logo

Kontrasepsi Modern Menurunkan Angka Kelahiran

Kontrasepsi Modern Menurunkan Angka Kelahiran

27 Oktober 2018 11:15 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Haryono Suyono

Minggu lalu BPS bersama BKKBN menggelar suatu pertemuan di Jakarta menjelaskan hasil Survey SDKI 2017 yang diselenggarakan akhir tahun lalu di seluruh Indonesia.

Atas kebaikan Kepala BPS, Dr. Kecuk Suhariyanto,  di bawah ini disajikan ulasan singkat hasil Survey yang secara nasional memiliki jumlah sampel rumah tangga, yang diwawancarai sebanyak 47.963 jiwa.  Seperti diduga sejak diadakan perubahan drastis pendekatan KB sebagai pembangunan keluarga sejahtera mulai tahun 1990.

Gerakan KB Nasional dikembangkan menjadi gerakan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Biarpun pada awal tahun 2000-an terseret kembali seperti keadaannya pada tahun 1970-an, sekarang ternyata terbukti bahwa “kontrasepsi modern".  Yaitu status ringkat pendidkan kaum wanita dan statusnya bekerja di luar rumah, setelah pengetahuan tentang KB dan pelayanan KB tersedia di seluruh tanah air, sebagai “kontrasepsi modern”, bukan Pil atau Spiral saja.

Tap,  pendidikan yang tinggi bagi kaum perempuan dan kesempatan kerja yang sama bagi para ibu muda dan subur. Berbeda dengan keadaannya di tahun 1970-1980-an, alat KB seperti Pil, Spiral, Kondom dan operasi memegang peranan yang sangat penting dan hampir satu – satunya.  Dalam keadaan modern perlindungan kehamilan itu berubah. Secara otomatis ibu-ibu dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan bekerja di luar rumah, secara sadar memperhitungkan dengan lebih rasional,  kapan harus mengandung dan bagaimana melindungi dirinya dari kehamilan yang tidak direncanakan.

Apabila pelayanan kontrasepsi KB tersedia dengan baik, secara sadar pasangan subur melindungi dirinya dengan kontrasepsi modern. Apabila tidak tersedia, pasangan itu akan saling menghindar dari hubungan dengan pasangan masing-masing. Pada hasil SDKI 2018, yang dikeluarkan minggu lalu dengan jelas tergambar bahwa prevalensi pemakaian kontraasepsi selama tiga bulan sebelum survey sampai hari survey,  untuk semua responden dalam sample di seluruh Indonesia adalah 64 persen.

Di antarnya sekitar 57 persen di daerah perkotaan hanya 55 persen di daerah pedesaan, pasangan usia subur memakai alat kontrasepsi yang menurut istilah BKKBN dianggap modern. Pemakaian alat KB modern tersebut relative stabil. Sementara alat KB tradisional cenderung naik. Bahwa “kontrasepsi modern” dalam arti kaum perempuan pendidikannya makin tinggi dan bekerja adalah merupakan perlindungan yang ampuh.  Terbukti  tingkat kelahiran di kota sejak tahun 2007 berada pada posisi 2,3 anak, padahal sejak itu tidak ada tanda-tanda kenaikan prevalensi kontrasepsi KB-nya.

Begitu juga di desa, selama tiga tahun ini terjadi perubahan besar kesempatan kaum perempuan untuk menempuh pendidikan dan bekerja.  Sehingga,  tingkat kelahiran menurun dari 2,8 anak yang bertahan sejak tahun 2007 menukik drastis menjadi 2,6 anak yang cenderung menuju ke 2,5 anak.

Penurunan yang terjadi di desa itu menarik angka kelahiran untuk seluruh Indonesia turun dari tren menanjak 2,5 anak menjadi suatu keadaan tren menurun sebesar 2,4 anak.  Berkat bobot penurunan tingkat kelahiran di desa yang meyakinkan. mungkin akibat terjadinya pembangunan di desa yang mendorong percepatan modernisasi di tingkat desa biarpun pemakaian kontrasepsi modern ala KB di desa relative rendah.

Modernisasi kaum Perempuan dan di Desa Dampak modernisasi di Desa ditangkap dengan baik oleh SDKI 2018. Sejak Survey tahun 2012 sampai tahun ini telah terjadi penurunan kaum perempuan usia 6 tahun atau lebih yang tidak pernah sekolah.  Yaitu dari 10 persen menjadi hanya 7 persen, sedangkan untuk kaum lelaki tinggal 4 persen saja yang tidak pernah sekolah.

Tidak ada perbedaan pada tingkat pendidikan dasar, tetapi pada pendidikan tingkat atas masih ada kesenjangan, yaitu adanya perbedaan tingkat pendidikan kaum perempuan dan kaum lelaki antara 27 persen dan 31 persen, mudah-mudahan perbedaan itu makin menipis. Pada tingkat pendidikan tamat SLTA keadaan latar belakang ringkat pendidikan di desa hanya separo dibanding keadaannya di kota, di desa 11,2 persen dan di kota sudah mencapai 22,2 persen, diharapkan satu dua tahun lagi kemajuan di desa akan mendorong keadaan di desa meloncat makin sama baiknya.

Pada tingkat perguruan tinggi, ketimpangan itu masih jauh, yaitu antara 14,8 persen di kota dan baru sebesar 6,1 persen di daerah pedesaan. Biarpun ada kesenjangan tingkat pendidikan, dalam tiga tahun terakhir ini diimbangi fasilitas kesehatan yang makin baik, misalnya fasilitas air bersih di desa dan kota yang makin baik.

Misalnya, biarpun fasilitas air leiding di desa masih separo dari yang ada di kota, tetapi sumber air bersih yang di kota terpenuhi sebesar 74,2 persen, di desa malah sudah terpenuhi sampai 76,5 persen. Tersedianya air bersih ini diikuti dengan kesediaan listrik yang pada keluarga desa telah mencapai 95,5 persen, kalah sedikit saja dengan ketersediaan untuk kelurga kota yang mencapai 98,8 persen.

Disamping itu, biarpun masih ada kesenjangan dalam bidang pendidikan, tetapi hampir seluruh keluarga atau penduduk Indonesia bisa membaca. Hampir seluruh wanita usia 15-45 tahun, atau 84 persen wanita dan 85 persen pria, bisa membaca.

Yang mengagumkan adalah penggunaan internet. Selama 12 bulan sebelum survey wanita usia 15 – 49 tahun yang menggunakan internet tercatat 77 persen dan pria menikah yang menggunakan internet tercatat sebesar 75 persen, suatu terobosan jaman 4.0 yang luar biasa. “Kontrasepsi modern” jaman ini adalah status wanita bekerja.

Dimana Lebih separo, 53 persen wanita usia 15 – 49 tahun bekerja dan hampir semua pria 15 – 49 tahun atau 98 persen pria bekerja, tidak ada perbedaan di daerah kota atau di daerah desa bagi pria, tetapi bagi wanita di daerah kota tercatat sekitar 55 persen wanita bekerja dan di daerah desa tercatat 52 persen wanita bekerja, inipun jauh dibanding penggunaan pil atau spiral secara langsung sehingga status bekerja “memaksa” kaum perempuan melindungi diri sendiri dari kahamilan biarpun dari suami sendiri.

Karena tingkat pendidikan yang relative rendah maka jenis pekerjaan yang terbanyak adalah dalam bidang tenaga usaha penjualan atau dagang, pekerja industry dan pertanian. pekerjaan manager dan tata usaha relative masih kecil sehingga belum bisa memberikan pengaruh yang besar pada penurunan kelahiran. Lebih dari itu, biarpun makin mengecil pengaruhnya, tempat tinggal desa atau kota ikut memberi pengaruh pada kondisi fertilitas suatu keluarga.

Tetapi pastinya makin hari jenis pekerjaan kaum perempuan di luar rumah dan tingkat pendidikan yang makin tinggi merupakan perlindungan kaum perempuan dari kehamilan yang menghasilkan angka kelahiran rendah, sepanjang tidak sulit mendapatkan Pil KB atau alat KB lainnya. ***

* Prof Dr Haryono Suyono, mantan Menko Kesra/Kepala BKKBN

Editor : Gungde Ariwangsa SH