

Bukan hanya untuk mengusir hama di sawah, para karuhun memainkan Karinding ini dalam ritual atau upacara adat. Kalau masih ada acapkali Karinding digunakan sebagai pengiring pembacaan rajah.

Menurut R. Gus Gus Sugara, selain di Sukabumi, alat musik Karinding populer di sejumlah tempat di Jawa Barat. Seperti dari Citamiang, Pasir Mukti, Tasikmalaya, Malangbong (Garut) dan Cikalong Kulon (Cianjur).

Sebagaimana kita tahu bahwa UU Nomor 6 Tahun 2016 tentang Desa, memberikan asas rekognisi atau penghargaan dan pengakuan atas hak asal usul. Oleh karena itu, desa di tatar Sunda harus memiliki program untuk melestarikan alat musik Karinding dan Celempung, yang memiliki latar sejarah hingga era Kerajaan Pajajaran.

Sabadesa memiliki perhatian besar pada kerja reservasi dan konservasi kebudayaan Sunda, khusus Karinding dan Celeumpung. Sabadesa mendukung desa-desa yang memiliki ketertarikan untuk mengembangkan strategi kebudayaan, terutama revitalisasi alat-alat musik tradisional, dengan laboratorium dan pusat latihan seni musik.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto