logo

Daya Saing Dan Potensi Pasar

Daya Saing Dan Potensi Pasar

04 November 2018 19:57 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro SE, MSi

Perekonomian ke depan menegaskan tentang potensi pasar yang sangat terbuka. Oleh karena itu, globalisasi sebagai kekuatan ekonomi nampaknya juga tidak bisa mengelak dari tantangan sosial – ekonomi, termasuk misalnya pemberlakuan Trans Pasific Partnership atau TPP. Di satu sisi, pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean  - MEA juga masih menyisakan banyak tantangan, meski di sisi lain ada juga peluang besar.

Potensi ini harus didukung peningkatan kerjasama, baik melalui jalinan bilateral atau multilateral. Potensi MEA pada dasarnya juga telah menjadi pembahasan pada KTT ke-24 Asean Mei 2014 lalu di Myanmar yang telah menghasilkan sejumlah keputusan penting bagi jalinan multilateral Asean. Pelaku usaha perlu memetakan potensi dan pemerintah harus mendukung daya saing, termasuk memberikan kesempatan dan regulasi yang mempermudah kerjasama.

Apapun bentuknya, semua kerangka kerja sama pastilah memberikan peluang dan juga ancaman, tinggal bagaimana melihat itu semua dari perspektif ekonomi - bisnis. Di satu sisi pembentukan kerangka kerja sama memang tidak bisa lagi dihindari karena saat ini cenderung semakin berkembang tuntutan globalisasi. Di sisi lain, ketidaksiapan semua pelaku usaha pada akhirnya justru mengebiri peluang dari terciptanya kerangka kerja sama itu sendiri. Artinya, berbagai peluang yang bisa lebih dibangun baik dalam bentuk Business to Business atau Government to Business atau sebaliknya bisa hilang jika saja tidak ada upaya untuk memanfaatkan peluang tersebut dan ini tentu disayangkan. Oleh karena itu ke depan perlu membahas hal tersebut demi peningkatan taraf kesejahteraan.


Daya Saing

Belajar dari kasus ACFTA maka tantangan untuk memacu daya saing menjadi semakin kompleks, tidak hanya dengan Cina, tetapi juga dengan mitra dagang lainnya. Hal ini menunjukan bahwa ACFTA masih menyisakan tantangan untuk memacu daya saing, terutama terkait fakta prospek ACFTA, realisasi MEA dan TPP sebentar lagi. Meskipun hal ini tidak bisa lagi dihindari karena menjadi bagian dari era liberalisasi perdagangan tetapi ancaman pemberlakuan MEA – TPP tetap harus diwaspadai, terutama terhadap sejumlah komoditi unggulan karena kalah bersaing dengan produk made in dari negara pesaing. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak melakukan pembenahan sedari dini dan tahun politik seharusnya tidak mereduksi peluang ekonomi bisnis karena adanya kekhawatiran terhadap konflik horisontal. Dari sejumlah komoditi unggulan tersebut, salah satunya yang diyakini sangat rentan adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Urgensi terhadap daya saing, bahwa pasar Asean memang sangat menjanjikan. Bahkan, sinergi dengan mitra dialog Asean juga memungkinkan terjadinya pasar yang terbuka di semua bidang. Kalkulasi dari jumlah ini yaitu terbukanya pasar karena jumlah penduduk sekitar 3 miliar dengan nilai produk domestik bruto mencapai sekitar US$ 19.78 triliun. Kalkulasi dari jumlah penduduk tentu menjadi pasar yang sangat prospektif dikuasai, meski harus juga dibarengi dengan jaminan kualitas dan kontrol produksi yang sangat ketat. Sebaliknya, jika kita tidak segera berbenah dan meningkatkan daya saing, maka potensi ini justru akan menjadi bumerang karena akhirnya jumlah penduduk kita yang terbesar akan menjadi pasar dari produk-produk pesaing termasuk misalnya ketika MEA dan TPP diberlakukan. Oleh karena itu, beralasan jika hal ini menjadi warning.

Kekhawatiran itu bukan tidak beralasan sebab kasus asumsi ancaman ACFTA terhadap TPT nasional yaitu karena daya saing industri TPT nasional lebih rendah dibandingkan produk made in Cina. Terkait ini, sejumlah pelaku usaha di sektor TPT pernah berharap pemerintah menunda pemberlakuannya, terutama untuk komoditi TPT. Kekhawatiran ini beralasan sebab pasca ACFTA pasar domestik dibanjiri produk TPT dari Cina yang rata-rata lebih murah 10 persen dibanding produk TPT nasional. Dibalik kekhawatiran ini memang diakui pada 5 tahun terakhir pasar TPT nasional dikepung produk TPT dari Cina. Oleh karena itu, warning ancaman ACFTA harus diwaspadai sebagai tantangan memacu daya saing produk domestik. Realitas ini penting dilakukan bagi pelaku usaha karena persaingan semakin ketat akibat regulasi MEA dan TPP.

Potensi  

Persoalan lain yang juga perlu dicermati ternyata banyak produsen berskala besar yang kini lebih senang beralih profesi dari produsen menjadi pedagang. Fakta ini tidak lain karena mengimpor TPT dari Cina jauh lebih murah dibanding harus memproduksi TPT di dalam negeri yaitu dengan asumsi TPT made in Cina rata-rata lebih murah 10 persen dibandingkan TPT domestik. Hal lain yang juga menjadi ancaman adalah pengenaan upah yang cenderung memicu konflik industrialisasi, padahal TPT merupakan industri padat karya. Logika dari peralihan profesi ini sangat logis sehingga banyak produsen yang terpaksa merumahkan pegawai pada pertengahan tahun 2009 lalu dan berharap bisa secepatnya mengimpor produk TPT made in Cina. Kondisi ini juga diperparah oleh fluktuasi tarif dasar listrik, BBM dan juga pengupahan. Kemudahan impor juga terjadi pada produk pangan sehingga impor pangan cenderung terus meningkat.

Belajar kasus ACFTA, antisipatif pemberlakuan MEA – TPP dan relevansinya dengan daya saing bahwa banyak juga produsen TPT yang kini mengurangi kapasitas produksi. Alasan yang mengemuka didasarkan realita kemampuan daya saing produk TPT made in Cina. Konsekuensi pengurangan kapasitas produksi ini berdampak serius terhadap perampingan pekerja dan ini akan berimbas pada PHK sehingga pengangguran menjadi ancaman serius. Artinya, perlu lebih jeli melihat berbagai persoalan serius terkait sosial – ekonomi, termasuk juga aspek politik - hankam sebab intrik di tahun politik 2019 juga menjadi ancaman. ***

* Dr Edy Purwo Saputro SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo