logo

Tangan Kanan Beberkan Tindak Kejahatan Terdakwa Tedja Widjaja

Tangan Kanan Beberkan Tindak Kejahatan Terdakwa Tedja Widjaja

Bambang Prabowo SH
23 Oktober 2018 19:49 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id -  

JAKARTA: Mantan tangan kanan terdakwa Tedja Widjaja,  Bambang Prabowo SH,  membongkar tindak kejahatan penipuan dan pemalsuan yang dilakukan Tedja Widjaja.  Adik almarhum Prof DR Thomas Noach Peea MM, eks Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (UTA ’45),  membeberkan hal itu dalam surat pernyataan tanggal 22 Oktober 2018.

“Saya mengakui telah memberikan surat-surat yang sebenarnya palsu. Saat itu saya masih bersama dengan almarhum Prof Thomas Noach Peea dan Tedja Widjaja,” ungkap Bambang Prabowo kepada wartawan di Jakarta, Selasa (23/10/2018). Padahal, surat-surat itu merupakan hasil rekayasa atau pemalsuan yang kami lakukan dengan Tedja Widjaja.

Bambang Prabowo SH yang mantan kuasa usaha Tedja Widjaja dan Lindawati Lesmana  (istri Tedja Widjaja) menyebutkan,  dokumen atau surat-surat yang dipalsukan itu antara lain pemecahan PBB – P2 atas nama Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 Jakarta.

Untuk memuluskan persekongkolan jahat yang mereka lakukan,  Bambang Prabowo juga mengungkapkan bahwa dirinya bertemu langsung dengan Kepala UPPRD Tanjung Priok Simon Panjaitan.  Demi rekayasan atau pemalsuan tersebut, Tedja Widjaja dan Bambang Prabowo menawarkan Rp 1 miliar ke Kepala UPPRD Tanjung Priok. “Hal itu terjadi antara September-Oktober 2016,” tutur Bambang Probowo yang mengaku tengah berusaha menawarkan diri sebagai saksi fakta terhadap Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fedrik Adhar SH MH,  yang kini tengah menyidangkan kasus Tedja Widjaja di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara.

Bambang Prabowo mengungkapkan, aksi pemecahan sertifikat tanah pada Kantor BPN Jakarta Utara bisa mereka lakukan  dengan menggunakan akta yayasan palsu, yang dibuat Tedja Widjaja pada seorang notaries di Tangerang Selatan. “Akta yayasan yang dipalsu itu milik Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 Jakarta,” kata Bambang Prabowo.

Dalam surat pernyataan tertulis tersebut,  Bambang Prabowo juga menyebutkan bahwa  kejahatan dan kebohongan yang dilakukan Tedja Widjaja  untuk menghancurkan Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta dan Rudyono Darsono (Ketua Dewan Pembina Yayasan UTA ’45). Bahkan Tedja Widjaja berkeinginan pula merampas atau menguasai sepenuhnya tanah lokasi kampus UTA ’45.

Untuk pembubaran UTA ’45, papar Bambang Prabowo, Tedja Widjaja juga  telah membayar atau menyuap oknum pejabat di Kemenkumham.  “UTA ’45 kan almamater saya, saya tidak mau terlalu jauh Tedja Widjaja bertindak. Selain menghancurkan UTA ’45, merampas tanah lokasi kampus dan juga memenjarakan Rudyono Darsono. Karena itu, saya membuat surat pernyataan ini dengan segala konsekuensinya,” kata Bambang. Sayangnya, dalam surat dakwaan Jaksa Fedrik Adhar SH MH tidak dijeratkan pasal pemalsuan terhadap Tedja Widjaja.

Tedja Widjaja dipersalahkan JPU Fedrik Adhar SH MH telah melakukan serangkaian persekongkolan jahat yaitu penipuan dan penggelapan mengakibatkan Yayasan UTA ’45 mengalami kerugian Rp 60 miliar lebih.

 

Editor : B Sadono Priyo