logo

Kemenperin Rancang Insentif, Indeks dan Inovasi Industri 4.0

Kemenperin Rancang Insentif, Indeks dan Inovasi Industri 4.0

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjadi pembicara pada acara yang bertema Meningkatkan Daya Saing Indonesia dalam Revolusi Industri 4.0 di Jakarta, Kamis (15/11/2018).
15 November 2018 21:45 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Pemerintah telah merumuskan sejumlah program guna mendorong percepatan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. 

Beberapa program prioritas yang telah dilakukan oleh Kemenperin, antara lain perumusan insentif bagi pelaku industri, memfasilitasi pelatihan untuk mencetak manajer transformasi dan tenaga ahli teknologi industri 4.0, serta penunjukan Lighthouse of Industry 4.0.

“Kami telah mengusulkan super deductible tax 300 persen bagi perusahaan yang berinvestasi melaksanakan litbang dan insentif untuk investasi pendidikan vokasi. Keduanya termasuk yang terkait dengan teknologi industri 4.0,” kata Menperin Airlangga Hartarto, di Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Kemenperin juga sedang merumuskan Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Ini merupakan metode asesmen untuk mengukur tingkat kesiapan perusahaan dalam menerapkan teknologi industri 4.0 serta menghasilkan efisiensi dan produktivitas dari penerapan peta jalan tersebut.

Selanjutnya, memfasilitasi pelatihan untuk mencetak manajer transformasi industri 4.0 dan tenaga ahli teknologi industri 4.0. “Kami juga sudah memfasilitasi bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk masuk dalam program e-Smart IKM serta menjalin kerja sama dengan e-commerce di dalam negeri seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Lazada,” imbuh Menperin.

Langkah lainnya yang tengah dilakukan Kemenperin, yakni penunjukan Lighthouse of Industry 4.0. “Kami memilih perusahaan-perusahaan champion pada masing-masing sektor prioritas sebagai percontohan penerapan teknologi industri 4.0,” tutur Airlangga.

Lima sektor manufaktur yang akan dijadikan pionir, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektonika. Kelompok manufaktur ini mampu memberikan kontribusi sebesar 65 persen terhadap total ekspor, kemudian menyumbang 60 persen untuk PDB, dan 60 persen tenaga kerja industri ada di 5 sektor tersebut.

Upaya terpenting lainnya adalah membangun showcase dan pusat inovasi industri 4.0. Hal ini guna mendorong penguatan infrastruktur lembaga litbang Kemenperin terkait teknologi industri 4.0 dan pembangunan fasilitas untuk peningkatan kemampuan SDM industri di era industri 4.0.

Dalam upaya membangun pusat inovasi yang sesuai konsep industri 4.0, Kemenperin berencana untuk menginisiasi pembangunan Pusat Inovasi Makanan dan Minuman (PIMM). Pemilihan ini didasarkan pada besarnya kontribusi sektor tersebut terhadap ekonomi nasional, dan juga tingkat kesiapan industri makanan dan minuman dalam menerapkan industri 4.0 agar relatif lebih bagus. 

 

10 Besar Dunia

Airlangga menyebutkan, Pemerintah telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 untuk kesiapan memasuki era revolusi industri 4.0. Peta jalan yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian itu menjadi strategi dan arah yang jelas dalam pengembangan industri nasional yang berdaya saing global.

Proses penyusunannya sudah dilakukan dua tahun sebelumnya dan peluncuran roadmap diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 4 April 2018. 

Dalam penyusunan roadmap Making Indonesia 4.0, Kemenperin melibatkan stakeholder dari dalam dan luar negeri, termasuk beberapa konsultan seperti McKinsey dan AT Kearney serta JETRO dan JICA.

Menperin menjelaskan, aspirasi besar dalam Making Indonesia 4.0 adalah menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. 

“Sasaran itu bisa tercapai, dengan didukung kontribusi ekspor neto 10 persen dari PDB, produktivitas naik dua kali lipat, dan anggaran riset sebesar 2 persen dari PDB,” sebutnya. ***