logo

Banjir Putuskan Jalur Sumbar-Sumut, Serangkaian Gempa Getarkan Mamasa

Banjir Putuskan Jalur Sumbar-Sumut, Serangkaian Gempa Getarkan Mamasa

Istimewa
08 November 2018 06:13 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - SIMPANG EMPAT, Sumbar: Arus transportasi dari Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat menuju Sumatera Utara terputus akibat banjir mengenangi jalan Kampung Baru Ranah Batahan, Rabu malam (7/11/2018).

"Benar, air Sungai Batahan Kecamatan Ranah Batahan meluap dan menutupi jalan tepatnya di Kampung Baru. Akibatnya arus transportasi terputus total menuju Madina Sumut," kata Camat Ranah Batahan, Syahwirman, di Simpang Empat, Rabu malam.

Dia mengatakan akibat curah hujan yang tinggi sejak Rabu sore, air Sungai Batahan meluap sampai jalan dan merendam rumah warga setinggi 50 centimeter.

"Jalan tidak bisa dilalui kendaraan karena air cukup deras di jalanan. Akibatnya terjadi antrean kendaraan," katanya.

Ia menyebutkan meluapnya Sungai Batahan mengakibatkan empat kejorongan atau dusun terendam banjir, yakni Kejorongan Lubuk Gobing, Kejorongan Simpang Tolang Baru, Kejorongan Air Napal, dan Kejorongan Kampung Baru.

"Puluhan rumah terendam banjir dan sejumlah warga mengungsi ke tempat yang aman," katanya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasaman Barat Tri Wahluyo mengatakan sejumlah sungai besar di daerah itu meluap akibat tingginya curah hujan sejak Rabu sore.

Sejumlah sungai yang airnya meluap, adalah Sungai Limpato, Sungai Batang Nango Kajai Kecamatan Talamau, Sungai Batahan Ranah Batahan, Sungai Bayang Kecamatan Lembah Melintang, Sungai Sikabau, Sungai Batang Saman dan Sungai Batang Lapu Parit Koto Balingka.

"Sangat mengkhawatirkan situasi hingga Rabu malam ini. Air sungai mulai meluap sampai ke jalan dan merendam rumah warga, terutama di Kampung Baru Ranah Batahan," katanya. 

Pihaknya bersama instansi terkait lainnya sudah turun ke lapangan untuk memberikan bantuan kepada warga dan mengingatkan agar waspada banjir seperti beberapa waktu lalu.

"Kita masih memantau dan anggota sudah turun ke lapangan. Sementara hujan belum reda," katanya seperti dikutip Antara.

Ia mengajak warga meningkatkan kewaspadaan terkait dengan banjir dan longsor. Jika, hujan tidak reda dalam beberapa jam ke depan dikhawatirkan banjir akan terjadi.

                       Gempa

Sementara itu serangkaian gempa bumi mengguncang Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, pada Rabu malam (7/11).
   
Menurut laporan BMKG dalam media sosial Twitter @infoBMKG dikutip di Jakarta, gempa bumi terkini dengan magnitude sebesar 3,3 terjadi pada pukul 21:52 WIB.
   
Lokasi pusat gempa berada di darat pada kedalaman 10 Km di timur laut ibukota Kabupaten Mamasa.
   
Titik koordinat gempa itu yakni di 2,83 Lintang Selatan dan 119,41 Bujur Timur. "Gempa Mag: 3,3, 07-Nov-18 21:52:49 WIB, Lok:2.83 LS, 119.41 BT (Pusat gempa berada di darat 13 km timur laut Mamasa), Kedlmn:10 Km Dirasakan (MMI) II Mamas," demikian laporan BMKG.
   
Sementara itu, gempa awal pada Rabu di daerah itu tercatat BMKG dengan magnitude 5,2 pada 16:42 WIB di barat daya Mamasa. Lokasi koordinat pusat gempa itu tercatat di 2,92 Lintang Selatan dan 119,41 Bujur Timur.
   
Dua gempa tercatat menyusul setelahnya dengan kekuatan berturut-turut magnitude 3,9 pada pukul 19:36 WIB, dan magnitude 4 pada pukul 19:37 WIB.
   
Lokasi dua gempa itu yaitu pada 2,9 Lintang Selatan dan 119,26 Bujur Timur serta 2,9 Lintang Selatan dan 119,31 Bujur Timur.

Gempa di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, membuat sejumlah warga wilayah tersebut memilih berada di tenda darurat karena takut bangunan roboh ketika guncangan gempa terasa keras.

Pemantauan di Mamasa,  sejumlah warga memilih meninggalkan rumahnya dan mendirikan tenda darurat di ruang terbuka setelah gempa bumi terus mengguncang daerah itu sejak 3 November 2018.

Sejumlah warga memilih mendirikan tenda darurat karena khawatir tertimpa bangunan ketika guncangan gempa semakin keras.

Bupati Mamasa Ramlan Badawi telah meminta warganya untuk tenang dan tetap waspada serta berharap agar masyarakat tidak terpengaruh berita hoaks yang tidak bertanggung jawab dan menunggu imbauan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). ***

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto