logo

Diplomasi Olahraga

Diplomasi Olahraga

22 Oktober 2018 00:01 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Asian Para Games 2018 telah resmi ditutup setelah berlangsung 6-13 Oktober 2018 dan Indonesia berada di posisi ke-5 dengan perolehan 37 emas. Terkait ini ada momen yang menarik yaitu tidak saja pasca sukses penyelenggaraan Asian Games pada 18 Agustus – 2 Septmeber 2018 kemarin dan juga bersamaan peringatan Hari Sumpah Pemuda nanti 28 Oktober. Artinya gelora kepemudaan dan semangat juang untuk meraih yang terbaik demi nama harum bangsa menjadi tantangan yang kian berat ditengah persaingan yang semakin ketat.

Setidaknya Asian Para Games kali ini diikuti 42 negara, 3.886 atlet, 568 pertandingan dari 18 cabor. Memang berbeda jika dibandingkan dengan Asian Games namun setidaknya Asian Para Games juga bisa menjadi ajang diplomasi melalui olahraga dan sukses penyelenggaraan Asian Para Games ditengah bencana beruntun serta agenda besar pertemuan IMF – Bank Dunia secara tidak langsung menegaskan tentang iklim sospol dalam negeri yang kondusif.

Indonesia sebagai tuan rumah ketiga setelah Tiongkok (2010) dan Korsel (2014) tentu berkepentingan dengan nilai strategis Asian Para Games yaitu tidak saja dalam aspek ekonomi bisnis, tapi juga sosial politik, apalagi ada momen tahun politik di tahun 2019. Beralasan jika marketing politics memberikan keleluasaan untuk mampu memanfaatkan semua agenda yang ada demi peningkatan persepsian di benak publik. Anggaran Asian Para Games mencapai Rp.1,6 triliun dengan target 17 emas (terlampaui) dan tentu yang tidak kalah penting yaitu janji bonus seperti prestasi Asian Games. Betapa tidak, sukses Asian Games yang mendulang banyak medali telah memacu persaingan sehingga tidak saja menorehkan tinta emas prestasi, tapi juga pencairan bonus yang sangat besar.

Sinkron  

Janji bonus untuk Asian Para Games yaitu medali emas Rp.1,5 miliar, perak Rp.500 juta dan perunggu Rp.250 juta. Gemerlap Asian Para Games juga dibuat semeriah mungkin meski tetap berbeda jika dibanding dengan Asian Games. Terkait ini, maka komitmen untuk memacu geliat olahraga menjadi penting dan diplomasi melalui olah raga harus dimanfaatkan maksimal. Beralasan jika tema Haornas kemarin adalah ‘Ayo Olahraga Bangun Indonesia’. Tema Haornas ini menjadi spirit untuk meneruskan capaian prestasi Asian Games di Asian Para Games ketika Indonesia juga menjadi tuan rumah. Capaian prestasi Asian Para Games juga tidak berbeda jauh dengan hasil Asian Games. Bahkan, sukses Asian Games menjadi rujukan dipilihnya Erik Thohir menjadi Ketua Tim Sukses Kampanye Nasional untuk duet Jokowi – Ma’ruf Amin demi sukses pilpres 2019. Yang pasti ada banyak hal yang dimanfaatkan lewat Asian Para Games, termasuk yang utama adalah bagaimana relevansinya dengan memacu geliat ekonomi bisnis dan ini selaras dengan dukungan diplomasi melalui olahraga. Selain itu, peran penting yang juga tidak bisa diabaikan yaitu geliat ekonomi bisnis dari semua hajatan olahraga dunia.

Sinergi antara ekonomi dan olahraga memang benar adanya karena semua kegiatan olahraga yang berskala nasional dan internasional pasti menjanjikan geliat ekonomi. Hal ini dimungkinkan karena mata rantai kegiatan olahraga itu sendiri sangat kompleks mulai dari souvenir juga kuliner, bahkan nasi goreng dan ayam geprek termasuk kuliner favorit atlet Asian Games kemarin. Beralasan jika acara sebesar World Cup menjanjikan ekonomi-bisnis sangat fantastis. Bahkan, olahraga tinju dan UFC menjanjikan kalkulasi profit yang sangat besar, termasuk misal nilai jual hak siar, setidaknya ini terlihat dari tarung Mc Gregor vs Khabib kemarin. Intinya bagaimana mengemas dan mem-branding olah raga yang menjanjikan daya tarik bagi publik. Selain itu, fenomena sport tourism juga menjadi trend saat ini. Artinya dari sukses Asian Games dan tema Haornas kemarin diharapkan memacu spirit sukses meraih prestasi olahraga, bukan hanya di Asian Para Games tapi juga ajang olahraga berskala internasional lainnya.

Anggaran besar dari kegiatan olahraga berskala nasional – internasional memang tidak sepenuhnya bisa ditutup penyelenggara, baik pemerintah atau otoritas yang berwenang sehingga perlu keterlibatan pihak ke-3, terutama sebagai sponsor, baik sponsor utama atau pendukung dengan klasifikasi dan identifikasi kemanfaatan yang berbeda tentunya. Pendanaan Asian Games 2018 sekitar Rp.8,7 triliun meski kemudian turun lagi menjadi Rp.5,6 triliun dan dengan keterbatasan anggaran APBN maka perlu keterlibatan pihak ke-3 yang terdiri dari swasta dan BUMN sedangkan sumber lain berasal dari penjualan tiket dan penjualan souvenir resmi. Bandingkan dengan pendanaan untuk Asian Para Games yang hanya Rp.1,6 triliun. Meski ada perbedaan yang sangat mencolok tapi hasil akhir dari keduanya tidak jauh berbeda, termasuk prestasi yang kita raih di 5 besar.

Sinergi
 

Pelibatan pihak ketiga pada dasarnya adalah muara geliat ekonomi dari kegiatan olahraga berskala besar karena bagaimanapun juga pihak ketiga yaitu swasta berharap ada imbal balik dari pendanaan yang disokongnya. Imbal balik itu bisa secara langsung atau tidak langsung misalnya dalam bentuk penciptaan persepsian di benak konsumen atau publik sehingga berdampak positif terhadap loyalitas dan niat beralih membeli produk – jasa mereka. Urgensi membangun persepsian ini maka peran sponsor menjadi penting yang harus dilakukan korporasi untuk membangun branding produk – jasanya. Teoritis menegaskan bahwa persepsian positif akan membangun kognisi yang baik sehingga ini akan memperkuat sikap positif sehingga memicu pengaruh berniat menggunakan atau loyal terhadap produk – jasa. Artinya persepsian dari hasil Asian Games dan Asian Para Games mampu menguatkan branding produk – jasa di benak publik dan ini hal penting.

Sinergi antara pelibatan pihak ketiga dan olahraga itu akhirnya menjadikan kepentingan atas terselenggaranya spesial event dan juga spesial sponsor. Hak eksklusif yang dapat diperoleh dari pihak sponsor memungkinkan korporasi menempatkan logo – simbol sebagai identitas branding produk – jasanya di sejumlah titik – tempat strategis selama pelaksanaan acara. Jadi, beralasan jika iklan di ring side tinju bertarif mahal, logo yang terpasang di celana juara tinju profesional lebih mahal dibanding penantang, juga lebih mahal dibanding logo yang terpasang di jubah si juara. Semua atribut yang melingkupi kegiatan olahraga pada dasarnya bisa menjadi nilai jual yang memberikan kemanfaatan kedua pihak yaitu penyelenggara dan sponsor korporasi. Prestasi dari Asian Games dan Asian Para Games menjadi bekal untuk bisa meraih prestasi di bidang olahraga yang lebih tinggi kelasnya agar mendukung diplomasi melalui olahraga dan tentu mendapat bonus yang menggiurkan. Siapa kita? Indonesia. Selamat. ***

* Dr Edy Purwo Saputro SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo